Berdayakan Masyarakat di Ekosistem Mangrove

Kendari Pos, 2010-10-06 / Halaman 1

Oleh : Eko Mardiatmo

Empat ekosistem di TNRAW rentan terhadap degradasi populasi. Salah satu penyebabnya ditengarai karena ulah oknum yang tidak bertanggung jawab. Menyikapi itu, TNRAW pun melarang masyarakat untuk tinggal di dalam kawasan. Tapi di ekosistem mangrove, hal itu berbeda karena TNRAW bekerjasama dengan masyarakat untuk melindunginya dari perambah.

Perjalanan menyusuri TNRAW benar-benar melelahkan. Bukan hanya karena lahannya sangat luas, tetapi akses jalan yang mengitari daerah tersebut juga masih memprihatinkan. Dari Kecamatan Andoolo menuju Motaha, tempat ekosistem rawa yang hanya berjarak sekitar 60 kilometer, harus ditempuh sekitar dua setengah jam dengan jalan yang belum diaspal dan penuh lubang.
Mungkin karena itu, La Sifu, salah satu polisi hutan TNRAW, merasa enggan untuk mengantar penulis lagi ke ekosistem rawa. Ya, sedikit mengecewakan karena ekosistem rawa sebenarnya memiliki keragaman spesies yang tinggi dan menarik untuk ditulis. Pasalnya kawasan seluas 12.600 hektar tersebut merupakan habitat aves (burung) yang diperkirakan sebanyak 218 jenis, pisces (ikan) sebanyak 28 jenis dan beberapa hewan lainnya.

Salah satu spesies yang menarik untuk diperhatikan lebih jauh di rawa Aopa adalah burung Wilwo, salah satu jenis burung bangau yang selalu melakukan migrasi. Wilwo temasuk bangau yang langka ditemukan karena sifat migrasinya.

Entah mungkin karena merasa bersalah atau ada alasan lain, La Sifu yang tadinya hanya berdiri disamping motor trailnya, lalu mengajak untuk melihat dari dekat ekosistem mangrove. Katanya di daerah tersebut juga menyajikan beragam spesies dan kehidupan yang cukup kompleks. Beragam aves, pisces dan reptilia seperti buaya dan biawak menjadi penghuni areal tersebut. Sifu juga mengatakan banyak tegakan mangrove yang ukuran diameternya sampai lebih dari satu meter.

Kompleksitas ekosistem mangrove bahkan bisa dibilang melebihi tiga ekosistem lainnya di TNRAW. Penyebabnya, ekosistem seluas 6.173 hektar tersebut bukan hanya dihuni hewan yang harus menyesuaikan diri dengan air payau, tetapi juga dihuni warga. Mereka menggantungkan harapan hidupnya dengan menjadi nelayan di sekitar ekosistem mangrove.

Sebenarnya kebijakan TNRAW tidak membolehkan ada pemukiman warga di dalam kawasan. Karena itu para warga yang mendiami daerah mangrove sempat dikeluarkan dan dilarang untuk tinggal. Tapi kebijakan tersebut ternyata memiliki resiko tersendiri. Setelah pengosongan areal mangrove dari warga, pihak TNRAW menemukan banyak pohon bakau yang ditebang. Dengan jumlah personel dan peralatan yang terbatas, TNRAW kesulitan menangkap para pelaku illegal logging tersebut.

Memang tidak semua aliran sungai di ekositem mangrove ditinggali masyarakat. Dari sembilan sungai, hanya sungai mandu mandula saja yang ditinggali warga. Kemungkinan itu karean sungai mandu mandula lebih besar dibanding sungai lainnya dan memiliki kekayaan spesies yang tinggi.

Untuk mengendalikan penebangan bakau, TNRAW lalu mengizinkan kembali warga yang sempat mendiami daerah tersebut untuk tinggal. Tapi para warga tesebut diberikan tugas tambahan, tidak hanya dilarang merusak ekosistem mangove, tetapi mereka juga dijadikan “intelijen” TNRAW untuk melaporkan tiap tindakan penebangan ilegal mangrove. “Saat ini sekitar 47 kepala keluarga yang mendiami daerah sungai mandu mandula,” ujar Sifu.

Penebangan bakau memang menjadi salah satu kegiatan ilegal yang sering terjadi di ekosistem mangrove. Tapi La Sifu tidak tahu pasti sudah berapa banyak perambah ilegal yang mereka amankan. “Saya hanya ingat pernah kita tangkap basah penebang mangrove,” imbuhnya.

Meski begitu, sebenarnya bukan hanya penebangan ilegal yang menjadi momok karena Sifu menyebutkan buaya muara yang mendiami ekosistem mangrove juga sudah menjadi incaran para pemburu. Untuk yang satu ini, TNRAW juga belum memiliki data pasti berapa banyak jumlah buaya karena belum melakukan sensus. Namun dari pengamatan Sifu, jumlah buaya sudah mencapai puluhan.

Sayangnya sore itu, penulis tidak bisa melihat langsung buaya tersebut. Sifu menyarankan, untuk melihat buaya sebaiknya dilakukan pada malam hari. Memang berisiko, tapi hanya itulah cara yang ia ketahui paling efektif untuk melihat buaya. Saat malam, buaya akan memunculkan sebagian moncongnya dari dalam air sehingga ketika terkena cahaya senter, matanya akan terlihat seperti menyala. “Kalau mau melakukan survey, kita juga lakukan malam karena gampang menghitungnya tinggal hitung matanya saja,” jelas pria paruh baya ini.

Sifu mengatakan buaya muara merupakan salah satu jenis buaya yang bisa tumbuh lebih besar dibandingkan buaya jenis lain. Dalam kondisi terancam, hewan karnivora ini bisa menyerang pengancamnya dengan brutal. Meski demikian, Sifu mengatakan belum ada laporan mengenai warga yang diserang buaya. Menurutnya jika keseimbangan ekosistem bisa dipelihara maka buaya tidak akan menyerang manusia. “Di sini kan banyak makanan, apalagi warga juga tidak pernah menggangu buaya, jadi tidak ada masalah,” ungkapnya. Makanan buaya yang dimaksud Sifu adalah ikan dan hewan-hewan liar lainnya seperti jonga yang sedang menggaram.

Masyarakat yang seluruhnya berprofesi nelayan juga merasa nyaman untuk tinggal di ekosistem mangrove karena jumlah ikan melimpah. Salah satu jenis yang menjadi target penangkapan para mereka adalah kepiting bakau. Dengan menggunakan alat tangkap sederhana yang biasa mereka sebut rakkang, nelayan bisa menangkap kepiting sampai 15 kg perhari. Selain untuk konsumsi, mereka juga menjual kepiting tersebut. Lumayan, setiap kilogram kepiting tersebut mereka jual seharga Rp 20 ribu. “Biasa kita dapat yang dua kilo satu kali naik (satu ekor). Kalau itu harganya kita jual di Kendari sampai seratus ribu,” ujar Udin, salah satu nelayan yang tinggal di ekosistem mangrove.

Data dari TNRAW menyebutkan disekitar luar kawasan TNRAW, sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah bertani, buruh tani dan peternak. Masyarakat nelayan umumnya tinggal di bagian selatan kawasan. Desa-desa di sekitar kawasan TNRAW tercatat setidaknya ada 96 desa dengan jumlah penduduk 90.916 jiwa.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: