Masjid Al Alam akan merusak Lingkungan

Kendari Ekspres, Kota Kendari 2010-12-06 / Halaman 9

Rencana pembangunan Masjid Al Alam oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara terus mengundang tanggapan dari berbagai elemen.

Sebelumnya, Wakil Ketua DPRD Sultra Muh Endang SSos dan salah satu anggotanya Ir Yani Muluk Menolak pembangunan Masjid Al Alam jika membebani keuangan daerah. Pasalnya, jumlah APBD Sultra tidak begitu besar, sementara masih banyak kegiatan pembabangunan yang lebih prioritas yang harus dilakukan.

Kini, rencana realisasi proyek ratusan miliar itu mengundang tanggapan dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sultra. Walhi lebih tertarik dengan dampak lingkungan yang akan ditimbulkan dari pembangunan masjid tersebut.

“Kami juga bukannya menolak dibangun masjid. Tapi kalau misalnya masjid dibangun lantas merusak yang lain, kan lucu”, ujar Direktur Eksekutif Walhi Sultra, Hartono, pekan lalu.

Hartono memastikan, pembangunan masjid di tengah Teluk Kendari akan membawa petaka bagi pelestarian lingkungan, secara ekosistem, kata dia. Pembangunan masjid di tengah teluk akan merusak akosistem yang ada. Sedimentasi tal bisa dihindarkan dari akibat pembangunan itu. Tidak bisa dibayangkan berapa besar sedimentasi akibat dari pembangunan masjid itu.

Dari sisi proyek, kata Hartono, pembangunan masjid di tengah teluk memang mengutungkan karena menghasilkan uang yang tidak sedikit. Namun, dampaknya sangat luar biasa. Selain merusak ekosistem dan dapat menimbulkan sedimentasi yang begitu besar, pembangunan masjid juga akan menimbulkan dampak sosial.

“Jika memang pemerintah tetap mekasakan untuk membangun masjid di sana, bagaimana dengan nasib para pedagang di pesisir pantai Kendari Beach. Secara otoritas kehidupan mereka akan terganggu. Nda mungkin yang punya kafe Karina atau yang TWT akan mengijinkan para pelanggannya untuk terus menyanyi jika azan sudah dikumandangkan”, katanya.

Hartono mengaku heran dengan pola pikir Pemerintah Provinsi yang memiliki keinginan besar membangun masjid di tengah teluk. Sepengetahuan dia, sebuah masjid dibangun di tengah pemukiman penduduk bukan di tengah laut.

Karena itu, Hartono meminta kepada DPRD Sultra untuk meninjau kembali kelayakan dari pembangunan masjid tersebut. Apalagi dalam pembangunannya akan menhabiskan anggaran ratusan milyar rupiah.

“Kenapa misalnya pemerintah tidak mencari lahan lain yang lebih layak, kenapa harus dipaksakan disana. Apalagi saya dengar-dengar anggaran pembangunannya bersumber dari pihak luar yang besarnya mencapai Rp 800 milyar”, ketus Hartono.

Meskipun anggarannya bersumber dari pihak luar atau bukan dari APBD. Hartono menilai, anggaran itu tetap akan membebani keuangan daerah karena bantuan itu sufatnya utang dan harus dikembalikan.

“Dari mana lagi mau diambilkan kalau bukan dari APBD. Tapi itu soal anggaran itu menjadi tanggung jawab DPRD. Kami hanya ingin melihat dari dampak lingkungannya. Intinya, pembangunan masjid Al Alam di tengah teluk sangat berpotensi akan merusak teluk. Belum ada masjid saja, teluk sudah rusak, dangka. Apalagi akan dibangun masjid, berapa kubik memang tanah akan dibuang disana”, sesalnya. *R4/A/LEX

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: