Empat Ekosistemnya Tersebar di Empat Kabupaten

Kendari Pos, 2010-10-04 / Halaman 1

Oleh : Eko Mardiatmo

Ekosistem di Taman Nasional Rawa AopaWatumohai (TNRAW) mengalami degradasi. Penurunan populasi dan meningkatnya aksebilitasi masyarakat di areal yang seharusnya terlarang itu, makin mengancam eksistensinya. Apa saja yang masih tertahan di areal seluas 105,194 hekter itu saat ini ?

Bahkan masih banyak masyarakat yang salah mengartikan ketika ditanya arah TNRAW. Beberapa masyarakat di Kecamatan Andoolo misalnya, ketika ditanya, banyak yang menunjuk ke arah Kecamatan Motoha, padahal seharusnya TNRAW terletak di Kecamatan Tinanggea.

Mereka menganggap TNRAW sebagai Rawa Aopa, salah satu ekosistem TNRAW yang bernama Rawa Aopa dan terletak di Kecamatan Motaha. Masyarakat masih mengenal TNRAW sebagai PPA (Pengembangan dan Perlindungan Alam). Memang sebelumnya, daerah tersebut dikelola oleh PPA yang sekarang berubah menjadi Badan Koordinasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Sungguh aneh, sepertinya masyarakat masih belum pernah mengenalnya. Padahal salah satu ruas jalan yang menghubungkan antara Konawe Selatan dengan Bombana membelah areal TNRAW. Tepatnya sejak memasuki pintugerbang dari arah Konsel hingga 24 km sesudahnya di Kecamatan Lantari Jaya Bombana. Areal tersebut merupakan savana (padang rumput luas) yang merupakan salah satu dari empat ekosistem yang dimiliki TNRAW.

Ekosisten savana itu membentang dari batas akhir zonasi hutan bakau di sisi timur TNRAW hingga gunung Watumohai dan Mendoke yang terletak di sisi barat. Savana yang didominasi alang-alang, serta pohon Langgida, agel, lontar, dan tipulu itu membentang seperti karpet hijau seluas 22.964 hekter.

Ekosistem savana merupakan bagian dari Taman Buru (TB) Watumohai. Berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 444/Kpts-II/1989, TB Watumohai digabung bersama Suaka Margasatwa Rawa Aopa menjadi TNRAW. Sebelum penggabungan tersebut, pada tahun 1976 dengan luas 50.000 hekter.

Menurut Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan TNRAW Dwi Putro Sugiarto, ada dua faktor penting yang menjadi pertimbangan areal gunung Watomohai memenuhi syarat untuk dilaksanakan perburuan”, ujarnya.

Sudah puluhan tahun ekosistem savana tumbuh di TNRAW, tapi sekian lama pula daerah tersebut tidak berkembang. Dominasi alang-alang seperti penghambat pertumbuhan jenis tumbuhan lain. Jika diperhatikan dengan seksama, memang hanya di daerah pinggiran aliran sungai saja yang di daerah pinggiran aliran sungai saja yang keanekaragaman tumbuhannya tinggi, sedangkan di daerah terbuka hanya terdapat beberapa pohon agel dan lontar. Hal itu membuat pemerintah setempat mengajukan perubahan fungsi savana pada tahun 2009 karena dianggap tidak produktif lagi.

Tapi menurut Sugi (panggilan akrab Dwi Putro Sugiarto) tingginya dominasi savana bukan menandakan daerah tersebut tidak produktif. Seharusnya ungkap Sugi, ekosistem savana memang seperti itu, tidak tumbuh lebih tinggi lagi dan tidak bisa ditumbuhi tumbuhan lainnya. “Itu sudah maksimal. Kalau datang 10 tahun lagi, padang savana tetap begitu, tidak akan bertambah lagi”, jelasnya.

Ekosistem savana yang dulunya hanya satu kawasan, kini sudah berbelah dua secara permanen dengan dibukanya jalan trans Konsel-Bombana. Bisa jadi kondisi itu mengancam kelangsungannya. Padahal savana masih menyimpan bermacam keunikan kawasan. Misalnya saja, menjadi hunian satwa langka prioritas nasional seperti maleo, kakatua jambul kuning dan anoa daratan rendah.

Savana juga jadi tempat mencari makan rusa. Sedangkan di savana Lanowulu dan Langkowala menjadi tempat jelajah utama monyet hitam khas Sulawesi Tenggara atau yang bernama latin Macaca ochreata. Beberapa jenis elang dilindungi khas Sulawesi juga hidup pada ekosistem ini, salah satunya elang Sulawesi. Selain itu, savana jadi penyanggah yang menahan laju erosi dan endapan lumpur pada muara ekosistem mangrove.

“Rencana tersebut juga mengancam satwa0-satwa langka yang hidup atau memiliki daerah jelajah di savana. Selain itu, perambahan savana juga terjadi untuk tempat tinggal penduduk di Lampopala, Langkadue dan Lapa Lae, memang saat ini sebagian sudah keluar, sedang di Pada Lea semuanya sudah keluar”, ungkap Sugi.

Ironis jika sampai pemerintah serius mengusul perubahan fungsi savana. Usulan tersebut akan mengancam kehidupan nelayan yang memanfaatkan mengrove. Sebabnya savana merupakan hulu sungai yang bermuara di laut yang melintasi ekosistem mangrove. Padahal jumlah masyarakat yang mendiami ekosistem mangrove lumayan banyak dan hanya menggantungkan hidup sebagai nelayan tradisional dengan menangkap udang serta kepiting bakau dan rajungan.

Ekosistem mengrove terletak di bagian selatan kawasan, membentang dari barat ke timur sepanjang 24 km dengan luas 6.173 hekter. Kelimpahannya juga sangat tinggi. Dalam kawasan tersebut, sedikitnya terdapat 27 jenis tumbuhan, yang disominasi Rhizophora mucronata, Avicennia alba dan Bruguiera gymnorrhyza.

Areal mangrove juga menyimpan beragam kekayaan satwa seperti buaya, anoa, babi hutan, berbagai jenis ikan, udang, kepiting bakau, burung,pecuk ular, wilwo dan bangau.

Satu kesyukuran kata Sugi, ekosistem mangrove TNRAW, tergolong masih utuh dan bagus dibandingkan kondisi hutan mangrorove lain di Sulawesi. Ketebalan hutan mangrove dari titik terdalam sampai pantai mencapai 7 km. Di situ dapat dijumpai banyak pohon mangrove berdiameter satu sampai dua meter. Selain itu, mangrove juga menjadi habitat anoa daratan rendah yang merupakan ikon Sultra. Satwa ini tergolong langka dan menjadi satwa prioritas nasional untuk dilindungi.

Sugi menjelaskan, ada empat ekosistem yang menjadi peertimbangan pemerintah pusat meningkatkan status Rawa Aopa dan Watumohai menjadi TNRAW. Keempatnya adalah ekosistem savana, mengrove, rawa, dan pegunungan dataran rendah. Istemewanya, TNRAW betul-betul menggambarkan Sultra. Selain menjadi habitat Anoa dataran rendah yang menjadi simbol Sultra, juga tersebar di empat Kabupaten yakni Konawe Selatan, Bombana, Kolaka dan Konawe.

Ekosisten rawa menempati urutan ke tiga dari sisi luas wilayah. Ekosisten ini terbagi meliputi Rawa Aopa seluas 12.000 hekter dan Rawa Lere di bagian tengah kawasan seluas 600 hekter. Rawa di TNRAW merupakan daerah depresi yang terlatak di antara Pegunungan Mendoke, Motoha dan Makaleleo. Kondisinya selalu tergenang sepanjang tahun, karena menjadi muara beberapa sungai yang ada, sebelum mengalir ke Sungai Konaweha di bagian utara dan Sungai Roraya di bagian selatan kawasan.

Diantaranya ekosistem lainnya, sebenarnya ekosisten inilah yang memiliki nilai tertinggi karena merupakan perwakilan rawa gambut Sulawesi. Bahkan terang Sugi, saat ini Rawa Aopa sedang dalam proses pengusulan pemerintah Indonesia untuk menjadi situs perlindungan lahan basah internasional melalui Konvensi Ramsar.

“Rawa Aopa menjadi tempat hidup berbagai jenis burung air dan satwa migran langka seperti burung Wilwo. Tempat mencari makan masyarakat sekitar Rawa Aopa di Kecamatan Puriala dan Angata, dan yang terpentingsebagai salah satu daerahtangkapan air yang memasok DAS (daerah aliran sungai) Sampara yang menjadi sumber air PDAM KOta Kendari.

Berdasarkan tipenya, Rawa Aopa sebagian besardigolongkan sebagai non-forested peat swamp, atau rawa gambut yang tidak berpohon, tetapi tidak terbuka seluruhnya karena terututup oleh vegetasi rumput totole pada wilayah tertentu. Jenis tumbuhan lainnya yang terdapat dalam jumlah besar adalah teratai merah, totole,uti, holea, wewu dan sagu.

Meski mendapat apresiasi dari pemerintah pusat, tapi daerah tersebut terus mendapatkan tekanan dari lingkungan sekitarnya, beberapa tahun belakangan ini, terjadi penurunan debit air, musim kemarau. TNRAW melihat salah satu penyebabnya karena karena kaminmaraknya illegal logging di daerah hulu. “Bahkan saat ini terjadi penurunan populasi burung air yang dilindungi. Tapi kita tetap melakukan patroli hutan, penyuluhan di desa sekitar, mendirikan papan informasi serta melakukan penelitian”, jelasnya.

Ekosistem terakhir dan terluas di TNRAW adalah ekosistem hutan pegunungan dataran rendah. Ekosisten ini terdapat mulai kawasan datar hingga daerah bergunung dengan tipe vegetasi yang sangat beragam. Tepatnya berada antara Rawa Aopa hingga ke gunung Mendoke, Gunung Watumohai hingga ke bagian kakinya. Selain itu tipe ekosistem ini terdapat pula di sepanjang alur-alur sungai di tengah savana.

Sayangnya ekosistem seluas 64.569 hekter ini terancam  degradasi paling tinggi. Hal itu ditandai dengan banyaknya pembalakan liar di lokasi-lokasi yang berbatasan dengan pemukiman masyarakat seperti SP 1 Kecamatan Lalembuu, Lambandia dan Kecamatan Puriala. Kondisi tersebut diperparah dengan perambahan untuk perkebunan coklat di Lambadia dan Ladongi.

Padahal sebagaimana hutan tropis pada umumnya, hutan dataran rendah di TNRAW juga banyak ditumbuhi jenis rotan, liana, perdu, dan herba. Bahkan areal ini juga menyimpan kayu-kayu incaran utama perambah seperti Kalaero, Kulipapo, Bitti, Kayu nona, Kayu Bayam dan Kalapi. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: