Terobosan Taman Laut Kima Pertama di Indonesia

Kendari Ekspres, Kota Kendari 2010-10-06 / Halaman 9

Toli-toli Clamp Shell Ocean Park Conservation (Konservasi Taman Laut Kima Toli-toli) Kendari, Sultra, merupakan Taman Laut Kima Pertama di Indonesia, karena tidak satupun taman laut di Indonesia yang berkonsentrasi pada konservasi kima dan memiliki kima yang banyak selain di taman laut ini.

Pengelolaan Taman Laut Kima yang telah mendapat rekomendasi area konservasi dari Camat Lalonggasumeeto ini merupakan terobosan fenomenal yang akan beerfungsi sebagai laboratorium Dasar laut untuk kepentingan Pendidikan & Penelitian, Pariwisata, Konservasi, dan Rehabilitasi Tumbuhan Laut, Terumbu Karang, Kerang-kerangan, Binatang Laut, Teripang, Ikan hias, Lobster, dan Aneka Biota Laut lainnya. Lalu bagimana upaya dan hambatan masyarakat setempat dalam melakukan terobosan ini, Hendri Nasaruddin yang mewawancar4ai Habib Budha, salah seorang yang ikut dalam menelusuri taman laut ini.

Eksploitasi hasil laut dan segala biota didalamnya, utamanya ikan untuk konsumsi, ikan hias, aneka bebatuan laut, utamanya batu hias, tumbuhan dasar laut dan terumbu karang, aneka kerang-kerangan, termasauk Kima/Clamp Shell (tridacna), sudah semakin mengkhawatirkan. Eksploitasi berlebihan ini bukan hanya dilakukan oleh nelayan setempat, tetapi juga oleh para pengusaha perikanan demi kepentingan pasar ekspor.

Dengan kegiatan seperti diatas dimana kebutuhan pasar lebih besar dibanding dengan volume produksi, khususnya hasil laut di Indonesia, maka kehancuran biota laut telah berada di pelupuk mata. Terlebih, dengan penggunaan potasium sianida dan bahan peledak untuk memperbanyak hasil tangkapan, telah merusak, bahkan memusnahkan aneka biota laut.

“Kini, kima semakin jarang ditemukan”, ujar salah seorang anggota tim taman laut ini. Irwan Mustakin. “Dari hasil survey dan penyelaman yang kami lakukan, kima hanya berada dikedalaman 10 hingga 20 meter. Yang lebih dangkal karena isinya telah diambil”, jelasnya.

Jika tidak dilakukan konservasi dan rehabilitasi, plus pemberian pengarahan kepada masyarakat yang dipadu dengan penerapan sistem pengelolaan yang jelas, maka bukan hal yang mustahil pada suatu masa dimasa datang, negeri tercinta ini akan kehabisan “isi lautnya” dan akan berbalik dari pengekspor menjadi pengimpor hasil laut dikarenakan langka dan punahnya aneka biota laut.

“Dulu, kami tidak mengenal bius ikan, tetapi setelah pengusaha ikan dari Hongkong membawa bius ini dan mengajarkan cara membius ikan, maka cara pembiusan banyak dilakukan masyarakat. Akibatnya banyak batu dan karang yang mati dan tusak. Pengusaha Hongkong pun telah kembali ke negaranya sambil membwa ratusan hingga ribuan ton ikan hidup hasil pembiusan”, papar Irwan.

“Kita telah dobodohi oleh beberapa pengusaha ikan di negeri tercinta ini yang bekerjasama dengan pengusaha ikan luar negeri, ikan napoleon, sunu, kurapu, lobster, batu hias, aneka tumbuhan laut mereka angkut hidup-hidup dan membudidayakan di negaranya, sedang kita hanya kebagian dampak buruknya” ungkap Irwan. Lelaki setengah baya ini memang pernah bekerja di beberapa perusahaan perikanan asing dan melakukan berbagai cara penangkapan ikan termasuk dengan cara pembiusan, hingga berbagai daerah. Mulai dari Sulawesi, Kalimantan hingga Nusa Tenggara.

“Tetapi semua itu kami lakukan karena kami tidak tau dan para pengusaha luar itu memiliki izin resmi dari pemerintah”, ujarnya. Akibatnya dapat disaksikan saat ini, kerusakan batu dan karang berada dimana, mulai dari bibir pantai hingga ke tengah samudra”, paparnya.

Dan sialnya lagi, praktek tersebut masihberlansung hingga saat ini dan di depan hidung kita. Berbagai jenis ikan, aneka biota laut, termasuk tumbuhan laut dan kima masih tetap dieksploitasi, dengan cara yang sama”, ungkap anggota tim konservasi ini Jubran Bardin.

“Kami khawatir, generasi yang akan datang hanya akan belajar tentang biota laut dari fosil belaka karena habitatnya telah dihancurkan”, tuturnya.

Dengan keprihatinan ini, Irwan Mustakin dan Jibran Bardin, bersama 8 (delapan) orang rekannya dari Desa Nii Tanasa dan Toli-toli, secara suka rela dan dengan fasilitas dan peralatan yang minim melakukan konservasi (survey, penyelaman, pengambilan, pengangkutan, penataan serta pemeliharaan) aneka biota laut, dengan cara mengumpulkan aneka species kerang-kerangan, utamanya Kima. Begitupun dengan tumbuhan laut dan terumbu karang, aneka species bintang laut, teripang, ikan hias, lobster serta biota laut lainnya, yang kemudian ditempatkan dan di tata serta dipelihara secara alami pada kawasan Tubir (tebing laut) dan Rab (puncak gunung laut) sepanjang 4 (empat) kilometer di kawasan 4 (empat) desa, yaitu : Desa Rapambinopaka, Nii Tanasa, Toli-toli dan Wawobungi, dengan pusat konsentrasi pada 6 (enam) Rab di Nii Tanasa – Toli-toli, Kecamatan konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: