Rawa Aopa “Surga” Wisata Yang Tersembunyi

Media Sultra, Pariwisata 2010-09-24 / Halaman 5

Tanaman Laut Nasional Wakatobi di Sulawesi Tenggara sudah dikenal di seluruh dunia sebagai “Surga Bawah Laut” dengan keindahan taman karang kautnya yang mempesona bagi para penyelam. Tapi taman nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) belum banyak yang tahu. Meski keduanya sama-sama sebagai taman nasional dan keduanya berada pula di satu Provinsi yakni Sulawesi Tenggara.

Sebetulnya, TNRAW juga menyimpan sejuta pesona yang sulit ditemukan dibelahan bumi lainnya. Diwilayah ini bukan saja terdapat satu ekosistem rawa, ekosistem savanna dan ekosisten hutan mangrove (bakau), setiap ekosistemnya memiliki potensi keanekaragaman hayati (biodiversity) yang tinggi, baik berupa flora (tumbuhan) maupun fauna (satwa).

Hasil survey inventarissasi Balai TNRAW tahun 2002, setidaknya dikawasan ini tercatat sebanyak 501 jenis tumbuhan dari 110 famili. Diantaranya terdapat beberapa jenis tumbuhan yang dilindungi seperti dammar (Agathishomii) dan Kasumeeto (Dyospyros malabarica).

Sedang satwa liarnya telah tercatat krang lebih 23 jenis mamalia antara lain Musang Sulawesi, Babi hutan Sulawesi, Anoa, Rusa/Jonga, serta kurang lebih 7 jenis reptile antara lain biawak, buaya muara, ular sawah, sao-sao, dan tokek.

Selain itu di TNRAW juga memiliki kurang lebih 8 jenis pisces antara lain, Tambakang, gabus, lele, 207 jenis aves seperti maleo, mandar dengkur, kakatua kecil jambul kuning dan 4 amphibi dan jenis-jenis insecta.

Dari sekian banyak jenis satwa yang mendiami areal TNRAW, setidaknya  terdapat dua jenis satwa endemic Sulawesi yakni anoa (Bubalus sp) dan maleo (Macrocephalon maleo). Selain itu masih banyak jenis satwa lain yang merupakan satwa endemic Sulawesi yang terdapat di TNRAW.

Dilihat dari kekayaan potensii, keragaman, keindahan, kekhasan, dan keunikan wilayah ini tak berlebihan untuk dikatakan sebagai “surga” bagi para pecinta ekowisata.

Sayangnya “surga”, yang ssatu ini masih tersembunyi. Belum banyak dikenal oleh wisatawan manca Negara bahkan local, akibat kurangnya promosi. Yang lebih memprrihatinkan lagi, kelestariannya sering terganggu oleh kebakaran, perburuan liar, dengan senjata api. Illegal logging bahkan galian golongan C.

Menurut Kepala balai TNRAW Kholid Indarto, taman nasional yang satu ini, sebenarnya sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai lokasi karya wisata, budaya wisata, wisata buru, dan lokasi penelitian. Bagi wisatawan local, wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara.

Bahkan menurut Kholid, di lokasi ini juga terdapat peluang untuk memanfaatkan pengusaha jasa wisata, pengangkaran dan usaha jasa wisata lainnya.

Tapi seperti diakui oleh Kholid Indarto, sejauh ini pihaknya masih terhadang berbagai kendala untuk bisa mengembangkan TNRAW sebagai lokasi wisata. “Terus terang kita masih banyak disibukkan dengan kegiatan penagamann taman nasional ini dari gangguan para pemburu liar yang bersenjata”, tuturnya beberapa waktu lalu.

TNRAW membentang seluas 105.194 hekter, kawasan ini ditetapkan sebagai Taman Nasional berdasarkan SK Menteri Kehutanan No 756/kpts-11/1990 dan telah di tata batas sejak tahun 1985 s/d 1987 dengan panjang batas keseluruhan 366.674 km yang terletak di empat wilayah kebupaten yakni Kabupaten Konawe, Kabupaten Kolaka, Kabupaten konawe selatan, dan  Kabupaten Bombana. (Sudirman Duhari)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: