Petani Menuntut Ganti Rugi

Kompas, Nusantara 2010-09-28 / Halaman 22

Puluhan petani bersama sejumlah aktivis Serikat Petani Karawang, Senin (27/9), mendatangi Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Karawang, Jawa Barat, untuk menuntut ganti rugi kegagalan panen akibat serangan hama. Mereka meminta pemerintah membayar kerugian petani dan serius menjalankan program pertanian.

Massa petani, antara lain dari Kecamatan Cilamaya Wetan, Cilamaya Kulon, Pakisjaya, dan Pangkalan, membawa contoh rumpun padi yang kering akibat diserang wereng. Mereka umumnya petani yang memiliki lahan kurang dari 1 hektar dan petani penggarap yang menyewa lahan dan menanam padi dengan sistem bagi hasil.

Kholik (42), petani Desa Cikalong, Cilamaya Wetan, mengatakan, tanaman padi miliknya berumur lebih dari 100 hari dan memasuki masa panen pekan depan. Namun, sebagian besar dari 1 hektar tanaman padinya rusak terserang wereng batang coklat. Batang serta daunnya mengering dan bulir padi hampa. ”Biasanya bisa panen 5-6 ton gabah kering panen (GKP) per hektar, tetapi sekarang 2 kuintal pun saya tidak yakin. Banyak yang rusak karena wereng. Padahal, modal sudah keluar lebih dari Rp 4 juta.”

Ketua Bidang Kajian Serikat Petani Karawang (Sepetak) Engkos Koswara menambahkan, kegagalan petani tidak semata karena faktor cuaca, tetapi juga akibat lemahnya kinerja penyuluh dan aparat pertanian di lapangan. Pemerintah seharusnya lebih serius membantu petani.

Ketua Sepetak Deden Sofian menyebutkan, kegagalan panen tak hanya mengancam ketahanan pangan, tetapi juga mengancam kehidupan petani dan buruh tani. Tidak sedikit petani jatuh sakit, trauma, dan menanggung utang.

Ubah pola tanam

Serangan hama padi di Kabupaten Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga, dan Cilacap pun semakin beragam. Serangan tidak lagi didominasi salah satu organisme, tetapi muncul beberapa organisme secara bersamaan dan cukup luas.

Kepala Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Dinas Pertanian dan Holtikultura Jateng Wilayah Banyumas Tri Gunawan, Senin, mengatakan, curah hujan yang tinggi menyebabkan kelembaban udara tinggi. Kondisi ini membuat perkembangbiakan hama semakin meningkat.

Cuaca yang tak menentu juga membuat tanaman palawija dan buah-buahan seluas 2.451 hektar di tujuh kecamatan di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, dipastikan gagal panen. Tanaman tak dapat lagi diselamatkan karena terus-menerus tergenang air akibat hujan yang tinggi.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Kehutanan Purworejo Eko Anang Sofyan W mengatakan, tanaman di areal seluas 2.451 hektar itu busuk di batang, daun, buah, dan akar.

Bupati Temanggung Hasyim Affandi secara terpisah mengatakan, cuaca sekarang ini sungguh membingungkan. Namun, dia mengimbau kepada petani agar tetap menanam palawija.

Rendemen tebu rendah

Sementara di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, produktivitas lahan tebu yang tinggi tidak dibarengi tingginya rendemen. Menurut Ketua Kelompok Tani Bina Mitra Paya Bekung, Desa Hamparan Perak, Deli Serdang, Lalbir Sigh, Senin, rendemen di dua pabrik gula yang ada di provinsi itu di bawah 6 persen, bahkan pernah 4 persen. Dari 1 ton tebu hanya dapat dihasilkan 60 kg gula, bahkan kurang.

”Karena rendemennya rendah, banyak petani yang beralih dari tebu yang masa tanamnya delapan bulan ke pepaya yang hanya empat bulan,” kata Lalbir. (MKN/MDN/EGI/THT/MHF)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: