Dari 13.000 Ekor, Kini Populasi Rusa Hanya 1.664 Ekor

Kendari Pos, 2010-10-05/ Halaman 1

Oleh : Eko Mardiatmo

Diantara empat ekosistem di TNRAW, savannah sempat menjadi primadona. Populasi rusa yang lebih dikenal masyarakat dengan nama jonga dulunya sangat banyak di daerah tersebut. Namun kondisi itu berubah karena perburuan yang bermuara pada pembantaian massal.

Sampai sekitar tahun 1996, masih banyak pengendara yang berhati-hati ketika akan melintasi savannah di TNRAW. Bukan karena daerah tersebut membentang luas tanpa perumahan dan terkesan angker, tapi masih banyak rusa yang tiba-tiba menyeberang jalan sehingga seringkali tertabrak. Bayangkan, setidaknya dalam sehari dua sampai tiga ekor rusa mati karena tertabrak.
Di savannah seluas 22.964 hektar tersebut memang merupakan habitat alami bagi lebih dari 13 ribu ekor rusa. Alang-alang muda dan akarnya merupakan makanan favorit hewan bernama latin Cervus timorensis tersebut. Ekosistem savannah yang kompleks karena didukung beberapa aliran sungai sebagai tempat minum semakin memanjakan gerombolan rusa.

Kondisi tersebut bukan sekedar fakta kosong belaka karena diceritakan oleh La Sifu, salah seorang polisi hutan TNRAW yang sudah bertugas sejak 1984. Dengan antusias tinggi ia menggambarkan saking banyaknya populasi rusa yang merumput, masyarakat dengan mudahnya bisa melihat mereka dari jarak jauh. Banyaknya rusa yang tertabrak oleh kendaraan bermotor kata Sifu karena banyak rusa yang menyeberang jalan ke arah ekosistem mangrove untuk meminum air garam.

’’Jonga memang suka menggaram (meminum air garam, red), jadi mereka sering menyeberang dari sini ke sana (sambil menunjuk arah savannah sisi barat ke savannah sisi timur yang berbatasan dengan ekosistem mangrove),’’ ujarnya.

Sebenarnya kebiasaan menggaram rusa juga memiliki resiko mematikan. Buaya muara yang hidup di ekosistem mangrove menjadikan kebiasaan menggaram rusa sebagai kesempatan untuk memangsa mereka. Bersama ular besar seperti pithon, buaya merupakan pemangsa alami rusa. Dalam rantai makanan, tugas buaya dan ular adalah menjaga populasi rusa agar tidak berlebihan.

Sayangnya, sejak tahun 1997, populasi rusa menurun drastis dari padang savannah. Jika sebelumnya sensus TNRAW ditahun 1995 menyebutkan populasi rusa lebih dari 13 ribu ekor atau sekitar 56 ekor per 100 hektar savannah, hasil sensus berikutnya di tahun 2008 menunjukkan populasi rusa menurun hingga 1.664 ekor. Itu berarti dalam 100 hektar kawasan savannah hanya dihuni sekitar tujuh ekor rusa.

Namun bukan karena tertabrak kendaraan bermotor atau dimangsa buaya dan ular penyebab hilangnya populasi rusa dari savannah. La Sifu mengatakan perburuan massal secara berkelompok oleh masyarakat jadi penyebab utama menurunnya populasi rusa. Bagaimana tidak, tiap malam sedikitnya 30 sampai 40 motor hilir mudik dipakai berburu rusa di TNRAW secara berkelompok.

’’Tiap motor kan orangnya berboncengan, jadi sekitar 80 orang tiap malam berburu jonga,’’ ungkap Sifu.

Saking tingginya populasinya di savannah TNRAW, pemburu rusa tidak kesulitan untuk mencari mereka. Apalagi pada saat itu rusa belum memiliki trauma dengan kebisingan. Sehingga selain mengunakan motor, perburuan rusa dilakukan hanya dengan bermodal senter dan parang. Penggunaan senter tersebut merupakan intrik pemburu untuk menaklukkan rusa yang cenderung tenang dan diam ketika matanya dikena cahaya terang dari senter. ’’Jadi rusa itu tinggal digiring saja pakai motor lalu ditebas,’’ bebernya.

Perburuan tersebut semakin menggila sekitar tahun 2000. Bahkan motif perburuannya bukan sekedar karena faktor ekonomi atau untuk mendapatkan daging rusa. Sifu menyebutkan perburuan pada masa itu sudah menjadi dendam pribadi antara masyarakat dengan TNRAW.

Peristiwa tersebut dimulai ketika masyarakat menyerobot masuk ke dalam kawasan TNRAW dan membuat rumah di sekitar savannah sekitar tahun 1998. Jelas saja hal itu dilarang oleh TNRAW, tapi sama sekali tidak digubris. Tapi demi menjaga batas taman nasional, TNRAW bersama tim gabungan yang terdiri dari TNI dan Polri membongkar perumahan ilegal tersebut secara paksa.

Pembongkaran tersebutlah yang menyulut dendam pribadi masyarakat. Sebagai pelampiasannya, masyarakat yang tergusur mulai melakukan pembantaian terhadap rusa. Mereka juga merusak fasilitas berupa empat unit menara pemantau setinggi 16 meter di savannah. ’’Nanti turun dari Brimob baru pembantaian itu selesai,” ungkapnya.

Pembantaian tersebut membuat rusa jadi cenderung trauma dengan manusia dan suara kendaraan. Akibatnya saat ini sangat jarang ditemui rusa yang merumput ataupun menggaram. Gerombolan rusa yang dulunya meramaikan savannah, kini sudah bergerak menjauh ke arah gunung Watumohai untuk menjauhi aksesibilitas masyarakat.

Satu-satunya patokan TNRAW untuk mengetahui aktifitas rusa adalah dengan mengidentifikasi jejak mereka di sekitar savannah. Pemantauan tersebut terutama dilakukan pada daerah bersubstrat lembek seperti pinggiran sungai atau mangrove. Hasil pemantauannya masih ditemukan rusa yang beraktifitas secara berkelompok. Tapi jumlah kelompoknya sudah jauh berkurang dari biasanya 10 ekor perkelompok, kini hanya sekitar tiga sampai empat ekor perkelompok.

Jejak yang ditinggal rusa sering kali bercampur dengan jejak hewan lainnya. Tapi Sifu dan rekan-rekannya mampu membedakan jejak rusa dengan mudah. ’’Kalau jejak jonga mirip jejak babi hutan, tapi jejak jonga ujungnya lebih runcing, kalau babi hutan agak membulat diujungnya. Kalau jejak anoa itu mirip jejak sapi, mirip huruf “D”, tapi lebih kecil dari kaki sapi,” katanya.

Pengenalan terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan rusa memang diperlukan Sifu dan rekannya untuk mengontrol keberadaan rusa. Tapi keahlian tersebut kerap kali juga membantu mereka untuk mengidentifikasi perburuan illegal terhadap rusa. Pasalnya dengan areal savannah seluas 22.964 hektar, tidak akan mampu dipantau secara intensif tiap hari dari perburuan. Sehingga mereka menjaga dengan ketat setiap kendaraan yang melewati gerbang TNRAW.

Ia menceritakan pernah menggagalkan penyelundupan daging rusa yang dicampur dengan daging sapi. “Kita sudah tahu bagaimana itu dagingnya jonga. Biar dicampur dengan daging apa saja, kalau kita sudah cium baunya atau lihat bentuknya, kita sudah bisa pestikan itu daging jonga,’’ jelasnya.

Bahkan mereka juga pernah menggagalkan penyelundupan daging rusa yang dimasukkan ke dalam lemari. “Kita cium bau daging jonga, jadi kita suruh bongkar lemarinya, dan betul ada daging jonga di dalamnya,” imbuh Sifu.

Menurunnya populasi rusa di savannah juga bisa dibuktikan dengan semakin tebalnya vegetasi alang-alang. Jika populasi rusa banyak, vegetasi alang-alang kemungkinan besar tidak akan mencapai tinggi lebih dari satu meter seperti saat ini. Pasalnya alang-alang tersebut pasti dimakan oleh rusa. “Itu memang bukti kalau jonga sudah tingal sedikit di kawasan ini,” tandas Sifu.

Hal tersebut dibenarkan oleh koordinator pengendali ekosistem hutan TNRAW Dwi Putro Sugiarto. Katanya rusa sangat menyukai alang-alang terutama yang muda. Selain itu rusa juga memakan akar alang-alang. Akar alang-alang kata Sugiarto, memiliki zat yang berfungsi seperti obat untuk rusa. “Jadi di alam bebas, meski tidak diberikan suntikan, tapi rusa sudah memiliki antibodi sendiri dengan memakan akar alang-alang,” terangnya.

Kaena populasi rusa yang semakin menurun, saat ini TNRAW mencoba memberikan contoh penangkaran rusa kepada masyarakat. Mereka telah menangkarkan lima ekor rusa dan salah satu betinanya berhasil menghasilkan keturunan. “Ini hanya contoh saja, nanti kita harapkan masyarakat bisa mencontohnya. Nanti kita akan lepaskan kembali ke habitatnya, tapi itu hanya kita lakukan kalau keselamatan rusa itu terjamin,” tuntasnya.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: