Papua Jadi Incaran

Kompas, Bisnis & Keuangan 2010-10-02 / Halaman 18

Kementerian Kehutanan akan memperkuat pengawasan hutan di Papua dan Papua Barat, dengan menempatkan patroli udara. Hal ini dilakukan karena kawasan hutan di wilayah tersebut, yang masih lestari dan kaya kayu merbau, menjadi incaran para pelaku pembalakan liar.

Hal itu ditegaskan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan Darori saat bertemu Sekretaris Daerah Provinsi Papua Constant Karma di Jayapura, Jumat (1/10).

Hadir dalam pertemuan itu Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan R Iman Santoso, Dirjen Planologi Bambang Soepijanto, Direktur Konservasi Kawasan Sonny Partono, Kepala Pusat Informasi Kehutanan Masyhud, dan Kepala Dinas Kehutanan Papua Marthen Kayoi.

”Kami baru dari China. Kayu merbau khas Papua diperdagangkan di sana. Menteri Kehutanan membuat kesepakatan dengan Pemerintah China menghentikan perdagangan merbau ilegal. Kami akan memperkuat pengawasan di sini,” ujar Darori.

Kementerian Kehutanan menyewa 1.000 jam helikopter untuk berpatroli di kawasan hutan di Indonesia. Papua mendapatkan prioritas karena merupakan salah satu pulau dengan kawasan hutan primer yang kondisinya relatif baik.

Dalam penerbangan Jayapura-Timika tampak vegetasi hutan di sana masih rapat. Kayu merbau, yang bernilai jual tinggi, menjadi tanaman endemik hutan Papua. Harga kayu merbau di pasar domestik saat ini Rp 6,5 juta-Rp 7,5 juta per meter kubik. Di pasar internasional, harganya lebih tinggi.

Kementerian Kehutanan mengapresiasi keseriusan Pemerintah Provinsi Papua menjadi provinsi konservasi. ”Menteri Kehutanan menjadikan Papua sebagai contoh karena komitmen Gubernur Barnabas Suebu mempertahankan 70 persen wilayah Papua sebagai kawasan hutan dalam penyusunan tata ruang,” ujar Darori.

Menanggapi hal itu, Constant berharap pemerintah pusat memberikan perhatian dan dukungan untuk mendorong masyarakat memanfaatkan hasil hutan bukan kayu. Rakyat masih mengandalkan hasil hutan sehingga butuh proses pendampingan agar masyarakat lebih mengoptimalkan hasil hutan bukan kayu, seperti madu, air, ekowisata, dan tanaman obat.

Menurut Darori, Papua bisa mengoptimalkan hasil hutan bukan kayu, seperti getah gaharu. ”China butuh 5.000 ton gaharu setiap tahun. Indonesia baru memasok 200.000 ton,” katanya.

Ancaman pemekaran

Pembalakan liar bukan satu-satunya ancaman bagi kawasan hutan Papua. Pemekaran wilayah juga mengancam kelestarian hutan di pulau tersebut.

Sonny mengungkapkan, 10 kabupaten hasil pemekaran ada di dalam kawasan Taman Nasional Lorentz. Hal serupa terjadi di Suaka Margasatwa Memberano seluas 1,8 juta hektar, yang dimekarkan dari tujuh kabupaten menjadi 11 kabupaten.

”Kami minta pemerintah daerah menata zonasi pengembangan wilayah dengan baik agar tidak merusak kawasan konservasi,” kata Sonny.

Bambang Soepijanto menjelaskan, revisi tata ruang bergantung pada hasil padu serasi. Kawasan konservasi yang terdapat bangunan pemerintahan di dalamnya berpeluang dikeluarkan menjadi areal penggunaan lain. Namun, prosesnya harus mengikuti prosedur yang ada. (HAM)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: