Masyarakat: Selamatkan Satwa

Kompas, Lingkungan & Kesehatan 2010-08-23 / Halaman 13

Penanganan manajemen spesies satwa, terutama koleksi langka, milik Kebun Binatang Surabaya diprioritaskan. Hal itu menyusul adanya pencabutan izin pengelolaan yang diikuti dengan dilanjutkannya pengelolaan oleh tim manajemen sementara pada akhir pekan lalu.

Sementara itu masyarakat yang gerah dengan konflik berkepanjangan di tubuh pengelola Kebun Binatang Surabaya (KBS) mendesak pihak-pihak yang berselisih berdamai agar ribuan satwa di KBS terselamatkan.

Sebagai bentuk keprihatinan, puluhan pelajar SD dari beberapa sekolah di Kabupaten Gresik dan Kabupaten Sidoarjo menggelar unjuk rasa di depan SMA I Surabaya, Jawa Timur. Mereka menampilkan aksi teatrikal yang menggambarkan prosesi pemakaman harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan babi rusa (Babyrousa babyrussa).

Disebutkan, satwa-satwa di KBS merupakan titipan bagi generasi mendatang. Organisasi lingkungan hidup Tunas Hijau mengajak pelajar—antara lain dari SD Al Muslim Wadungasri, SD Hang Tuah 10 Sidoarjo, SDK Santa Maria, SDN Kaliasin 1, dan SDN Manukan Kulon 3—menunjukkan kepedulian sekaligus imbauan kepada pemerintah dan masyarakat luas.

”Kami berharap semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap kelangsungan satwa, terutama di KBS,” tutur koordinator kampanye Tunas Hijau untuk penyelamatan satwa KBS, Septian Yudha. Kekhawatiran dilontarkan Mitta (43), seorang warga yang prihatin dengan kondisi terakhir. ”Bukan masalah siapa menang atau kalah, siapa benar atau salah, yang terpenting selamatkan satwa di KBS,” katanya.

Kematian satwa koleksi KBS secara beruntun, 689 ekor satwa mati pada 2008-2009, juga mendorong Kementerian Kehutanan turun tangan dengan mencabut izin pengelolaan KBS dan meminta tim manajemen sementara (TMS) melanjutkan pengelolaan hingga ada investor.

Kuasa hukum Pengurus Unit Kerja Serikat Karyawan Varia KBS, I Wayan Titip Sulaksana, mengatakan, Kementerian Kehutanan harus memperhitungkan beberapa aspek penting, termasuk kualifikasi pengelola yang diberi kewenangan. Persoalannya, TMS yang diberi hak mengelola KBS sejak 22 Februari 2010 telah gagal.

Bukan saja upaya konservasi di KBS tidak berhasil, TMS malah terlibat konflik dengan 30 karyawan. Status mereka yang semula karyawan diturunkan menjadi pegawai harian lepas dan akhirnya meminta mereka tidak lagi bekerja di KBS sehingga menuai protes keras. Wakil Ketua DPRD Surabaya Akhmad Suyanto mengatakan, ”Jangan sampai Surabaya kehilangan KBS.” Jika dinyatakan lahannya terlalu sempit dan koleksi terlalu banyak, maka relokasi bukan jawaban. ”Pindahkan sebagian satwa, bukan seluruh KBS. Atas nama apa pun, KBS tidak boleh dipindah. Kalau manajemen tidak becus mengurus satwa, ganti manajemennya. Bukan malah mewacanakan pemindahan,” tuturnya. Dia berpendapat, Surabaya akan rugi besar jika KBS dipindahkan dari lokasi sekarang. Kota ini akan kehilangan ruang terbuka hijau (RTH) belasan hektar dan warga Surabaya akan kehilangan satu-satunya sarana rekreasi dan pendidikan yang murah dan mudah dijangkau jika KBS direlokasi.

Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam pada Kementerian Kehutanan Darori mengatakan, baik Pemerintah Kota Surabaya maupun Provinsi Jawa Timur telah mengambil keputusan untuk tetap mempertahankan KBS sebagai kebun binatang dan hutan kota.

”Tugas secepatnya ialah mencari investor untuk membangun kelayakan ruang pemeliharaan bagi satwa,” kata Darori. Dia menegaskan, seluruh satwa koleksi KBS adalah milik negara. Negara berkewajiban menyelamatkannya. (BEE/RAZ/NAW)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: