DKI Belum Punya Peta Rawan Bencana dan Gudang Logistik

Kompas, Metropolitan 2010-10-07 / Halaman 26

Provinsi DKI Jakarta membutuhkan peta yang komprehensif menggambarkan kondisi setiap wilayah, seperti ancaman banjir, laju penurunan tanah, serta intrusi air laut di lokasi itu.

Peta yang diharapkan bisa dipublikasikan secara luas di tempat umum itu dimaksudkan untuk menggugah kesadaran kolektif terhadap kondisi lingkungan warga setempat.

Pengamat perkotaan Nirwono Joga, Rabu (6/10), mengatakan, peta kondisi wilayah itu bisa ditempelkan di tempat umum seperti halte, pasar, atau stasiun. Peta itu bisa dibuat parsial per wilayah dan ditempelkan di setiap lokasi.

”Peta itu bisa digunakan juga untuk panduan menyusun Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DKI Jakarta 2010-2030,” kata Nirwono.

Hal senada diungkapkan pengamat perkotaan Yayat Supriyatna. Menurut dia, pemetaan kondisi wilayah harus diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dimengerti masyarakat luas. Akan lebih baik jika dibuat berupa pamflet dengan desain menarik sehingga menarik perhatian kalangan muda.

”Generasi mudalah yang akan beraktivitas di Jakarta pada 10 sampai 20 tahun ke depan. Merekalah yang harus digugah perhatiannya agar paham soal RTRW dan lingkungan tempat tinggalnya,” kata Yayat.

Pemahaman itu, kata Yayat, akan menggugah rasa kedekatan dan memiliki sehingga akan lebih mudah diajak membenahi kawasannya sendiri.

Peta kerawanan di setiap lokasi itu diharapkan bisa mendukung perencanaan kota 20 tahun ke depan.

Sebagai dasar pembuatan peta adalah data kawasan rawan tergenang, kebakaran, macet, dan hal-hal lain yang patut diwaspadai. Data itu sebenarnya telah dimiliki Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan sebagian telah dipublikasikan melalui media massa. Namun, pendekatan publikasi ini masih kurang mengena di hati warga karena tidak semua orang membaca koran atau melihat televisi.

Sementara jika disebarkan di fasilitas umum, diperkirakan lebih banyak warga yang akan memerhatikan peta tersebut.

Tanggap bencana

Secara terpisah, Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Tata Ruang Ahmad Hariadi mengakui ada kebutuhan untuk membuat gudang logistik di wilayah DKI Jakarta. Hal ini penting untuk digunakan bila ada kondisi darurat seperti bencana atau kerusuhan.

”Gudang logistik akan menjamin pasokan logistik untuk warga Jakarta bila jalur transportasi logistik ke Jakarta terputus. Sekarang, Jakarta belum mempunyai gudang itu sehingga bila terjadi sesuatu yang menyebabkan jalur transportasi terputus, akan terjadi kesulitan logistik,” papar Ahmad.

Pasokan logistik yang terhenti ini akan membahayakan terutama karena Jakarta masih menjadi pusat pemerintahan dan pusat ekonomi Indonesia. Logistik yang tersedia itu diharapkan bisa mencukupi kebutuhan hidup warga Jakarta yang kini berjumlah 9,5 juta jiwa selama beberapa hari saat terjadi bencana.

Di sisi lain, Jakarta juga masih rawan bencana seperti banjir, gempa, serta bencana sosial seperti kerusuhan. Jika pasokan logistik kurang, bisa memancing warga melakukan penjarahan. Saat terjadi kerusuhan 1997-1998, pasokan bahan makanan ke Jakarta sempat tersendat selama tiga hari. (ART/NEL)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: