Produktivitas Beras Merisaukan

Kompas, Bisnis & Keuangan 2010-09-14 / Halaman 20

Oleh : M Burhanudin

Anomali cuaca membuat target produktivitas beras pemerintah tahun 2010 ini bisa meleset, sedikitnya terlihat di wilayah Banyumas, Jawa Tengah, dan sekitarnya. Target produksi diyakini sulit dicapai karena kondisi faktual sepanjang tahun 2010 yang sangat dipengengaruhi perubahan iklim.

Ketua Asosiasi Perberasan Banyumas (APB) Mustangin, akhir Agustus 2010, mengatakan, dari hasil survei terbaru APB pada musim tanam (MT) I dan MT II 2010, produktivitas panen per hektar lahan padi di Banyumas dan sekitarnya hanya 3-4 ton gabah atau turun antara 40 persen dan 50 persen dibandingkan dengan rata-rata biasanya.

”Kondisi tahun ini sangat berat bagi petani. Hujan membuat kehampaan padi relatif tinggi. Belum lagi harga pupuk naik. Bahkan, MT II yang semestinya lebih baik ternyata sama saja karena hujan masih terus turun,” kata Mustangin.

Indikasi sederhana menurunnya produktivitas adalah perilaku pasar gabah dan beras selama tahun 2010 ini. Pedagang cenderung saling incar gabah di tempat-tempat yang produktivitasnya tinggi sehingga dapat membeli murah. Bahkan, banyak pedagang yang terpaksa beli gabah di luar daerah.

”Kalau produktivitas tinggi tak mungkin sampai saling incar. Beberapa tempat cepat habis karena memang stok sedikit akibat panen yang kurang produktif meskipun luas lahan tanamnya,” kata dia.

Akibat terbatasnya stok dan perilaku pedagang semacam itu, harga beras pun melonjak tajam. Pada awal tahun 2010, harga beras di penggilingan di wilayah Banyumas hanya Rp 4.200 per kg untuk kelas medium. Namun, sejak panen MT II lagi, ada di kisaran di atas Rp 6.000 per kg.

Ironisnya, kenaikan harga beras hingga 50 persen itu tak berdampak signifikan terhadap kenaikan harga gabah petani. Harga gabah kering panen pada MT I lalu Rp 2.300 hingga Rp 2.500 per kg atau di bawah harga pembelian pemerintah, Rp 2.640 per kg. Pada MT II hingga bulan Agustus, harga GKP hanya Rp 3.000 per kg hingga Rp 3.100 per kg atau hanya naik 20 persen.

Kenaikan harga beras lebih banyak menguntungkan pedagang karena rentang kenaikan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rentang kenaikan harga gabah dari petani. ”Biaya produksi jauh lebih tinggi untuk masa tanam tahun 2010 ini. Lihat saja harga pupuk naik dari Rp 60.000 menjadi Rp 84.000 per sak. Harga obat-obatan pertanian juga naik dari Rp 15.000 menjadi Rp 17.500 per kg,” kata Ketua Kelompok Tani Subur Tani Utama Jetis, Kemangkon, Purbalingga, Murtono.

Persediaan benih

Ketersediaan benih berkualitas juga menjadi problem. Benih berkualitas, seperti hibrida yang tahan wereng, sejauh ini harganya di atas Rp 50.000 per kg. ”Kami jelas tak mampu jika harus membeli sebesar itu tanpa bantuan pemerintah,” kata dia.

Akibatnya, banyak petani yang menanam benih padi sekadarnya. Mereka menanam benih yang tak tahan wereng, tetapi terjangkau. Padahal, pada masa anomali semacam ini serangan hama meningkat.

”Ditambah dengan pola tanam yang tak serempak membuat serangan hama, terutama wereng batang coklat dan tikus. Di Purbalingga saja serangan wereng batang coklat mencapai 390 hektar,” kata Koordinator Pengamat Hama Dinas Pertanian Jawa Tengah Wilayah Purbalingga Katiran. Kenaikan harga pupuk juga mendorong turunnya penggunaan pupuk urea. Dalam jangka pendek, kondisi ini menurunkan produktivitas per hektar lahan padi karena tanah belum terbiasa.

”Sekarang petani di sini trennya cuma pakai pupuk urea 1 sampai 1,5 kuintal per hektar. Padahal, standar pupuk urea per hektar adalah 2,5 kuintal hingga 3 kuintal. Untuk menutup kekurangan, para petani sebagian menggunakan pupuk organik yang harganya murah,” kata Watini (45), pengecer resmi pupuk urea di Desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor, Banyumas.

Dengan kondisi tersebut, Mustangin memperkirakan target produksi beras pemerintah sulit dicapai. Target produksi beras pemerintah selama ini cenderung menyesatkan karena hanya didasarkan pada perkiraan tahun lalu dan perkiraan luasan tanam tahun-tahun sebelumnya. Padahal, kondisi faktual jelas sekali berbeda.

Dinas Pertanian Purbalingga mengakui, hingga masa panen kedua tahun 2010 ini berakhir, produksi GKG petani di Purbalingga baru 102.516 ton atau sekitar 50 persen dari target produksi gabah di kabupaten ini sebanyak 204.372 ton. Faktor serangan hama dan cuaca menjadi penyebab masih jauhnya pencapaian target produksi gabah petani.

Kepala Dinas Pertanian Purbalingga Lily Purwati mengungkapkan, 102.516 ton gabah kering giling itu berasal dari hasil panen padi di lahan 17.660 ha hingga awal Juli. Masih ada lahan seluas 4.000 ha yang belum panen. ”Kami berharap pada musim tanam terakhir tahun 2010 nanti target masih bisa dicapai karena secara total akan ada 35.208 hektar sawah lagi yang akan dipanen,” kata Lily.

Pada tahun 2010 ini, tutur dia, serangan organisme pengganggu tanaman di Purbalingga marak. Hama yang paling banyak menyerang padi petani adalah tikus, penggerek batang, dan wereng coklat.

Hama wereng batang coklat menyerang 392 ha sawah, disusul serangan tikus seluas 140 ha dan hama penggerek batang menyerang lahan seluas 96 ha.

”Serangan hama wereng coklat sangat cepat. Satu ekor betina dapat bertelur 1.000. Dari jumlah itu yang menetas menjadi wereng 400 sampai 500 telur selama sebulan. Banyak petani yang kesulitan membasminya,” kata dia.

Persoalan hama wereng ini relatif masih dapat ditekan karena sejumlah pestisida masih mampu mengatasinya. Namun, yang justru paling merepotkan petani adalah hama tikus. Pestisida saat ini jarang yang mampu dan dengan cepat bisa membasmi tikus.

”Inilah yang menjadi pekerjaan rumah ke depan, yakni menciptakan varietas padi yang tahan serangan tikus. Sampai sekarang belum ada varietas padi tahan tikus,” ujar Lily.

Meski banyak hambatan dan gangguan dalam produksi padi petani pada sepanjang tahun 2010 ini, rata-rata produktivitas per ha justru naik dari 5,6 ton per ha menjadi 5,8 ton per ha. Kenaikan rata-rata produktivitas tersebut membuat Lily yakin pada panen ketiga nanti target produksi padi Purbalingga bakal terpenuhi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: