Makin Tidak Terawat, Makin Mengkhawatirkan

Kompas, Nusantara 2010-08-22 / Halaman 3

Memasuki Kebun Binatang Surabaya, Sabtu (21/8), bau kotoran binatang langsung menyergap hidung. Kesan kumuh langsung menohok mata. Daun-daun kering terserak di hampir setiap kandang satwa.

Sebagian kandang tidak terawat. Selain berkarat, kandang-kandang di Kebun Binatang Surabaya (KBS) juga rusak dan hanya diperbaiki sekenanya. Hal itu terlihat, antara lain, di kandang iguana, ular, pelikan, dan rusa. Sejumlah kaca di kandang iguana dan ular yang pecah hanya direkat dengan tambalan.

Kondisi makin mengenaskan karena kandang iguana juga ditinggali tikus got. Sayuran dan potongan buah-buahan yang disediakan bagi iguana sering kali tampak dikerubuti tikus.

Kandang pelikan (Pelecanus conspicillatu) yang berukuran 12 meter x 7 meter terisi lebih dari 150 pelikan sehingga tampak berdesak-desakan.

Kandang berbagai jenis rusa di satu sudut terlihat gersang. Di beberapa kandang, tidak ada satu pepohonan pun yang menjadi peneduh, hanya ada atap sekadarnya dari seng. Seekor rusa jantan terlihat merendam tubuhnya di kolam air minum.

Wahana permainan sederhana yang ada di KBS, seperti perahu kayuh berbentuk angsa, tidak terawat. Dengan perahu kayuh, pengunjung bisa mengitari pulau tempat sepasang siamang dan seekor anaknya tinggal dan mengamati kambing gunung. Namun, pulau ini terkesan agak mengerikan karena pepohonan tumbuh tidak beraturan dan dinding yang dicat seperti bebatuan tidak terawat. Sampah mengambang di air berwarna hijau kecoklatan. Yang lebih mengkhawatirkan, di tengah perjalanan, air akan mulai menggenangi dasar perahu kayuh.

Konflik berkepanjangan akibat adanya dua kubu, yakni kubu Stany Soebakir dan kubu Basuki Rekso Wibowo, dalam kepengurusan Lembaga Konservasi Kebun Binatang Surabaya (LKKBS) membuat kebun binatang itu tidak terawat. Sebanyak 709 satwa koleksi mati dalam 2,5 tahun terakhir.

Hal itu mendorong Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Darori membentuk tim manajemen sementara KBS yang dipimpin Tony Sumampouw, akhir Februari.

Namun, konflik semakin panas. Sebulan lalu, manajemen sementara memberhentikan 30 karyawan yang kebanyakan petugas kebersihan yang diangkat oleh Basuki akhir tahun lalu.

Dalam sepekan terakhir, setidaknya tujuh hewan koleksi KBS mati. Beberapa di antaranya merupakan satwa yang dilindungi, seperti harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan ungka (Hylobates agilis).

Masih jadi pilihan

Kendati tidak terawat, KBS yang sudah berusia 94 tahun ini masih menjadi salah satu pilihan masyarakat Surabaya dan sekitarnya untuk berekreasi. Orangtua senang mengajak anak dan cucu mereka mengenali beragam jenis hewan. Apalagi posisinya strategis dan mudah dijangkau dengan kendaraan umum.

Ketika izin LKKBS dicabut Menteri Kehutanan, Jumat (20/8), masyarakat Surabaya mengkhawatirkan kemungkinan perubahan fungsi KBS. Lahan salah satu ikon Surabaya itu dikhawatirkan diambil alih swasta dan berubah menjadi kawasan komersial.

”Kabar itu sudah terdengar sejak beberapa tahun lalu. Tapi, warga berpikir, itu hanya kepentingan orang tertentu saja,” kata seorang pengunjung, Agus (51), yang mengunjungi KBS bersama istri dan cucunya, Novi (1,5).

Dia berharap, KBS tetap menjadi ikon Surabaya, tidak dipindahkan dan lahannya tidak dijadikan pusat perbelanjaan.

Kalau KBS dipindah ke Jurang Kuping, kawasan Surabaya Barat, sebagaimana santer terdengar, justru lebih dekat dengan rumahnya. ”Tapi, saya tidak setuju KBS dipindahkan. Ini (KBS) bukan cuma milik warga Surabaya, tetapi juga warga Jawa Timur. Posisi di tengah kota memudahkan untuk dicapai,” kata warga Manukan, Surabaya, itu.

Hal senada dilontarkan warga Kupang, Surabaya, Andre (60). Ia menganggap keberadaan KBS bukan saja penting bagi ribuan satwa di sana, melainkan juga bagi masyarakat Surabaya. Sebab, KBS tidak hanya berfungsi untuk konservasi satwa, melainkan juga menjadi hutan kota.

”Bagaimana kalau berubah menjadi pertokoan atau apartemen,” katanya.

Kekhawatiran warga beralasan, mengingat kondisi KBS semakin tidak terawat. Konflik yang terjadi tidak hanya memengaruhi kelangsungan karyawan, tetapi juga membuat satwa merana. (INA/BEE)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: