WWF-Indonesia Tanda Tangani MoU dengan Pihak SEAFOOD SAVERS

Media Sultra, Lingkungan 2010-10-28 / Halaman 5

WWF-Indonesia menandatangani Nota Kesepahaman dengan dua perusahaan perikanan, sea Delidht, LLC dan U.D. Pulau Mas (SEAFOOD SAVERS), untuk bersama-sama mengupayakan perbaikan industri perikanan melalui praktek-praktek penangkapan dan pengolahan ikan yang lebih ramah lingkungan.

Dr, Efransjah, Direktur Eksekutif WWF-Indonesia, dalam sambutannya mengatakan, selain mengupayakan perbaikan di sektor kebijakan dan pengawasan, WWF juga mendukung pihak korporasi yang memiliki inisiatif positif untuk praktek bisnis sejalan dengan prinsip-prinsip keberlanjutan.

“Kami akan bekerjasama dengan perusahaan yang kami nilai memiliki komitmen dan pemahaman yang baik mengenai konservasi sumber daya perikanan laut Indonesia. Sea Delight dan Pulau Mas mengambil langkah yang sangat tepat dengan bergabung dalam SEAFOOD SAVERS, demi kelanjutan bisnis perikanan jangka panjang”, lanjut Efransjah.

SEAFOOD SAVERS adalah sebuah kelompok dialog dan kerjasama korporasi yang diinisiasi oleh WWF-Indonesia tepat setahun yang lalu (Oktober 2009), yang bertujuan untuk menguatkan dukungan dari sektor industri pada perikanan pengelolaan perikanan laut di Indonesia. Sektor industri adalah salah satu pihak yang paling bisa memberikan pengaruh pada perbaikan sekaligus pada kerusakan lingkungan dan kelangsungan sumber daya alam.

Margareth Meutia, Corporate Campaigner Program Kalautan WWF-Indonesia, menjelaskan, sea delight dan Pulau Mas adalah dua perusahaan yang telah melalui beberapa tahapan awal untuk bergabung dalam SEAFOO SAVERS. WWF telah melakukan uji kelayakan pada kedua perusahaan ini, dan memberikan rekomendasi-rekomendasi untuk memenuhi persyaratan minimum praktek perikanan berkelanjutan seperti yang dituangkan dalam nota kesepahaman tersebut.

Nota Kesepahaman menggariskan empat rekomendasi bagi Sea Delight, LLC yang berbasis di Amerika, yang mengimpor daging tuma yang ditangkap di wilayah perairan selatan Indonesia dan ikan karang (kerapu dan kakap) dari perairan Sulawesi Tengah, mencangkup: a) kepatuhan terhadap regulasi pemerintah dan konvensi internasional mengenai perdagangan satwa dilindungi dan ternacam punah; b) pembuatan kebijakan perusahaan terkait dengan praktik penangkapan merusak dan transshipment; c) pemetaan rantai perdagangan sebagai dasar pengembangan sebagai dasar pengembangan traceability system; d) penghapusan tangkapan sampingan satwa-satwa dilindungi dan ternacam punah.

Sementara UD. Pulau Mas, eksportir ikan karang hidup yang beroperasi di delapan propinsi di Indonesia menerima dua rekomendasi, yaitu : a) pengembangan strategi komunikasi yang mencangkup sejumlah instrument komunikasi guna menyosialisasikan upaya-upaya yang telah dilakukan perusahaan untuk mewujudkan perikanan berkelanjutan, dan; b) memberikan dukungan kepada pemerintah daerah dimana perusahaan beroperasi dalam melakukan pengindentifikasian musim dan sejumlah lokasi pemijahan ikan.

Rekomendasi tersebut merupakan hasil dari penilaian langsung di lapangan yang dilakukan oleh staf WWF-Indonesia. Beberapa elemen yang menjadi objek dalam penilaian tersebut mencakup aktivitas perikanan perusahaan, kesesuaian aktivitas perikanan dengan standar IUU Fishing (Illegal, Unreported) dan kepatuhan terhadap praktik-praktik ramah lingkungan lainnya, seperti pengelolaan limbah B3, efisiensi energi, dan pemilikan atas setifikasi ekolabel. Selain itu, kajian ini juga menyentuh hal-hal diluar isu lingkungan, yaitu mekanisme rantai dagang (chain of custody) dan pembagian keuntungan yang diberlakukan dalam rantai tersebut.

Imam Musthofa Zainuddin, selaku koordinator Nasional Program Perikanan WWF-Indonesia menjelaskan kriteria penilaian yang dibangun oleh Seafood Savers untuk menghasilkanrekomendasi-rekomendasi tersebut didasarkan pada syarat-syarat menimum perikanan yang berkelanjutan, yang berlaku secara internasional, yaitu kepatuhan terhadap regulasi yang mengatur IUU Fishing dan pemberlakuan sistem keterlacakan (traceability) dari sejak ikan ditangkap hingga sampai di tangan konsumen akhir.

Caser Bencosme, Vice President Sae Delight, LLC yang hadir untuk menandatangani langsung Nota Kesepahaman ini menyatakan dirinya dan segenap tim Sea Delight menantikan kerja sama dengan WWF maupun para stakeholders terkait lainnya untuk memenuhi rekomendasi yang digariskan dalam nota kesepahaman “Penandatanganan MoU ini menunjukkan komitmen kami yang nyata terhadap upaya untuk mewujudkan perikanan yang berkelanjutan. Kami melihat langkah ini sebagai investasi jangka panjang guna menjamin keberlanjutan bisnis ini, kepuasan konsumen mengkonsumsi seafood dan kesejahteraan hidup para nelayan yang menggantungkan hidupnya pada sumber daya laut”, jelas Cesar.

Sementara pemilik UD. Pulau Mas, Heru Purnomo berkomentar bahwa proses yang harus dilalui perusahaannya untuk mencapai tahap ini tidaklah mudah. Namun, diakuinya kesulitan yang dihadapinya justru menunjukkan kesungguhan WWF-Indonesia dalam menjalankan program SEAFOOD SAVERS. Lebih lanjut dirinya mengharapkan inisiatif ini dapat diterima oleh pihak pemerintah maupun para pemangku kepentingan lainnyayang terkait. (M/OL-8/MI)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: