Sampah Menumpuk di Tangerang Selatan

Kompas, Metropolitan 2010-10-05 / Halaman 26

Sampah masih tetap menjadi persoalan Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Sejak pemutusan kerja sama yang ditandai dengan penarikan 40 truk armada pengangkut sampah oleh induknya, Kabupaten Tangerang, Januari 2010, hingga Senin (4/10), warga dan pemerintah wilayah pemekaran tersebut kewalahan menangani sampah.

Akibatnya, tumpukan sampah terjadi di sebagian besar pasar tradisional dan sejumlah lahan pembuangan sementara (LPS). Sampah juga tampak dibiarkan berserakan di badan jalan di sejumlah jalan protokol dan jalan lingkungan.

Sejauh pengamatan, sejak sepekan lalu hingga Senin (4/10), sampah masih menumpuk di Pasar Cimanggis, Pamulang. Sampah juga dibiarkan menumpuk di sejumlah titik di pasar tersebut mulai dari arah Pamulang menuju Ciputat. Selain memenuhi trotoar dan badan jalan, sampah dalam tempat penampungan, seperti badan truk sampah, dibiarkan menumpuk begitu saja.

Tumpukan sampah ini tidak hanya menimbulkan bau tak sedap, air lindi (air dari sampah) memenuhi badan jalan, serta lalat dan belatung memenuhi sampah yang sudah membusuk tersebut.

Tumpukan sampah juga ditemukan di Pasar Ciputat. ”Sudah seminggu sampah tak diangkut,” kata Ahmad, pedagang sayuran yang memiliki kios tak jauh dari tumpukan sampah tersebut.

Tumpukan sampah juga terlihat di Jalan Mujair, Lele, dan Rusa Raya. Sampah juga menumpuk di beberapa LPS liar di Jalan Cikini (Jurang Mangu), Nusa Jaya (Bintaro), Kampung Sawah, Pondok Ranji, KH Dewantara (Ciputat), Pondok Kacang (Pondok Aren), dan Jalan Serpong Raya. Serakan sampah terlihat di Jalan Dewi Sartika, Ciputat, sampai sejumlah titik di Jalan Ciputat Raya.

Armada kurang

Pejabat Kepala Dinas Kebersihan, Pertamanan, dan Pemakaman Kota Tangerang Selatan Joko Suryanto mengatakan, sampah yang kembali menumpuk di Kota Tangerang Selatan adalah akibat terbatasnya truk pengangkut.

”Armada yang kita miliki hanya sembilan unit. Armada bantuan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta delapan unit,” kata Joko. Padahal, dalam sehari, warga Tangerang Selatan menghasilkan 80-100 kubik sampah.

”Petugas kebersihan sudah bekerja semaksimal mungkin mengatasi sampah dalam kondisi keterbatasan armada. Akan tetapi, karena produksi sampahnya terlalu banyak, masih ada sampah yang tetap saja tidak terangkut,” kata Joko.

Misalnya, lanjut Joko, sampah di Pasar Ciputat. ”Setiap hari, delapan rit truk yang mengangkut sampah di Pasar Ciputat. Yang membuang sampah di pasar itu bukan hanya pedagang pasar, melainkan juga masyarakat sekitarnya sehingga volume sampahnya terus bertambah banyak,” papar Joko. (PIN)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: