Comextra tak Untungkan Petani Sultra

Kendari Pos, Ekonomi & Bisnis 2010-12-10 / Halaman 3

Produk mete di Sultra cukup besar. Sayang selama ini mete dari Sultra hanya diantar pulaukan ke provinsi lain, yang kemudian diekspor melalui daerah tersebut. Contohnya mete dari Lombe, Buton diantarpulaukan ke Makassar, yang membuat eksportirnya bukan atas nama Sultra.

Kadis Perindag Sultra, Saemu Alwi nampaknya mulai gerah dengan proses tersebut. Saat sosialisasi terkait pengolahan mete yang digelar Kementrian Perindustrian dan mendatangkan investor  pengembang mete, kemarin Saemu mewakili pihak Sultra, mewanti-wanti investor untuk mendirikan pabrik dan mengirim lewat Sultra, tidak diantar pulaukan.

PT Comextra Majora, adalah sebuah pabrik pengolahan  mete yang berpusat di Makassar.  Usahanya di Indonesia sudah  25 tahun dengan mengelola  produk mete dari sejumlah daerah semisal Sulsel, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sultra.  Produknya berupa kacang mete goreng kemasan dan dieksepor ke sejumlah negara  dengan label mete dari Sulsel.

Di Sultra khususnya di Kecamatan Lombe Kabupaten Buton, Comextra sudah bermitra dengan petani mete selama 20 tahun.  Mete produk Buton itu sebelumnya dipasok ke Comextra berbentuk gelondong. Namun enam tahun yang lalu, petani setempat sudah diberdayakan  dengan mengirim mete berkulit ari, sehingga memudahkan perushaaan dalam pengolahannya. “Petani memperoleh nilai tambah sekitar Rp 7 – 10 ribu per kilo gramnya,” papar Jimy, Direktur Utama PT Comextra  dalam acara sosialisasi  tentang produk jambu mete itu.

Mendengar penjelasan Jimy, Kadis Perindag Sultra, Saemu Alwi  berang. Pengganti La Ode Khalifah menganggap Comextra hanya mengumpulkan mete dari Sultra tapi tidak memperhatikan petani dan masyarakat di Lombe. “Dua puluh tahun bukan waktu yang singkat, tentunya sudah berapa banyak mete diserap oleh Comextra, tapi pembelian harga mete  masih murah, kasihan petani. Itu sama sekali tidak berpihak kepada petani,” terang Saemu Alwi dengan nada tinggi dihadapan undangan dan pihak dari Kementrian Perindustrian.

Versi Saemu Alwi, pihaknya sangat mensupport upaya  Comextra  yang sudah mengeskpor mete  dengan proses  berstandar internasional dan diberikan penghargaan oleh sejumlah negara. Namun selayaknya Comextra juga harus memperhatikan daerah penghasil komoditi dimaksud. Selayaknya  perusahaan yang katanya sudah memiliki sejumlah anak perusahaan di beberapa negara itu juga membangun perusahaan di Sultra, sehingga mete yang diekspor Comextra juga berlabel Sultra. ”Yang terpenting hadirnya pabrik di daerah ini, bisa menciptakan lapangan kerja bagi warga Sultra, khususnya di Lombe. Kasihan warga di Lombe dari  dulu hanya begitu terus,  padahal komoditinya sudah dijual kemana-mana dengan harga yang sangat tinggi. Siapa yang menikmati hasilnya orang lain, daerah lain, negara lain. Padahal sudah jelas-jelas di Sultra itu produksi metenya sangat tinggi. Sudah harus dibuat pabrik di Sultra, jangan hanya diantarpulaukan terus. Kasihan petani tidak dapat apa-apa,” tegas Saemu Alwi.

Saat ditemui secara terpisah, Saemu memaparkan bila pihaknya akan terus memperjuangkan pihak petani. Dalam hal  perdagangan komoditi lokal, selama ini petani sudah sangat disengsarakan. Pasalnya proses produksi dan  biaya yang digunakan  tidak sedikit, tapi harga beli sangat minim. Di daerah lain mete bisa dijual dengan harga yang sangat tinggi. Di pasar domestik saja, mete dijual dengan harga yang sangat fantastis. Terlebih di pasar internasional harganya tidak kalah tingginya karena konsumenya adalah orang luar. ”Tapi coba lihat petani di daerah penghasil, mereka hanya menikmati  harga per kilo gram Rp 6 – 8 ribu. Belum lagi kalau sedang musim, pengusaha  maupun tengkulak seenaknya saja memainkan harga. Padahal proses untuk menjadikan mete membutuhkan cost yang tidak sedikit,” urainya.

Sebagai pemilik dan produsen mete, menurut Saemu seharusnya petani kaya, tapi apa yang terjadi,  kehidupan mereka biasa-biasa saja.  Justru penikmat mete adalah mereka  pedagang dan pengusaha perantara  produk tersebut. “Untuk membela petani dan meningkatkan kesejahteraan mereka kita harus tegas,” papar Saemu.

Sebelumnya pihak kementerian perdagagan dan perindustrian juga memaparkan tentang programnya. Mereka juga menyerukan agar terdapat proses industrialiasasi  pada perdagangan mete. Sudah saatnya pengusaha tidak menjual ataupun mengekspor mete dalam bentuk gelondongan.  Alasannya bila diekspor sudah melalui proses pengolahan,  akan memberikan nilai tambah. “Hal tersebutlah yang selalu kami serukan. Proses industrialisasi yang terjadi juga akan menciptakan lapangan kerja,” papar Aritonang dari kementrian perindustrian RI, saat membawakan materi.

Demikian dari kementrian perkebunan mereka juga memaparkan visinya yang sedang gencar meningkatkan produksi melalui program mereka. Diantaranya program revitalisasi maupun peremajaan pohon mete yang sudah tua. (lis/awl)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: