Walhi Desak Ada Investigasi

Kompas, Nusantara 2010-10-08 / Halaman 23

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan didesak untuk menginvestigasi penyebab banjir bandang Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, pada 4 Oktober lalu. Bercampurnya lumpur, batang kayu, berikut akar dalam banjir mengindikasikan ada kerusakan hutan.

Hal itu dikatakan Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Berry Nadian Forqan, Kamis (7/10) malam di Jakarta. ”Sudah saatnya Menteri Kehutanan membentuk tim investigasi atau terjun langsung memfoto dari udara,” katanya.

Berry tidak menyalahkan pemerintah yang menumpukan alasan pada cuaca ekstrem. Namun, menurut analisis Walhi, dampak cuaca ekstrem tidak separah banjir di Wasior jika di bagian hulu tidak ada kerentanan. ”Kalau hutan di hulu tidak rusak, paling banter terjadi luapan air, tetapi kali ini banjir disertai akar pohon,” katanya.

Saat ini sulit untuk menelisik penyebab banjir bandang sebab hulu sungai di Pegunungan Wondwoy berjarak 20-30 kilometer dari Wasior. Perjalanan ke hulu harus ditempuh dengan jalan kaki lewat medan terjal dan berlumpur.

Secara terpisah, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menjelaskan, Wasior terletak di bawah Cagar Alam Wondoboi yang memiliki dua danau. Daya dukung lingkungan cagar alam itu menurun akibat perluasan kantor dan perumahan pemerintah daerah yang merambah hutan.

Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan Hadi Daryanto menambahkan, ada dua hak pengusahaan hutan (HPH) di kabupaten itu, PT Wapoga Mutiara Timber seluas 178.800 hektar dan PT Dharma Mukti Persada seluas 110.000 hektar. Surat keputusan Menhut untuk PT Dharma Mukti Persada berakhir 2009 dan tidak diperpanjang.

Banjir di Aceh

Tiga dari 12 kabupaten di Nanggroe Aceh Darussalam merupakan daerah terparah terkena banjir, yaitu Aceh Jaya, Aceh Barat, dan Aceh Selatan.

Data Dinas Sosial Pemerintah Provinsi NAD menyebutkan, puluhan ribu warga di sejumlah kabupaten mengungsi akibat banjir. Namun, data yang dikeluarkan Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) berbeda. ”Rumah mereka hanya terendam sebentar. Sekarang mereka sudah kembali ke rumah,” kata Kepala Pelaksana Harian BPBA Asmadi Syam di Banda Aceh, Kamis.

Kepala Dinas Sosial Provinsi NAD Nasir G dalam pertemuan antara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, dan Sekretaris Daerah belum bisa merinci jumlah pengungsi di tiap kabupaten dan jumlah kerugian material.

Nasir dan Sekretaris Daerah Pemprov NAD Husni Bahri TOB sempat menyatakan, puluhan ribu warga Kabupaten Aceh Singkil mengungsi ke tempat yang aman karena air semakin tinggi.

Namun, hal itu dibantah Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Aceh Singkil Sukri Murni. ”Tak ada yang mengungsi,” ujarnya.

Asmadi menyatakan telah mengingatkan satuan kerja Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota memperbarui data yang akan digunakan sebagai bukti terjadinya bencana kepada pemerintah pusat. Hal ini terkait bantuan dana bencana dari pusat maupun pemprov.

Pemerintah pusat melalui BNPB dan Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat memberikan bantuan bagi korban di dua kabupaten, yaitu Aceh Selatan dan Aceh Barat, senilai Rp 200 juta. Menurut Eko Budiman, Staf Ahli BNPB, dua daerah itu dipilih karena paling parah terpapar banjir.

Di Ende, Nusa Tenggara Timur, permukaan air laut naik dan menerjang delapan rumah yang berjarak sekitar 30-40 meter dari bibir pantai di Kelurahan Tanjung, Kecamatan Ende Selatan, Flores, Nusa Tenggara Timur, Rabu sekitar pukul 22.30 Wita.

Menurut Ahmad Fenga, warga Tanjung, tahun 1992 batas bibir pantai relatif jauh dari rumah warga, berkisar 100 meter lebih. Namun, pascagempa bumi tahun 1992 terjadi perubahan besar, air laut makin naik hingga batas bibir pantai, makin mendekati rumah warga. Jaraknya kini hanya sekitar 30-40 meter.

Sementara itu, cuaca buruk membuat nelayan di Indramayu dan Cirebon, Jabar, menganggur. Mereka kini berlindung dengan singgah di pelabuhan perikanan sepanjang pantai utara. Sebagian dari mereka tetap melaut, tetapi di radius yang sempit karena khawatir tergulung gelombang.(NAR/HAM/MHD/SEM/MKN/NIT)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: