Pendidikan Lingkungan Di Kota Kendari dan Wakatobi

Baktinews, Desember-Januari 2010 Edisi 52/ Halaman 13

Oleh : Indarwati Aminuddin

Bila anda mengajukan pertanyaan tentang apa yang membedakan pendidikan keterampilan lingkungan hidup dengan mata pelajaran lain, pada Asbar (32 th), maka dengan sigap ia akan menjawab, “keterampilan”.  Yah itu bedanya.  Asbar memilih menjadi pendidik dan mengajar sejak tahun 2004 di SMPN 17 Kendari.  Pada tahun 2005, ia mendapat tantangan dari kepala sekolahnya, Milwan dan Focil indonesia-sebuah lembaga yang konsen dengan pendidikan lingkungan hidup-untuk memulai mata pelajaran bermuatan lokal di SMP 17.  sekolah ini memiliki semua hal yang diimpikan ; halaman luas, gedung yang bersih, pepohonan yang menjulang dan tanaman-tanaman rambat ditiap sudutnya.  terpenting ada dua guru yang menyadari bahwa pendidikan lingkungan hidup sudah harus diterapkan dalam sistem pendidikan.

Secara bertahap, sejak tahun 2005 hingga 2006 asbar dan kepala sekolahnya mengikuti belasan workshop dan diskusi-diskusi yang diselenggarakan oleh focil dan disupport WWF-Lestari-CIDA.  Belasan guru lainnya dari berbagai sekolah serta tim dari kantor pendidikan nasional ikut serta.  “Kami membahas mata pelajaran apa yang cocok? lalu kota kita ini akan membangun kearah mana?” katanya.  Ide lain juga keluar dari guru-guru lain, intinya mereka dibutuhkan muatan lokal yang bercerita tentang isu lingkungan ; terjadi dilingkungan sekitar; dan diarahkan untuk mencegah kerusakan atau memulihkannya.

Aspek-aspek ini menjadi kunci dimulainya pembahasan materi muatan lokaluntuk kota Kendari.  Pada saat yang sama diisyaratkan pula bahwa muatan lokal pendidikan lingkungan hidup sebaiknya memiliki jam pelajaran sendiri, tidak terintegrasi, sejalan dengan visi dan misi daerah, ada lokasi budget yang jelas dari pemerintah serta terdapat muatan keterampilan yang bisa mendorong motorik siswa siswi.

“Kami lalu melihat bahwa matei yang diajarkan adalah materi tentang pengelolaan sampah, sumber energi, pemanasan global, tentang taman hutan rakyat dan mangrove.  sedang diwakatobi, semua muatan lokal terkait dengan visi misi daerah yang mengarah pada konservasi laut”, kata Asbar.  Tahap pertama ini, para guru berhasil menyelesaikan silabus dan bahan ajar, termasuk diantaranya panduan pengajaran bagi guru tingkat SD dan SMP.  Proses yang sama juga berlaku bagi guru-guru yang mengajar di Wakatobi. Tahap selanjutnya seluruh materi ajar di sosialisasikan, direview dan akhirnya di uji cobakan di sejumlah sekolah.

Pada tahun-tahun tersebut hanya terdapat 12 sekolah di kota Kendari dan 21 sekolah di Wakatobi yang bersedia mengimplementasikan muatan lokal pendidikan lingkungan hidup.  Surat keputusan Bupati Wakatobi keluar pada tahun 2006, membuat guru-guru pendidikan lingkungan hidup di sana menarik napas lega.  “Akhirnya kami punya pegangan untuk membuat muatan lokal ini benar-benar berjalan,” kata pak Usri, guru di Tomia.

tiga serangkai guru ini, pak Asbar, pak Milwan dan pak Usri bahkan mempromosikan materi lokal mereka pada sejumlah rekan guru dari Sulawesi Utara dan Surabaya saat workshop pendidikan lingkungan hidup dilakukan disana.  “Saya merasa lega, seperti menemukan adanya hal baru yang memotivasi kami untuk membuat alam ini tetap terjaga,” kata pak Usri.

Pak Asbar juga menyimpan semangat yang sama, ia memperbaiki metode ajarnya, mengurangi teori dan memperbanyak pelajaran diluar kelas.  Siswa-siswinya bisa belajar langsung dari alam.  “Ini yang kami sebut keterampilan, mereka bisa berpikir oh ya..ini bagus, ini buruk,”jelasnya.  “Mereka yang paham tentang dampak buruk sampah, menjadi lebih cermat untuk mengurangi angka sampah, bukan lagi berbicara tentang membuang sampahnya, tapi sudah pada tahap berpikir mengkonsumsi sesuatu yang menimbulkan sampah.”

Perjalanan tidak selalu mulus.  Para guru juga menghadapi kendala metode ajar yang tak mudah dilakukan oleh guru-guru lain, belum lagi, tak semua guru pendidikan keterampilan lingkungan hidup mampu mentransfer kemampuannya pada guru-guru lain yang berminat.  “Termasuk budget,” katanya.

Pada tahun 2008, Walikota Kendari mengeluarkan surat keputusan untuk menjadikan muatan lokal ini sebagai muatan yang perlu diterapkan pada 100 sekolah tingkat SD dan 24 tingkat SMP.  “Kami merasa sangat dihargai atas hal ini,” kata Asbar.

Tim kantor Dinas  pendidikan nasional kota kendari juga menawarkan untuk mencetak semua buku-buku muatan lokal yang dibutuhkan para siswa dan guru.  Selesai? belum, karena kini para guru yang tergabung dalam jaringan guru hijau, menyadari bahwa tiap pelajaran perlu diintegrasi, artinya guru lain pun wajib memiliki kemampuan dan kualitas yang sama untuk mendidik generasi muda sadar dan peduli akan lingkungannya.  “Bila bicara soal biologi, maka kita bicara tentang kesatuan alam, demikian halnya fisika atau bahkan agama.  Kami selalu sadari bahwa muatan lokal pendidikan lingkungan hidup tak berdiri sendiri,” kata Pak Usri.

Tim kantor Dinas Pendidikan Nasional Kota Kendari juga menawarkan untuk mencetak semua buku-buku muatan lokal yang dibutuhkan para siswa dan guru.  Selesai? Belum, karena kini para guru yang tergabung dalam jaringan Guru Hijau, menyadari bahwa tiap mata pelajaran perlu diintegrasikan, artinya guru lain pun wajib memiliki kemampuan dan kualitas yang sama untuk mendidik generasi muda sadar dan peduli akan lingkungannya.  “Bila bicara soal biologi, maka kita bicara tentang kesatuan alam, demikian halnya fisika atau bahkan agama.  Kami lalu sadari  bahwa muatan lokal pendidikan lingkungan hidup tak berdiri sendiri,” kata Pak Usri

Mencegah Krisis Pangan dengan Jaga Mutu DAS

 

Mencegah Krisis Pangan dengan Jaga Mutu DAS

“Cuaca sudah tak bisa diperkirakan,” keluh petani di Amonggedo, Konaweha. “Mana kami harus menunggu giliran air memenuhi sawah,”tambahnya. Krisis air tengah melanda warga Konaweha. Debit air turun dari tahun ke tahun, menyebabkan 7 dari 21 mata air kering di Konaweha.  Lahan-lahan sawah yang menerima limpahan air umumnya berada di sekitar sungai, sedang warga yang memiliki lahan jauh harus menunggu giliran atau terburuk, membiarkan lahannya kering. Perubahan iklim yang mengancam ketahanan pangan hanyalah satu penyebab. Daerah Aliran Sungai (DAS)  Konaweha seluas 715,067,81 hektar yang berhulu di Gunung Wiau dan Gunung Nekudu dan bermuara di Kecamatan Pohara juga menjadi penyebab terancamnya ketahanan pangan. DAS yang melintasi wilayah Kolaka Utara, Kolaka, Konawe, Konawe Utara, Konawe Selatan dan Kota Kendari ini mengalami tekanan akibat  sedimentasi 295,92 ton per hektar per tahun. Pembukaan lahan untuk perkebunan yang terus terjadi, pengembangan wilayah otonom dan penambangan pasir berkontribusi besar hilangnya fungsi-fungsi DAS.  Saatnya bertindak menjaga mutu DAS Konaweha.

 

Iklan Kegiatan Menyambut Hari Bumi

Pendidikan Lingkungan Hidup

FOCIL Indonesia merupakan mitra aktif bagi pengembangan program pendidikan lingkungan hidup di Sulawesi Tenggara.

Organisasi ini konsen dengan penyusunan kurikulum lingkungan hidup yang dikelola oleh partner muda kami Amar Makruf, Makruf, bersama jaringan guru lingkungan hidup.

Saat ini kurikulum lingkungan hidup untuk wilayah Kota Kendari dan Wakatobi telah disahkan Pemerintah. Kurikulum lokal pendidikan lingkungan hidup diterapkan di 37 sekolah, 11 di Kota Kendari dan 26 di Wakatobi.

FOCIl Indonesia juga menerbitkan sisipan satu halaman di Kendari Pos yang ditujukan untuk pembaca muda, guru dan praktisi pendidikan lainnya.

Tertarik dengan isu pendidikan lingkungan hidup? Kontak Amar Makruf ; 085241656600 / e-mail : pokea28@yahoo.com

pendidikan-lingkungan-hidup-1.jpgpendidikan-lingkungan-hidup-2.jpgpendidikan-lingkungan-hidup-3.jpg

pendidikan-lingkungan-hidup-4.jpgpendidikan-lingkungan-hidup-5.jpg

edukasi-lingkungan-1.jpgedukasi-lingkungan-2.jpgedukasi-lingkungan-3.jpg