Digali, Kawasan Karst Gundul

Kompas, Nusantara 2010-10-02 / Halaman 22

Kawasan perbukitan karst di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, bagian timur kini gundul akibat penggalian pasir dan alih fungsi lahan pertanian. Penggundulan mengakibatkan daerah itu rawan kekeringan setiap kali musim kemarau panjang dan banjir saat puncak musim hujan

Berdasarkan hasil pemantauan sepekan ini hingga Jumat (1/10), sejumlah perbukitan yang awalnya masuk daerah hijau sudah dipapras untuk digali pasirnya. Komunitas Pencinta Lingkungan Petakala Grage memperkirakan luas daerah yang digali lebih dari 200 hektar.

Perbukitan yang kini gersang adalah Bukit Maneungteung (Azimut) di Waled Asem, Kecamatan Waled; Bukit Ciuyah di Desa Ciuyah, Kecamatan Pasaleman; dan Kawasan Gemulung Tonggo di Kecamatan Greged.

Bukit Maneungteung yang enam tahun lalu masih utuh kini tinggal sekitar 30 persen. Para penggali pasir ilegal mengeruk bukit itu serta menyisakan tebing setinggi 50 meter dan memanjang hingga 200 meter.

Meski Pemerintah Kabupaten Cirebon telah menutup lokasi galian pasir itu, hingga kini bukit seluas 6 hektar tersebut tetap terbengkalai tanpa ada reklamasi atau penghijauan kembali. Di Ciuyah, penggalian pasir bahkan masih berlangsung.

Aktivis lingkungan sekian lama memprihatinkan praktik penggalian pasir di daerah itu. Aktivis Petakala Grage, Deddy Madjmoe, mengatakan, penggalian pasir di daerah itu dapat membahayakan warga karena posisinya di atas permukiman. Selain itu, sedimentasi yang ditimbulkan juga membuat Sungai Ciberes dan Sungai Cisanggarung mendangkal.

Di Gemulung Tonggoh pun demikian. Meski sudah ditutup sejak dua tahun lalu, reklamasi dan penghijauan kawasan belum terealisasi sepenuhnya. Meski sudah ada tanaman keras, daerah itu masih terlihat gersang. Lubang-lubang penggalian pasir pun belum diuruk sepenuhnya.

Kerusakan lingkungan itu membuat daerah Cirebon timur selalu mengalami kekeringan setiap musim kemarau panjang. Kekeringan itu dirasakan oleh warga sejak lima tahun lalu.

”Sekarang masih sering hujan, tetapi biasanya begitu bulan September tiba air sudah sulit dan sehari-hari kami terpaksa mandi di Sungai Cisanggarung,” kata Ninih, warga Waled Asem. (NIT)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: