Hujan di Atas Normal, Genangan Meluas

Kompas, Metropolitan 2010-09-28 / Halaman 26

Hujan deras yang turun di Jakarta, Senin (27/9) sejak siang hingga sore, menyebabkan genangan air di sejumlah tempat. Banjir juga terjadi di beberapa kawasan, khususnya di Jakarta bagian selatan. Kondisi ini menyebabkan aktivitas warga terganggu, lalu lintas pun macet.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam situs web resminya menyatakan, hujan turun deras di atas normal rata-rata di sebagian kawasan Indonesia termasuk Jakarta dan sekitarnya. Curah hujan di atas normal, yaitu lebih dari 150 milimeter per hari

Kepala Subbidang Informasi Meteorologi BMKG Hary Tirto Djatmiko kepada media massa, Senin pagi, mengatakan, Pulau Jawa, termasuk di dalamnya Jabodetabek, akan memasuki musim hujan, awal Oktober nanti. Namun, selama musim kemarau dan pancaroba ini, yang terjadi adalah kemarau yang terlalu basah karena banyaknya turun hujan akibat pengaruh fenomena global El Nino/La Nina. Pada Agustus-September 2010 ini, diprediksi La Nina moderat. Pada Oktober 2010-Januari 2011 nanti, berupa La Nina kuat.

Dampak nyata tingginya intensitas hujan di Jakarta, yaitu mudahnya muncul genangan dan terus cenderung meluas. Hingga Senin malam, genangan 10-50 sentimeter terjadi di Ciledug Raya, Kebayoran Lama, Pakubuwono, Gandaria, Mampang, TB Simatupang, Srengseng, Palmerah, dan Jalan S Parman.

Secara keseluruhan, sesuai data Dinas Pekerjaan Umum DKI, terdapat 106 lokasi rawan genangan di Jakarta.

Yani (45), warga RT 10 RW 4, Gang Poncol X, Kelurahan Kuningan Barat, Mampang Prapatan, mengatakan, hujan yang turun siang kemarin menyebabkan Kali Krukut meluap. Akibatnya, puluhan rumah tergenang air setinggi 20 sentimeter, sementara jalan di tepian kali tersebut dipenuhi air setinggi 10 sentimeter. Semakin malam, ketinggian air pun makin naik.

Sementara di kawasan Petogogan, Jalan Pulo Raya, dan Kemang, air membanjiri rumah warga dan kompleks sekolah Tarakanita. Di kawasan Kebagusan, Pasar Minggu, dilaporkan 12 RT kebanjiran dan sebuah rumah nyaris roboh karena bagian belakangnya longsor terbawa arus Ciliwung yang debit airnya meningkat tajam.

Di sisi lain, arus lalu lintas sepanjang Senin sore hingga malam macet total di mana-mana.

”Saya melintas dari Pondok Indah ke Lebak Bulus, butuh waktu 1,5 jam gara-gara kendaraan merayap saja. Ada juga genangan di sejumlah tempat di Ciputat. Ini yang menyebabkan kendaraan melaju pelan,” tutur Puspa, seorang pengendara mobil.

Hujan deras juga menyebabkan pohon tumbang di Jalan Wijaya, Jakarta Selatan, sekitar pukul 18.15. Sejumlah plafon di sayap kanan Ratu Plaza di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, juga turut rontok. Diperkirakan, plafon yang jatuh karena tidak kuat menahan air.

Di Jakarta Timur, beberapa titik jalan raya yang rawan genangan air, Senin malam, relatif tidak tergenang air. Meski demikian, arus lalu lintas tetap bertambah macet. Sebab, ratusan pengemudi sepeda motor menutup sepertiga bahkan separuh bahu jalan untuk berteduh.

Situ Sasak rawan

Hujan yang terus turun juga makin mengancam keberadaan Situ Sasak di Jalan Sasak Tinggi, Bambu Apus, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, dan warga sekitarnya. Situ seluas 25,32 hektar tersebut rawan tergerus karena dinding tanggul sudah banyak terkelupas dan bocor akibat retak. Jika air meluap lagi, situ dengan ketinggian air normal 1,5 meter itu terancam jebol.

”Kondisi Situ Sasak memang rawan. Makanya, kami memasang kantong pasir yang dilindungi beronjong atau kawat yang dianyam untuk sementara waktu menahan agar tanggul tidak jebol,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Kota Tangerang Selatan Dendy Pryadana.

Dendy menjelaskan, langkah tersebut dilakukan sembari menunggu penanganan darurat permanen dari Kementerian Pekerjaan Umum menangani meluapnya air dan bocornya situ tersebut, Jumat (24/9) tengah malam dan Sabtu (25/9) dini hari.

Dendy mengatakan, sebanyak 5.000 karung plastik pasir sudah mengamankan sebagian besar tanggul Situ Sasak. ”Beronjong pengikat kantong-kantong pasir bantuan dari Pemerintah Provinsi Banten itu memang masih sedikit dan akan terus ditambah untuk penanganan jangka pendek,” kata Dendy.

Sejauh pengamatan, kantong pasir hampir memenuhi sebagian besar turap mulai dari ujung ke ujung. Sebagian kecil kantong pasir sudah terbungkus dalam beronjong.

Sabtu (25/9), situ ini tidak bisa menampung lonjakan debit air dan akhirnya meluap. Setelah dua hari ditutup, Sabtu dan Minggu, Jalan Sasak Tinggi, Bambu Apus, dari arah Pamulang ke Ciputat dan sebaliknya Ciputat ke Pamulang, telah dibuka, Senin (27/9).

”Jalan sudah dibuka karena kondisi sudah mulai normal. Air situ sudah surut,” kata Kepala Polsek Ciputat Ajun Komisaris Ngisa Asngari di Pamulang.

Meski jalan relatif aman dilalui, Dinas Perhubungan melarang kendaraan berat seperti truk dan tronton melintas di jalan itu. (WIN/ART/FRO/PIN/NEL)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: