Ketika Tradisi di Ambang Punah

Kompas, Teropong.Nusantara 2010-08-21 / Halaman 35

Satu demi satu petani di Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, meninggalkan lahan mereka. Sejak Maret lalu, mereka memilih untuk bekerja serabutan sebagai kuli bangunan di luar kota karena hujan tak pernah datang sejak September 2009. Sekitar 1.000 hektar sawah dan lahan bawang pun telantar akibat eksodus besar-besaran itu.

Kekeringan ini melanda lima desa di Kecamatan Sigi Biromaru, yakni Desa Bora, Olobojo, Soulove, Sidera, dan Vatunonju, yang berlokasi sekitar 40 kilometer sebelah tenggara Kota Palu. Warga yang mendiami kelima desa itu merupakan keturunan suku Kaili Ija, salah satu subetnis suku Kaili Ledo. Suku Kaili Ledo merupakan etnis induk dari warga asli Sulteng.

Berbulan-bulan ditinggal suami merantau membuat hati Asminah (60), warga Desa Sidera, gundah gulana. Ia bersama warga lain yang masih bertahan mendesak kepala desa masing-masing untuk menggelar ritual Mora’akeke agar hujan segera datang. ”Kami bingung harus melakukan apa lagi untuk mengakhiri kekeringan,” tutur Asminah, Minggu, awal Mei lalu.

Sungai Vuno yang selama ini berfungsi mengairi lahan pertanian tak bisa diandalkan lagi karena debit airnya semakin menyusut. Perhatian pemerintah daerah pun sangat minim mengingat tahun ini hanya menyediakan anggaran Rp 45 juta untuk revitalisasi Sungai Vuno.

Menurut Dosen Universitas Tadulako, Palu, yang juga pemerhati budaya Kaili, Hapri Ika Poigi, Mora’akeke biasanya dilaksanakan jika terjadi musim kemarau berkepanjangan, tanaman padi diserang hama, ataupun gagal panen. Pada mulanya ritual untuk mendatangkan hujan ini dilakukan oleh pemuka adat atau tokoh masyarakat yang dituakan. Dalam pelaksanaan selanjutnya, ritual dilakukan para keturunan pemuka adat tersebut.

Selain itu, Mora’akeke juga dilakukan untuk mempererat soliditas warga di lima desa. Kebersamaan itu ditunjukkan melalui pembagian tugas yang diemban setiap desa dalam melaksanakan ritual. ”Sebagai yang tertua, Desa Bora didaulat menyediakan bayaha atau pemimpin ritual. Empat desa lainnya menyiapkan orang yang bertugas sebagai pendukung pergelaran ritual,” ungkap Hapri.

Asminah pun berharap kesuksesan ritual Mora’akeke pada tahun 1982 kembali terulang. Sebagai salah seorang saksi mata, ia bercerita, hujan deras saat itu turun selama dua minggu berturut-turut seusai ritual Mora’akeke dilakukan. Desakan warga rupanya mendapat dukungan penuh para kepala desa. Mereka pun mematangkan rencana pelaksanaan ritual di rumah Kepala Desa Oloboju, Dewi B Yalirante.

Setelah kesepakatan tercapai, kepala desa memohon restu kepada pemuka adat di daerah masing-masing. Kepala desa wajib membawa sebungkus rokok dan korek api yang ditaruh di piring serta dibungkus kain saat menemui pemuka adat. Menurut Dewi, hal itu sebagai simbol pembuka pembicaraan di kalangan masyarakat Sigi. Selain memberikan restu, pemuka adat juga akan memberitahukan orang-orang yang berhak menjalani ritual Mora’akeke.

Proses mencari para pelaku ritual Mora’akeke menjadi tugas kepala desa. Hal ini bukan perkara mudah karena biasanya para pelaku ritual tinggal di daerah yang sulit dijangkau. ”Semakin tinggi status seseorang justru ia tidak ingin menonjolkan diri sehingga para keturunan tetua adat senang tinggal di tempat yang jauh dari keramaian,” ujar Dewi.

Saat menjemput seorang yang bertugas menabuh kendang (topogimba), Dewi harus naik sepeda motor menuju kaki Gunung Konju, sekitar 18 kilometer sebelah utara Desa Oloboju. Setelah itu, Dewi berjalan kaki melewati jalan bebatuan yang licin dan curam sejauh hampir lima kilometer sebelum akhirnya sampai tujuan. Setiba di kediaman Rahman, sang penabuh kendang, Dewi menyerahkan sambulugana, yakni persyaratan berupa buah pinang, buah gambir, daun tembakau, buah sirih, satu bungkus kapur sirih, beras setengah liter, sebungkus rokok dan korek apinya, serta uang Rp 5.000 yang ditaruh di atas beras. ”Dengan melihat sambulugana, pelaku ritual sudah tahu bahwa dirinya diminta untuk melaksanakan Mora’akeke,” kata Dewi. Ia mengaku, kesediaan bersusah payah melengkapi berbagai syarat itu dipicu keprihatinannya terhadap kondisi warga. (RIZ/REN)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: