Tebing di Kadupeusing Longsor Menutup Jalan Kampung

Kompas, Metropolitan 2010-09-28 / Halaman 26

Hujan deras yang mengguyur sejak sore mengakibatkan tebing di Kampung Kadupeusing, Kelurahan Kabayan, Kecamatan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang, Banten, longsor pada Minggu (26/9) petang.

Material tebing yang longsor tersebut menutup seluruh badan jalan di bawahnya. Akibatnya, ratusan warga Kampung Kadupeusing terisolasi semalaman. Namun, tidak ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa tersebut.

Berdasar pantauan, hingga Senin (27/9) warga dibantu para santri di pesantren setempat masih bergotong royong untuk memindahkan timbunan tanah yang longsor ke badan jalan. Ketinggian tebing yang longsor sekitar 7 meter di atas jalan, dengan panjang garis longsoran sekitar 20 meter.

Momon, seorang pemilik warung yang tinggal di seberang jalan yang tertutup longsoran itu, mengatakan, kejadian longsornya tebing terjadi sekitar pukul 17.30. Pada saat kejadian, wilayah Pandeglang diguyur hujan deras.

Diiringi suara geseran tanah, tebing yang menjulang di tepian jalan tersebut pun longsor dan menutup jalan di dekat gapura masuk ke Kampung Kadupeusing. Akibatnya, mobil maupun sepeda motor milik warga pun selama semalam tidak dapat masuk maupun keluar kampung.

”Kami semalam juga enggak bisa nyenyak tidur karena takut pohon yang ada di tebing roboh menimpa rumah,” kata Momon.

Pada Senin pagi, beberapa pohon di tepian tebing yang longsor ditebang supaya tidak menimpa rumah-rumah di bawahnya apabila terjadi longsor susulan.

Bisa dilewati

Menjelang siang, sepeda motor pun sudah dapat melintas di ruas yang mulai dibersihkan warga dari tumpukan tanah longsor. Tidak lama kemudian, kendaraan roda empat pun dapat lewat ketika tanah dan tumpukan batang kayu yang menumpuk di jalan tersebut sudah dibersihkan warga.

Husen, warga lainnya, mengungkapkan, kejadian longsor tebing di kampungnya ini jarang terjadi.

”Seingat saya baru kali ini, mungkin karena hujan gede kemarin. Hampir tiap hari, habis zuhur, hujan turun di Pandeglang,” katanya.

Waspada

Prakirawan Stasiun Meteorologi Serang, Eko Widyantoro, mengimbau warga, terutama yang tinggal di daerah perbukitan seperti Lebak dan Pandeglang, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya bencana tanah longsor.

”Pada musim pancaroba dari kemarau ke hujan seperti ini peluang hujan cukup tinggi, apalagi kemarau tahun ini pun sifatnya juga banyak hujan. Daerah bertopografi pegunungan dengan tanahnya yang relatif gembur dapat longsor apabila terjadi hujan deras terus-menerus,” kata Eko.

Tibanya masa peralihan atau pancaroba terlihat dari beberapa gejala, di antaranya arah angin yang mulai berubah-ubah. Pada musim kemarau, arah angin dominan adalah dari timur dan tenggara.

Belakangan ini, lanjut Eko, arah angin yang bertiup mulai berubah-ubah, termasuk dari selatan, barat daya, dan barat. Pada musim hujan nanti, yang diperkirakan akan mulai terjadi pada dekade ketiga atau pada sepuluh hari terakhir bulan November, arah angin dominan dari barat.

Gejala lain dari tibanya masa pancaroba adalah kerapnya hujan yang turun pada malam hingga pagi hari. Hujan seperti ini menandakan bahwa yang berpengaruh bukan lagi faktor pemanasan lokal, melainkan sudah faktor cuaca global menjelang peralihan musim.

Pada masa pancaroba ini warga juga tetap diimbau untuk mewaspadai terjadinya petir dan angin puting beliung. Ini karena pada masa pancaroba peluang terbentuknya awan cumulonimbus yang dapat mendorong terjadinya puting beliung juga besar. (CAS)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: