Jaringan Laut Wakatobi

Jaringan Laut Wakatobi merupakan buletin sederhana, 12 halaman dengan cetakan hitam putih. Diterbitkan pertamakali oleh Radio Ngkalo di Wangiwangi, ibukota Wakatobi.

Buletin ini diterbitkan agar sebanyak 48 organisasi rakyat di Wakatobi, terutama kelompok-kelompok nelayan bisa saling mengetahui perkembangan masing-masing kelompok.

“Kadang ada yang ingin tahu, apakah kelompok di Kaledupa bisa menjual ikan dengan harga pantas?” kata Armin, ketua kelompok nelayan Potau tau di Tomia.

Terbitan Jaringan Laut Wakatobi kini dicetak 300 exampler setiap bulannya dan didistribusikan ke empat wilayah kecamatan se Wakatobi.

Isu-isu yang diangkat tak hanya persoalan antar kelompok, tapi juga tentang masalah lain seperti air bersih, krisis energi, transportasi dan pengelolaan lingkungan hidup.

Anda bisa mengontak kami untuk mendapatkan buletin ini.

Bajo Bangkit

Dikelola oleh Kerukunan keluarga Bajo, buletin Bajo Bangkit terbit lima kali dengan isu berbeda. Menariknya, seluruh penulis dari buletin ini adalah etnik Bajo yang hendak menyampaikan ‘ini masalah kami, apakah ada yang bisa membantu memberi jalan keluar?”

Etnik Bajo merupakan kelompok sea gypsi di Sulawesi Tenggara. Jumlah mereka sekitar 350 ribu jiwa, berada diseluruh wilayah pesisir.

Warga Bajo saat ini menghadapi tekanan atas pendidikan yang kurang, kesehatan yang tak memadai, lapangan kerja terbatas bagi mereka yang drop out sekolah dan merawat kearifan lokal mereka terhadap teritori lautnya.

Tiap edisi mengawal isu-isu tersebut, disebar secara gratis ke pelosok perkampungan Bajo dan bahkan hingga ke Banggai-Sulawesi Tengah. Namun, usia buletin ini tak panjang, hanya lima terbitan dan kini tengah digagas kembali untuk diterbitkan.

News Leter Bajo Bangkitnews-leter-bajo-bangkit-2.jpgNews Leter Bajo Bangkit

Papan Informasi

Tentu saja tak semua media komunitas radio maupun buletin mampu menjangkau warga yang dipelosok. Untuk itu, program Strengthening the Outreach and Education Network for Natural Resource Governance in Sulawesi bekerja sama dengan organisasi rakyat atau LSM setempat mendirikan papan informasi atau bilboard dengan pesan-pesan menarik.

Di sudut Kota Kendari misalnya, Anda bisa menemukan pesan bilboard yang menganjurkan stop bom ikan dan jangan cemari laut (pesan disampaikan oleh Yayasan Bahari, didukung WWF-Lestari-CIDA). Dan di sudut pasar kecil Kahedupa, Anda bisa menemukan papan informasi yang ditempeli beragam informasi, baik tentang pengelolaan perikanan hingga penerimaan CPNS. Siapapun bisa mengakses papan informasi itu untuk sekadar menempelkan pesannya atau memperoleh pesan-pesan baru. Tantangan dari papan informasi ini adalah ketersediaan isu-isu baru yang lebih menarik minat warga sekitar.

Kini WWF-Lestari-CIDA sudah mendirikan 5 papan informasi di wilayah luar Teluk Kendari, 4 di Kecamatan Kahedupa, 4 di kecamatan Tomia dan 2 di Kecamatan Wangiwangi. Untuk Bilboard, 2 buah berdiri di Kendari dan 2 di Wangiwangi.

papan-informasi-1.jpgpapan-informasi-2.jpgpapan-informasi-3.jpg

papan-informasi-4.jpgpapan-informasi-5.jpg

Radio Komunitas Talombo

Radio Komunto juga telah melakukan tindakan tepat ketika menyiarkan berita terdamparnya sebuah kapal dengan 11 ABK. Siaran komunitas itu didengar para nelayan yang hendak melaut, sebagian diantara mereka mengatakan akan memberi informasi dan menolong bila di tengah laut bertemu dengan kapal terdampar itu. Dan hasilnya, kapal terdampar itu ditemukan. Seluruh ABK selamat.

“Kami senang sekali bisa menolong mereka, rasanya seperti menolong diri sendiri,” kata Abbas, Ketua Forum organisasi nelayan yang juga penginisiator berdirinya radio komunitas di Tomia itu.

Seperti halnya Kaledupa, Tomia juga harus dijangkau dengan kapal-kapal laut. Wilayah ini memiliki topografi berbukit dan dihalangi perairan yang luas.

Bagi warga yang mendengar radio komunitas, meski seringkali terkendala teknis, namun radio komunitas tak sekadar jadi hiburan dengan lagu dangdutnya, tapi juga memberi kabar-kabar secara cepat.

radio-komunitas-talombo-1.jpgradio-komunitas-talombo-2.jpg

radio-komunitas-talombo-3.jpgradio-komunitas-talombo-4.jpg

Radio Komunitas Vatalollo

Stasiun Radio komunitas Vatalollo berdiri sederhana dengan tiang pemancar yang dua kali rusak terkena angin ribut.

Radio ini berdiri tahun 2006, awalnya diinisasi oleh organisasi rakyat Forum Kahedupa Toudani yang resah dengan minusnya akses informasi dari luar untuk mereka.

Kaledupa merupakan kecamatan kecil dengan jumlah penduduk sekitar 4000 jiwa, warga tersebar di 17 desa dan kelurahan. Tiap desa dihalangi bukit, jalan terjal dan transportasi yang terbatas. Untuk mencapai pulau lainnya, warga menggunakan kapal reguler atau kapal kayu sewaan.

“Kami kadang tak mendengar informasi apapun sampai seseorang datang menyampaikannya,”kata La Beloro, Ketua Forum Kahedupa Toudani.

Pendirian radio dilakukan bertahap dan  mendapat dukungan dari WWF-Lestari-CIDA. Warga Kahedupa dilibatkan dalam pembentukan Dewan Penyiaran Komunitas, tugasnya mengevaluasi siaran dan isi siaran. Jumlah anggota dewan penyiaran komunitas berasal dari berbagai kalangan, nelayan, pegawai negeri, ibu rumahtangga.

Radio Vatalollo hanya menyiar 7 jam sehari, saat listrik menyala malam hari. Suara penyiar di dengar oleh sekitar 500 pemilik radio transistor. Melalui radio komunitas inilah warga mengetahui kabar keluarga mereka yang terkena bencana gempa bumi di wilayah seberang Baubau atau cuaca yang memburuk dan pemerintah melarang perjalanan melalui laut.

Forkani kini tengah menggagas kemungkinan radio siaran siang hari dengan energi alternatif.

radio-komunitas-vatallolo-4.jpgradio-komunitas-vatallolo-2.jpgradio-komunitas-vatallolo-3.jpg

radio-komunitas-vatallolo-1.jpgradio-komunitas-vatallolo-5.jpgradio-komunitas-vatallolo-6.jpg