Pengerukan Teluk Proyek Bodoh

Kendari Ekspres, Fokus Kota Kendari 2010-11-06 / Halaman 9

Dalam APBD 2010, Pemerintah Kota Kendari memprogramkan pengerukan Teluk Kendari dengan anggaran yang cukup besar sekitar Rp 1,2 milyar, walaupun kemudian program ini gagal total. Menurut pengamat lingkungan dari Unhalu, Safril Kasim SP MES, pengerukan teluk Kendari adalah proyek bodoh.

“Bagaimana mengeruk teluk, sementara sedimentasi tiap hari turun. Bahkan mungkin sedimentasi yang turun lebih banyak dari pada material yang dikeruk. Yang diselesaikan adalah dampak bukan masalah”, kata Safril.

Menurut Pemkot Kendari, gagalnya pengerukan teluk sebenarnya akibat mesin yang tidak sesuai, namun menurut Safril, terlepas dari masalah teknis, sebenarnya dari konsepnya saja sudah salah.

Dijelaskan Safril, masalah Teluk Kendari memang copluted, karena terkait dengan kawasan yang mengelilingi Kota Kendari. Di Teluk Kendari kan bermuaranya sejumlah sungai termasuk sungai besar yang hilirnya ada di Kabupaten Konsel dan Konawe, sehingga harus mengintegrasikan kedua harus pemerintah di dua Kabupaten itu, maka harusnya Pemprov yang lebih proaktif, karena memang Kota Kendari adalah ibukota provinsi.

Disamping itu, kata Safril keberadaan kawasan hutan yang mengelilingi Kota Kendari adalah kewenangan Kementerian Kehutanan. Sehingga harusnya masalah teluk Kendari melibatkan seluruh instansi terkait. “Pemkot tak bisa menanganinya sendiri, apalagi dengan konsep pengerukan”, katanya.

Bagaimana dengan konsep kanalisasi untuk mencegah banjir ? Menurut Safril, pendapat orang mengenai kanalisasi sangat beragam. Kalau orang PU itu pasti mendukung, tapi bagi orang lingkungan khususnya DAS, itu tidak tepat.

“Bagi dominan orang PU, itu adalah salah satu jalan mengatasi, karena berorientasi proyek, dan di zaman sekarang ini para pemimpin daerah lebih senang seperti itu karena namanya proyek fisik sangat jelas angka-angkanya”, ujarnya.

Tapi bagi orang lingkungan, katanya, itu tidak tepat, karena kanalisasi itu manipulasi alam. Padahal mengatasi banjir itu mengatur aliran airnya, tetapi bagaimana mengurangi aliran air permukaan.

Ditegaskan, secara teori banjir itu terjadi karena tingginya aliran air permukaan akibat kecilnya infiltrasi, evaporasi dan evapotranspirasi. Sehingga dari teori ini maka jalan terbaik adalah bukan mengatur aliran airnya melalui kanalisasi, tetapi memperbesar infiltrasi, evaporasi dan evapotransporasi. Caranya dengan mengurangi upayanya dengan mengurangi upaya penutupan tanah dengan beton dan memperbanyak tumbuhan penyerap air.

Menurut Safril, Kanalisasi hanya mengatasi sesaat dan dalam jangka panjang justru jadi bahaya. “Sudah banyak contoh, kalau kanalisasi termasuk di dalamnya pembuatan cakdam itu justru gagal dan membahayakan. Buktinya yang terkahir Situ Gintung di Depok”, katanya. *LEX

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: