Sekolah terapung Solusi Tepat Selamatkan Suku Bajo Dalam Dunia Pendidikan

Media Sultra, Ibukota 2010-09-06 / Halaman 6

Aktivitas sekolah terapung di Kota Kendari yang dipandang sebagai solusi tepat untuk menyelamatkan Suku Bajo dari kemungkinan ketertinggalan pendidikan hingga kini masih peroperasi.

Kapal yang digunkan memiliki ukuran panjang 2,5 meter dan lebar 7 meter. Anggaran yang dihabiskan untuk menyelesaikan pembangunan sekolah tersebut mencapai Rp 300 juta bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun anggaran 2007.

“Hingga kini sekolah ini masih eksis di komunitas Suku Bajo”, kata Kepala Bidang Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Dinas Pendidikan Nasioanl (Diknas) Kota Kendari, Rafiuddin.

Rafiuddin mengatakan, sekolah terapung ini memberikan pelayanan pendidikan kesetaraan bagi anak-anak pesisir yang putus sekolah sebelum menuntaskan sekolah menengah pertama.

“seperti saya katakan tadi bahwa sekolah diatas perahu menjadi alternative solusi paling pas untuk menyelamatkan Suku Bajo dari kemungkinan tertinggal dalam pendidikan, mereka juga anak bangsa yang perlu dipikirkan pendidikannya”, ujar Rafiuddin kepada Media Sultrasaat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (27/8).

Ia juga berharap, dengan tersdianya fasilitas pendidikan seperti ini (sekolah terapung,red) anak-anak di pesisir, khususnya komunitas Bajo tidak ada lagi yang mengabaikan pendidikan. Karena menurutnya, pendidikan sangat penting dan menjadi modal dasar setiap mencari pekerjaan.

“Sebelumnya pernah kami menyarankan agar anak-anak Suku Bajo disekolahkan di darat, tapi mereka hanya bertahan enam tahun, satu per satu anak itu mogok berlarian dan memilih hidup beraktivitas di tengah laut”, ujarnya.

Ditanya mengenai bahan mata ajaran yang dipelajari siswa di sekolah itu, Rafiuddin mengatakan, pada umumnya sama dengan sekolah biasa yang menyelenggarakan paket B setara SMP di darat. Mata pelajaran yang diberikan adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), serta ilmu keterampilan.

“Saya juga bangga melihat animo masyarakat Bajo yang memanfaatkan saran pendidikan ini (sekolah terapung) karena ratusan siswa dengan rentang usia 16-33 tahunmasih ingin memperoleh pendidikan setara SMP. Mereka rata-rata putus sekolah berasal dari lima Kelurahan Potoaha, Kelurahan Bungkutoko, kelurahan Nambo, Kelurahan Sambuli, dan Kelurahan tondonggeu”, tuturnya.

Rafiuddin mengungkapkan, agar semua siswa yang terdaftar memperoleh kesempatan yang sama dalam memanfaatkan sarana pendidikan ini, ratusan siswa yang ada dibagi dua kelompok besar, kelompok pertama ialah murid dari Petoaha dan Bungkutoko. Mereka belajar pada Seinin, Rabu, dan Jumat setiap pukul 15.00-18.00 WTA. Sedangkan kelompok dua ialah murid asal Kelurahan Nambo, Sambuli, dan Tonddondggeu, yang masuk pada Selasa, Kamis, dan Sabtu dengan jam yang sama.

”Tiap Senin sore, perahu yang telah terisi siswa dari Petoaha akan berlayar menuju Bungkutoko, kemudian para siswa belajar disana. Sebaliknya,ketika proses belajar dilakukan di Petoaha, siswa dari Bungkutoko akan di jemput terebih dulu,” terangnya

Keterampilan yang diberikan kepada mereka adalah keterampilan menjahit, dilakukan di salah satu rumah warga di Kelurahan Tondonggeu. (Cr-1/Ms-3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: