Petani Kakao dan Mete Gagal Panen

Kendari Pos, Ekonomi & Bisnis 2010-12-11 / Halaman 3

Musim hujan yang terjadi terus menerus di tahun ini, nampaknya membawa dampak kerugian bagi petani khususnya yang bertanam kakao dan jambu mete. Bukan hanya petani, pedagang yang selama ini menampung komoditi itu juga gigit jari lantaran panen gagal.

Ilyas pemilik UD Sinar 99 Kendari misalnya, selaku usaha pengumpul hasil bumi mengatakan, tahun ini pembelian minim. Untuk kakao masih ada walaupun jumlahnya sedikit. Tapi mete nyaris tidak ada. “Saya dapat mete cuma belasan kilogram. Itupun banyak busuknya. Padahal tahun-tahun sebelumnya saat seperti ini, kami bisa memiliki stok puluhan ton,” terangnya sambil menunjukkan gundukan mete yang tidak layak jual.

Untung saja ada kopra sebagai pengganti jambu mete  dan kakao. Kelapa tidak terpengaruh dengan musim hujan. Ratusan  karung kopra yang siap kirim ke Surabaya kemarin pun dijajar di gudang Sinar 99. “Padahal saat ini harga komoditi dunia sedang bagus-bagusnya. Kopra saja yang dahulu satu kilo gram Rp 3 ribu saat ini bisa mencapai enam ribu setiap kilo gram,” papar Ilyas.

Versi Ilyas selagi musim hujan belum surut, komoditi ke dua produk tersebut belum bisa menghasilkan.Dengan begitu suplay komoditi ke luar daerah maupun luar negeri tentunya berkurang. “Tapi melihat cuaca yang mulai membaik, mudah-mudahan tahun 2011 kondisinya berubah,” ujar Ilyas yang diamini rekan lainnya seperti John yang juga mengalami pengalaman serupa.

La Ito, salah seorang petani jambu mete di Muna mengatakan, di daerahnya rata-rata petani tidak panen. Gagalnya panen ini, karena  saat mete berbunga rontok terkena air hujan. “Seharusnya bulan-bulan seperti ini sedang panen banyak, tapi kini tidak ada,” katanya.

Kadis Perkebunan dan Holtikultura Sultra, Ahmad Chaidir mengatakan, bila gagal panen ini bukan hanya terjadi di Sultra, tapi daerah lain di Indonesia juga merasakan hal serupa. “Akibat curah hujan tinggi merata,memang banyak merugikan petani komoditi. Untuk jambu mete memang rata-rata gagal, tapi kalau kakao masih ada walau sedikit,” terang Chaidir tanpa menyebutkan presentase penurunan produksi dibanding tahun lalu karena data belum ada.
Namun Chaidir yakin pada periode berikutnya panen akan bagus, bila melihat kondisi alam yang semakin membaik. Apalagi kegiatan revitalisasi maupun peremajaan kakao melalui program gerakan nasional (Gernas) yang diselenggarakan,  dalam hitungan tahun tentunya akan menunjukkan hasilnya. “Bila hasil dari gernas ini sudah bisa panen, akan tinggi karena  kami di Sultra juga mengadakan program revitalisasi ini cukup banyak,” pungkasnya saat ditemui dalam sebuah acara. (lis/awl)

Advertisements

2 Responses

  1. petani kopi di jawa juga mengalami ha;l serupa kan mas

  2. benar sekali bahwa panen tersebut juga bergantung dengan keadaan alam sekitar, jika alam baik maka panen juga akan semakin baik pula dan menghasilkan!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: