Rencana Penutupan Butuh Data Seismik

Kompas, Lingkungan & Kesehatan 2010-10-02 / Halaman 13

Rencana penghentian semburan lumpur dari areal konsesi PT Lapindo Brantas di Sidoarjo, Jawa Timur, membutuhkan data seismik, data geologis, data geodesi, serta data ilmiah lain. Data seismik juga dibutuhkan untuk memastikan tingkat risiko geologis dari semburan yang volumenya lebih dari 70 juta meter kubik material ini.

Pakar perminyakan Rudi Rubiandini mendesak pemerintah segera melakukan survei seismik. ”Jika ada pihak yang menyatakan semburan lumpur tidak bisa dihentikan, itu spekulatif. Karena, pernyataan itu tidak didasari data seismik. Tidak ada yang tahu seperti apa kondisi di bawah permukaan lokasi semburan dan daerah terdampak. Analisis saya, semburan masih bisa dihentikan. Namun, untuk merencanakan penutupan butuh data seismik,” kata Rudi ketika dihubungi di Bogor, Jumat (1/10).

Dari waktu ke waktu, dampak semburan yang telah memuntahkan 70 juta meter kubik isi perut Bumi ke permukaan Bumi itu semakin meluas. Semburan air dan gelembung terus terjadi di berbagai lokasi, dalam radius 2 kilometer dari pusat semburan.

Hingga kemarin, gelembung gas metana di sekitar bangunan SDN Pejarakan dan TK Dharma Wanita Pejarakan semakin membesar. ”Keadaan murid dan guru memprihatinkan. Pihak BPLS tahu situasi ini, tapi tak berbuat apa-apa,” kata Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Jabon Mohammad Mubasyir.

Kepala Humas BPLS Achmad Zulkarnain beranggapan, kawasan Desa Pejarakan yang masuk peta terdampak telah dinyatakan sebagai wilayah tak layak huni. Oleh karena itu, aktivitas penduduk ataupun belajar-mengajar seharusnya tidak ada.

Lapisan Bumi patah

Rudi menyatakan, berbagai dampak terus muncul dan meluas karena semburan merusak dan mematahkan lapisan-lapisan Bumi. Ia mengingatkan analisis risiko geologis dampak semburan hanya bisa dipastikan dengan data seismik dan survei kondisi bawah permukaan tanah lengkap.

”Analisis risiko geologis, misalnya keamanan penggunaan Jalan Raya Porong atau rel kereta api Surabaya-Malang, cenderung spekulatif jika tidak didasari data kondisi bawah permukaan tanah. Seismik jelas dibutuhkan, tinggal ada atau tidak kemauan dari pemerintah,” kata Rudi.

Terkait hasil tim peneliti Rusia yang diumumkan di Jakarta, Kamis (30/9), Rudi menyatakan, teori semburan disebabkan gempa ditolak para ahli dalam pertemuan American Association of Petroleum Geologist di Afrika Selatan pada 28 Oktober 2008.

”Dalam pertemuan itu, 42 ahli yakin, semburan itu akibat aktivitas pengeboran. Sebanyak 13 ahli menilai penyebabnya adalah gempa dan pengeboran, 16 ahli belum bisa beropini. Hanya tiga ahli percaya semburan itu akibat gempa,” kata Rudi. (ROW/ABK)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: