Mereka Masih Tinggal di Tenda

Kompas, Nusantara 2010-10-01 / Halaman 23

Nurdeli (35) dengan bersemangat menunjukkan tenda darurat berbentuk kubah warna putih di Korong Muaro, Nagari Kurai Taji, Kecamatan Nan Sabaris, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Minggu (26/9). Tenda bantuan dari organisasi pemulihan korban bencana Shelter Box dan Rotary International itu berdiri di atas lahan seluas 0,20 hektar milik seorang warga.

Sebelumnya, di lahan itu berdiri tak kurang dari 11 tenda. Saat ini tersisa enam tenda, dua di antaranya masih dihuni. Tenda-tenda lain sudah dibongkar karena rusak.

Bersama suaminya, Arman (39), dan anak mereka, Sadri (6) dan Rizki (3,5), Nurdeli masih bertahan di tenda. Anak tertuanya, Erlina Deliyanti (15), mengungsi ke rumah kerabatnya di Pekanbaru, Riau, karena trauma terhadap gempa.

Nurdeli menuturkan, Erlina yang sebelum gempa duduk di bangku kelas 1 SMP kini putus sekolah karena ketiadaan biaya. Erlina tinggal di Pekanbaru untuk membantu apa saja yang bisa dikerjakan di tempat kerabatnya karena masih trauma dan tidak sanggup tinggal di tenda rusak. ”Tenda ini rusak, kalau hujan bocor. Anak saya sering pilek,” katanya.

Tenda berisi selembar kasur tipis itu terpaksa menjadi tempat tinggal Nurdeli sekeluarga karena rumah tinggal mereka rusak akibat gempa dan tidak lagi layak huni. Nurdeli hanya berani masuk rumahnya pada siang hari.

Nurdeli yang bekerja sebagai penyortir cabai di Pasar Kota Pariaman mengaku tak mampu memperbaiki rumahnya. Apalagi, suaminya bekerja serabutan dengan penghasilan tidak tetap.

Mereka terpaksa tinggal dalam tenda yang sudah compang-camping itu. Tenda-tenda itu didirikan November 2009, dua bulan setelah para pengungsi tinggal di bawah terpal.

Kata Elizarti (46), sekitar tiga bulan setelah berdiri, sebagian tenda mulai rusak. Kombinasi cuaca panas dan hujan yang ekstrem membuat kerusakan tenda semakin cepat.

Menurut dia, bulan Ramadhan lalu, seorang lanjut usia penghuni tenda bernama Basri (70) meninggal dunia. Warga menduga meninggalnya Basri terkait dengan penyakit yang dideritanya karena tinggal di tenda yang relatif terbuka.

Untuk mendapat bantuan tenda bukan soal yang mudah. Bahkan, warga harus menjemput sendiri ke Bandara Internasional Minangkabau.

Mufadri (55) adalah seorang warga yang harus menjemput langsung bantuan. Pernah saat mengambil bantuan, ban sepeda motornya bocor. Terpaksa ia mengganti ban seharga puluhan ribu rupiah.

Salah satu lembaga kemanusiaan sempat menipu warga. ”Kami disuruh pasang tiga bendera mereka dan dijanjikan akan diberi tenda dan bantuan. Ternyata tenda dan bantuan tidak pernah datang. Bahkan, membuat lembaga lain membatalkan niatnya untuk membantu karena merasa sudah ada lembaga yang membantu. Akhirnya bendera kami cabut,” katanya.

Kini tinggallah pengungsi itu bertahan dengan fasilitas seadanya, menunggu bantuan untuk memperbaiki rumahnya. (INKI RINALDI)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: