Petani Ubah Pola Tanam

kompas, Nusantara 2010-10-02 / Halaman 22

Cuaca yang tidak menentu membuat sebagian besar petani di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mengubah pola tanam. Selain mempercepat musim tanam, petani juga beralih ke komoditas lain. Sementara petani di Demak, Jawa Tengah, karena bingung, tetap mengacu pola tanam lama.

Petani di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, memilih komoditas yang lebih tahan air untuk menghindari risiko gagal panen. Wagi (55), petani tembakau di Dusun Kajor Wetan, Selopamioro, Bantul, kali ini menanam kacang tanah. Biasanya ia selalu menanam tembakau saat musim kemarau. ”Saya tidak yakin dengan cuaca. Pada tanam bulan Juli, banyak guyuran hujan yang membuat tembakau busuk. Saya tidak mau gagal lagi, maka saya tanam kacang tanah,” paparnya, Jumat (1/10).

Menurut Wagi, dari sisi ekonomi, sebenarnya lebih menguntungkan menanam tembakau. Namun, kalau cuacanya tak menentu, risikonya besar.

Di Desa Selopamioro ada sekitar 4.200 petani yang menanam tembakau di lahan sekitar 350 hektar. Namun, akibat anomali cuaca, 30 persen petani beralih ke kacang tanah dan jagung.

Petani Semanu, Bantul, Wastono, mempercepat awal musim tanam hingga dua bulan lebih cepat dari biasanya bulan November. Percepatan musim tanam ini juga berdampak tak seragamnya penanaman di ladang tadah hujan Gunung Kidul.

Mujinah, petani Sardonoharjo, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, yang menanam jagung pertengahan Agustus lalu, pasrah jika gagal panen. Hujan terus mengguyur, membuat tanaman jagung membusuk. Sebulan lagi, jika jagung mulai terlihat membusuk, ia menebaskan tanamannya yang hanya bisa laku untuk pakan ternak.

Kris Sunarno (43), petani di Bakalan, Donoharjo, Sleman, yang panen tembakaunya gagal kemungkinan tahun depan menanam tembakau lagi.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Gunung Kidul Supriyadi menyebutkan, pihaknya sudah menyebarkan surat edaran sosialisasi percepatan awal musim tanam sejak pertengahan September.

Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul Edy Suharyanto, peralihan komoditas memang sangat dianjurkan, terutama untuk komoditas yang tidak tahan air, seperti tembakau, kedelai, dan melon. ”Kalau tetap dipaksakan, risiko yang dihadapi petani akan tambah besar,” katanya.

Di Losari dan Gebang, Cirebon, Jawa Barat, petani yang awalnya menanam bawang merah atau cabai dua kali dan padi sekali dalam setahun mengganti pola tanam mereka. Mereka memilih menanam padi hingga dua kali dan bawang merah atau cabai sekali.

Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perkebunan Kabupaten Cirebon Ali Efendi mengakui, luas tanaman padi di daerahnya bertambah dari sekitar 85.000 hektar menjadi 95.000 karena lebih banyak petani yang beralih ke padi.

Petani bingung

Di Kabupaten Demak, sejumlah petani mengaku bingung menghadapi anomali cuaca. Pada musim tanam 2010-2011, mereka bakal tetap mengacu pada pola dan masa tanam lama. Syamsul, petani Desa Cangkringbe, Kecamatan Karanganyar, menyebutkan, petani tidak dapat lagi membaca cuaca sesuai dengan pranata mangsa (penentuan musim).

Terkait dengan serangan hama wereng belakangan ini, petani di Demak meminta pemerintah mengganti bantuan benih untuk memutus mata rantainya. Benih padi hibrida pada musim tanam tahun 2010 dinilai bisa memicu merebaknya hama wereng. Petani berharap bantuan benih untuk musim tanam rendeng ini adalah varietas ciherang yang tahan hama. (WKM/ENY/PRA/HAN/NIT/WHO/HEN/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: