Impor Pangan Bakal Naik

Kompas, Bisnis & Keuangan 2010-09-14 / Halaman 18

Volume impor komoditas pangan utama nonberas tahun 2010/2011 diperkirakan mengalami peningkatan signifikan. Ini sebagai dampak penurunan produksi, target produksi yang tidak tercapai, ataupun penguatan diversifikasi pangan berbasis gandum.

Lima komoditas pangan nonberas yang bakal mengalami peningkatan volume impor adalah jagung, kedelai, gula, gandum, dan daging sapi. Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak Sudirman, Senin (13/9) di Jakarta, mengatakan, realisasi impor jagung untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak tahun 2010 ini mendekati 800.000 ton atau naik sekitar 400.000 ton dibanding tahun 2009.

Peningkatan volume impor jagung ini tak bisa dihindari karena keterbatasan ketersediaan jagung. Di pasar domestik , saat ini harga jagung pipilan kering dengan kadar air maksimal 14 persen mencapai Rp 2.700 per kg, naik Rp 350 dari harga dua bulan lalu. Di Indonesia, selain pakan, jagung juga untuk pangan.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, pekan lalu, mengisyaratkan kenaikan impor komoditas gula. Impor gula tahun 2011 tidak bisa dihindari karena produksi gula 2010 lebih rendah daripada taksasi. Semula produksi gula kristal putih 2010 diharapkan 2,7 juta ton, tetapi realisasinya diperkirakan 2,3 juta ton. ”Penurunan produksi gula sebagai dampak penurunan kadar gula dalam tebu (rendemen) karena anomali iklim,” kata Mari.

Ketua Dewan Kedelai Nasional Benny A Kusbini mengatakan, target swasembada kedelai bakal sulit tercapai karena produksi kedelai tahun 2010 justru mengalami penurunan.

Badan Pusat Statistik dalam angka ramalan II memperkirakan, produksi kedelai nasional 2010 sebanyak 927.384 ton atau turun 47.128 ton dari produksi tahun 2009, yakni 974.512 ton.

Sementara impor daging sapi dan jeroan ataupun sapi bakalan tahun 2010 ini memang ada penurunan. Impor sapi bakalan berdasarkan data Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia tahun 2010 sebanyak 452.000 ekor, lebih rendah 41 persen dari 2009. Namun, tidak menjamin tahun 2011 tidak akan naik karena peningkatan populasi sapi melalui program Kredit Usaha Pembibitan Sapi belum sesuai harapan. Begitu pula impor daging dan jeroan sapi, yang tahun ini dialokasikan 73.000 ton.

Berbeda dengan sapi, permintaan produk pangan olahan berbasis gandum sangat dipengaruhi daya beli masyarakat terhadap pangan pokok. Makin rendah daya beli masyarakat, semakin kuat dorongan substitusi pangan berbasis gandum.

Mantan Direktur Jenderal Tanaman Pangan Departemen Pertanian Jafar Hafsah menghitung nilai impor lima komoditas pangan tahun 2009 mencapai 5,197 miliar dollar AS atau setara Rp 51,97 triliun. Gandum 2,371 miliar dollar AS, kedelai 732 juta dollar AS, gula 859,5 juta dollar AS, susu 755 juta dollar AS, dan daging sapi 480 juta dollar AS.

Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir menyatakan, tahun ini produksi komoditas pertanian terutama tanaman pangan mengalami masalah serius. Petani dihadapkan pada gangguan iklim yang berdampak pada penurunan produktivitas. Padi, jagung, dan kedelai terkena imbasnya.

Terkait gula, KTNA mendorong pabrik gula untuk mengadopsi pola penetapan rendemen gula dengan sistem penetapan rendemen tiap truk tebu, bukan berbasis hamparan. (MAS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: