Peraih Adipura Kencana, Tapi “Langganan” Banjir

Kendari Pos, Bumi Anoa 2010-11-09 / Halaman 5

Predikat Kota Kolaka sebagai peraih adipura, kini diragykan. Tata ruang dan sistem drainase dalam zona publik yang jadi titik pantau panilaian justru menjadi langganan banjir setiap musim penghujan turun. Selain rumah penduduk, kantor pemerintah dan gedung sekolah pun tak luput dari sasaran genangan. Kantor Pelayanan Kependudukan dan KB yang letaknya tak jauh dari Rujab Bupati di jalan pemuda, contohnya. Hampir setiap saat tergenang air. Demikian pula beberapa unit sekolah di sepanjang Wolter Monginsidi Kelurahan Lamokato. Akibatnya proses belajar-mengajar acap kali terganggu akibat banjir tersebut.

Pada akhir pekan lalu, pihak SDN 1 Lamokato terpaksa meliburkan seluruh siswanya untuk mengantisipasi genangan air setinggi lutut orang dewasa. Demikian pula di SDN 2 yang letaknya berhadapan dengan sekolah dasar rintisan bertaraf internasional tersebut, terpaksa memulangkan lebih awal sebagian muridnya. Selain menyebabkan genangan pada ruang kelas belajar di lantai dasar, semua rumah guru di dua sekolah tersebut tak luput dari genangan air bercampur lumpur. “Kalau pun ada kelas yang masih bisa digunakan belajar tiap hari, gurumya tidak bisa mengajar karena konsentrasi terpecah untk menyelamatkan barang-barangnya di rumah”, keluh Dandan Tandiallo, guru SDN 2 Lamokato.

Ditemui terpisah, Kepala SDN 21 lamokato, H Anharudin menuturkan, banjirmemang bukan hal baru bagi sekolah yang dipimpinnya. Dari tahun ke tahun saat musim penghujan, pihaknya selalu direpotkan dengan datangnya banjir. Tahun ini saja, mereka telah dua kali meliburkan siswanya.

“Genangan air bercampur lumpur sampai berjam-jam baru suru. Kalau sudah surut kita masih punya kerjaan baru membersihkan lumpur, malah kalau para guru sudah kewalahan, terpaksa kita melibatkan murid-murid”, katanya. Ditambahkan Anharudi, selain kondisi genangan yang mengganggu proses belajar mengajar, pihaknya meliburkan siswa untuk mengantisipasi kemungkinan buruk seperti cidera pada siswa akibat lantai licin atau bahaya kuman penyakit.

Selain faktor letak, Anharudin juga menunjuk aktivitas penambangan galian C sebagai salah satu faktor pemicu terbesar. Dicontohkannya, usai surut para guru dan siswa bergotong royong membersihkan lumpur. Beberapa orang tua siswa di kedua sekolah tersebut turut angkat bicara. Umumnya mereka berharap pemerintah kabupaten yang dipimpin mereka H. Buhari Matta itu lebih jeli melihat masalah tersebut. “anak kita akhirnya kena imbas. Sekolah yang ada dalam kota saja tidak diperhatikan, bagaimana kondisi di luar kota sana”, celutuk beberapa orang tua siswa yang dimintai tanggapan soal genangan air dengan nada keluh. (zer)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: