Warga Kaimana Mengungsi ke Bukit

kompas, Nusantara 2010-10-01 / Halaman 23

Warga Kaimana, Provinsi Papua Barat, Kamis (30/9) dini hari, dikejutkan dengan pengumuman potensi tsunami akibat gempa berkekuatan 7,4 skala Richter. Akibatnya, meski tidak terlalu merasakan getaran gempa, warga buru-buru mengungsi ke perbukitan untuk menghindari tsunami.

Warga setempat, Isabela Wisang, mengaku tidak terlalu merasakan getaran gempa. Namun, bersama penduduk lain ia mengungsi ke bukit di Kilometer 14. Ketika dirasa aman, sekitar pukul 10.00 warga turun untuk beraktivitas seperti biasa.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat, gempa 7,4 skala Richter (SR) terjadi pukul 02.10 WIT di kedalaman 25 kilometer pada jarak 141 kilometer sebelah tenggara Kaimana.

Hingga Kamis sore terjadi enam kali gempa di Kaimana. Setelah yang pertama, pukul 02.58 kembali terjadi gempa 5,3 SR di kedalaman 10 kilometer di jarak 119 kilometer tenggara Kaimana. Pukul 03.01 terjadi gempa 5,2 SR di kedalaman 108 kilometer pada jarak 90 kilometer tenggara Kaimana. Pukul 06.03 kembali gempa sebesar 5,2 SR di kedalaman 10 kilometer di 128 kilometer barat daya Kaimana.

Pukul 11.11, gempa 5,8 SR terjadi di kedalaman 50 kilometer pada jarak 141 kilometer tenggara Kaimana. Pukul 14.39, gempa 5,5 SR terjadi di kedalaman 10 kilometer di 126 kilometer barat daya Kaimana.

Kepala Bidang Data dan Informasi BMG Wilayah V Papua Daryono mengatakan, pengumuman potensi gempa telah dicabut.

Kepala Bidang Humas Polda Papua Komisaris Besar Wachyono mengatakan, tidak ada kerusakan akibat gempa Kaimana. ”Aktivitas masyarakat sudah normal, listrik sudah hidup, tidak ada korban,” katanya. Kepolisian masih menunggu laporan kondisi di beberapa daerah pedalaman yang terkendala alat komunikasi.

Sementara itu, pukul 12.45, warga Manokwari dikagetkan dengan gempa berkekuatan 5,6 SR di kedalaman 17 kilometer pada jarak 80 kilometer barat laut Manokwari.

Saat itu Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak, Wakil Menteri Pendidikan Fasli Djalal, Kepala Badan Intelijen Negara Sutanto, serta Staf Khusus Presiden Bidang Otonomi Daerah Velix Wanggai sedang makan siang di Valeria Garden, Kediaman Gubernur Papua Barat.

Velix Wanggai mengaku tidak merasakan getaran gempa.

Banyak persoalan

Selama tahap rekonstruksi dan rehabilitasi gempa Sumatera Barat masih ada lebih dari 100 sekolah (SD-SMP-SMA) yang belum diperbaiki karena keterbatasan dana.

Hal itu dinyatakan Wali Kota Padang Fauzi Bahar dalam peringatan setahun terjadinya bencana gempa bumi dan peresmian monumen gempa bumi 2009 di Taman Melati Kota Padang, Kamis. Peringatan dihadiri ribuan warga Kota Padang dan sekitarnya. Turut hadir dalam kegiatan itu Wakil Gubernur Sumatera Barat Muslim Kasim, para duta besar dari negara sahabat, dan perwakilan lembaga nonpemerintah yang bergerak di bidang penanganan bencana.

Koordinator Posko Pengaduan Penyelewengan Dana Bantuan Gempa 2009, Ardisal, mengatakan, sejumlah persoalan masih terjadi, seperti pemotongan dana bantuan dan masalah di seputar kinerja fasilitator dalam tahap rehabilitasi dan rekonstruksi setelah gempa. (ICH/BUR/ONI/INK)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: