Nelayan Mencari Sumber Nafkah Lain

kompas, Nusantara 2010-10-02 / Halaman 22

Hasil tangkapan laut yang tidak menentu akibat cuaca ekstrem membuat sebagian besar nelayan di Kabupaten Cilacap dan Kota Tegal, Jawa Tengah, sejak enam bulan lalu beralih pekerjaan. Mereka pun menjual barang berharga untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kalau pun ada yang melaut, mereka dibiayai tengkulak ikan.

Sebagian nelayan di dua daerah itu mencari penghasilan lain, seperti mencari kepiting, tukang becak, dan buruh bangunan.

Total jumlah nelayan di Cilacap lebih dari 4.500 orang. Akibat cuaca ekstrem, kini rata-rata setiap hari nelayan setempat hanya mendapatkan hasil tangkapan kurang dari 3 ons atau senilai Rp 20.000. Sementara biaya perbekalan dan bensin untuk satu kali melaut mencapai Rp 100.000 sampai Rp 150.000.

Kasno (53), nelayan di Desa Tegalkamulyan, Kecamatan Cilacap Selatan, terpaksa menjual 14 jaring miliknya untuk menutupi kebutuhan hidup enam bulan ini. Satu jaring laku seharga Rp 150.000 meskipun modal untuk membuatnya Rp 600.000.

”Kepepet untuk makan anak dan istri, mau tidak mau jaring dijual,” katanya, Jumat (1/10). Untuk memenuhi kebutuhan hidup beberapa bulan ke depan, kini Kasno bekerja sebagai kuli bangunan di penampungan pasir besi di desanya dengan upah Rp 40.000 per hari.

Menurut Kemon (45), nelayan di Desa Cilacap Selatan, sekarang hanya sebagian nelayan yang masih dapat melaut karena dibiayai oleh tengkulak ikan di Cilacap. Namun, tenaga melaut sering kali terbuang sia-sia karena hasil tangkapan yang sangat minim.

Darsono (38), nelayan tradisional di Kelurahan Muarareja, Kecamatan Tegal Barat, sejak sepekan lalu memutuskan tidak melaut untuk sementara agar tidak menanggung kerugian yang semakin besar, Menurut istrinya, Darsih (30), untuk menutup kebutuhan keluarga, ia terpaksa berutang di warung milik tetangganya dan akan dibayar kalau suaminya kembali melaut.

Waryono (26), keponakan Darsono, akan mencari alternatif sumber penghasilan dengan mencari kepiting di pinggir laut.

Di Kabupaten Garut, Jawa Barat, tingginya curah hujan belakangan ini umumnya tidak membuat aktivitas nelayan terganggu. Nelayan asal Cikelet, Cep Derwin, mengatakan, nelayan tetap melaut meski cuaca buruk karena ikan sedang banyak.

Camang, nelayan Pamayangsari, Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, menambahkan, selama ini aktivitas nelayan di daerahnya juga normal

Namun, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Ciamis Jeje Wiradinata justru berpendapat lain. Cuaca buruk yang kadang-kadang disertai angin dan gelombang tinggi mengakibatkan nelayan tidak melaut. Dengan jumlah hari melaut yang sedikit, kesempatan nelayan memperoleh penghasilan pun menurun.

Meskipun demikian, kata Jeje, nelayan di pesisir selatan Ciamis, khususnya Pangandaran, terbantu sektor pariwisata. Mereka kerap menjadi pedagang ikan atau pedagang asongan di lokasi wisata. (mdn/wie/adh)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: