11 Miliar Bungkus Mi Instan Tidak Terolah

Kompas, Lingkungan & Kesehatan 2010-08-30 / Halaman 13

Setiap tahun lebih dari 11 miliar bungkus mi instan menjadi sampah plastik tidak bernilai ekonomis sehingga tidak didaur ulang. Perlu terobosan untuk mencari kemasan lain yang bisa diurai alam dan lebih ramah lingkungan.

Pelaksana Harian Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Ujang Solihin Sidik, Sabtu (28/8), menyatakan, hitungan 11 miliar bungkus mi instan itu adalah taksiran minimal dari volume sampah plastik yang tidak didaur ulang. Angka itu setara dengan 640 ton sampah plastik per tahun.

”Angka 11 miliar bungkus mi instan itu hanya didasarkan data salah satu produsen mi instan di Indonesia. Produsen itu menguasai 80 persen pasar mi instan di Indonesia,” kata Ujang.

Menurutnya, ada banyak sampah nonorganik lainnya, seperti botol air mineral dari plastik. ”Namun, botol air mineral bernilai ekonomis karena mudah didaur ulang. Botol plastik itu diburu pemulung karena mahal harganya. Sementara kemasan mi instan terus tertumpuk di tempat pembuangan akhir atau menjadi sampah di sungai,” kata Ujang.

Persentase sampah nonorganik dibandingkan dengan sampah organik yang mudah diurai alam semakin bertambah di kawasan perkotaan karena gaya hidup kaum urban yang banyak memakai plastik. Total volume sampah 14 kota metro rata-rata mencapai 5.364 meter kubik per hari. Sementara, total volume sampah 12 kota besar mencapai 1.843 meter kubik per hari, dan volume sampah nonorganik cenderung terus bertambah.

Ujang menjelaskan, pengurangan sampah organik akan dilakukan melalui penerapan extended producer responsibility (EPR). ”Dengan penerapan EPR, produsen harus menarik semua sampah nonorganik yang tidak bisa diurai alam dan tidak bisa dimanfaatkan kembali,” ujarnya.

Direktur Bali Fokus Yuyun Ismawati menyesalkan kelambanan pengesahan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pengurangan Sampah yang disusun pada tahun 2009. ”Padahal, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah mengamanatkan semua peraturan pemerintah untuk pelaksanaan undang-undang itu harus disahkan dalam waktu satu tahun. EPR seharusnya diberlakukan sejak 2009,” kata Yuyun.

Yuyun menyatakan, produsen harus diwajibkan memakai kemasan yang lebih ramah lingkungan. ”Ada banyak pilihan yang bisa diambil produsen. Produsen mi instan, misalnya, bisa memakai bioplastik, kertas, dan banyak pilihan lain. Pengurangan sampah harus dimulai dari produsen,” kata Yuyun. (ROW)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: