Metodologi Perlu Jelas

Kompas, Lingkungan & Kesehatan 2010-09-14 / Halaman 13

Indonesia harus menjelaskan lebih dahulu metodologi penanganan pencemaran minyak di Laut Timor. Penjelasan lengkap tentang metodologi tersebut merupakan persyaratan yang diminta pihak asuransi di Australia untuk pembayaran ganti rugi nantinya.

Ketua Tim Advokasi Tuntutan Ganti Rugi Pencemaran di Laut Timor Masnellyarti Hilman, Senin (13/9) di Jakarta, menyatakan, perusahaan asuransi di Australia telah menyanggupi membayar ganti rugi atas dampak tumpahan minyak dari sumur Montara di Celah Timor, Australia, akibat ledakan pada 21 Agustus 2009.

Akibatnya, tumpahan minyak dari kilang yang dioperasikan PTTE Pacific Australasia (PTTEPA) di Blok West Atlas, perairan Australia, itu terbawa arus dan gelombang laut hingga mencapai Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia.

”Sekarang ini masih mencari penerjemah tersumpah untuk menyusun laporan metodologi sesuai dengan bahasa teknisnya. Untuk besarnya nilai ganti rugi, ini yang tidak bisa saya sebutkan,” kata Masnellyarti yang juga Deputi Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan pada Kementerian Lingkungan Hidup.

Negosiasi ganti rugi pencemaran minyak Montara yang terakhir berlangsung akhir Agustus. Luas area terdampak pada lingkungan laut dan pesisir mencapai 70.341,76 kilometer persegi.

”Pemerintah Indonesia tidak menyampaikan batas waktu pemenuhan tuntutan ganti rugi. Diharapkan, Desember ini sudah selesai,” kata Masnellyarti.

Secara terpisah, Deputi Jasa Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jan Sopaheluwakan mengatakan, metodologi penanganan masalah untuk tuntutan ganti rugi sudah lazim diminta pihak yang bersangkutan. Semestinya sejak awal sudah dipersiapkan untuk kepentingan negosiasi.

”Permintaan seperti itu bisa terkait teknik berunding Australia untuk menghindar, menolak, atau menunda-nunda penyampaian ganti rugi. Kita membutuhkan tim negosiator yang lebih andal,” kata Jan.

Bupati Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, Leonard Haning yang wilayahnya terkena dampak pencemaran tersebut menyebutkan, nilai kerugian penduduk mencapai Rp 7,6 triliun.

Beberapa waktu lalu, Menteri Perhubungan Freddy Numberi menyatakan optimistis bahwa Australia akan membayar ganti rugi dengan nilai sekitar Rp 3 triliun. (NAW)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: