Bayang-bayang Hitam di Atas Tambak Udang…

Kompas, Teropong 2010-08-21 / Halaman 37

Budidaya udang putih atau vaname menggeliat pesat beberapa tahun terakhir di berbagai daerah, termasuk Lampung yang kemudian dikenal sebagai salah satu sentra udang di Tanah Air. Produk udang segar pun segera menjadi primadona ekspor.

Namun, kejayaan ini nyatanya tidak berlangsung lama. Ribuan pengusaha, petani plasma, bahkan industri besar yang menggantungkan hidupnya pada budidaya udang kini menghadapi kembali momok yang menakutkan layaknya yang terjadi belasan tahun silam.

Di pengujung tahun 1990-an, ribuan tambak udang windu (Penaeus monodon) ditutup, pemiliknya gulung tikar menyusul serangan penyakit bintik putih (white spot syndrome virus) yang sangat ganas. Tambak raksasa Dipasena dan Bratasena pun rontok. Kini, bayangan yang sama tengah terjadi. Lagi-lagi oleh virus.

Bedanya, kali ini infectious mynonecrosis virus (IMNV) yang lebih banyak menyerang udang vaname. Ratusan petambak di Lampung, khususnya di Kabupaten Pesawaran, kini mulai menghentikan total aktivitas produksinya. Sebagian bahkan telah ditutup karena gulung tikar dan kekurangan modal segar.

Penyakit IMNV ini betul-betul memukul produksi tambak udang, baik yang semi-intensif maupun intensif. Seperti yang diungkapkan M Hasan (56), pengelola tambak intensif Prima Nusa di Pesawaran, penyakit IMNV menyebar sangat cepat sehingga menurunkan produksi hingga 70 persen. Dari biasanya panen rata-rata 6 ton, kini 1,5 ton per petak.

Virus IMNV biasa menyerang udang mulai usia 50-60 hari. Udang yang terkena virus ini tetap mengonsumsi pakan, tetapi kemudian konsumsinya turun drastis. Petambak terpaksa buru-buru memanen udang yang telanjur terkena virus ini.

”Jika terlalu lama, tunggu empat bulan, bisa habis semua,” ujar Suwandi (27), pekerja tambak lainnya. Jika terus dipaksakan beroperasi dengan kondisi ini, pengusaha dipastikan bakal merugi dan kehilangan modal.

Penyakit udang yang konon hadir di Indonesia melalui Situbondo, Jawa Timur, ini mulai masuk ke Lampung tahun 2007. Kemudian, menyebar cepat ke sentra-sentra udang di Lampung mulai dari Pesawaran, Lampung Timur, Lampung Tengah, Lampung Selatan, hingga ke Kabupaten Tulang Bawang yang banyak ditemui tambak-tambak raksasa.

PT Central Pertama Bahari (CPB), eks tambak Bratasena yang kini dimiliki PT Central Proteinaprima (CPP) Tbk grup, juga tidak luput dari momok penyakit asal Brasil ini. CPB pada 2010 ini mengistirahatkan mayoritas tambaknya. Dari 2.400 petak tambak potensial, hanya 710 yang masih beroperasi, itu pun dengan produksi minimal, hanya 1,2-1,7 juta ton per petak dari kondisi normal 7-8 juta ton per petak.

CPB yang dahulunya sempat menjadi produsen terbesar udang vaname dengan produksi rata-rata hingga 60.000 ton per tahun kini hanya mampu memproduksi sekitar 12.000 ton. ”Di setiap petak, angka kematian (udang) hingga 60 persen,” ujar Direktur Operasi CPB Isman Hariyanto.

Antiklimaks

Kondisi ini tentu sangat antiklimaks dengan keinginan pemerintah, yaitu menggenjot tambahan 75 persen produksi udang dari rata-rata 400.000 ton menjadi 699.000 ton pada 2014. Di lain pihak, seperti diungkapkan banyak petambak di Lampung, hampir tidak ada upaya dari pemerintah setempat untuk mengatasi kesulitan ini, entah itu berupa sosialisasi atau penyuluhan.

Dengan demikian, beberapa petambak melakukan improvisasinya untuk mengurangi penyebaran penyakit IMNV. Ada yang menggunakan biofermentasi, menambah penyaring air, ada pula yang mengembangkan sistem polikultur. Sebagian sisanya memilih menghentikan total produksi, mengeringkan tambak untuk memutus mata rantai virus.

Ganasnya serangan penyakit IMNV ditambah masih sangat tingginya curah hujan akhir-akhir ini menjadi tantangan besar bagi upaya revitalisasi tambak di grup PT CPP lainnya, yaitu PT Aruna Wijaya Sakti (eks Dipasena). Dari total 16.721 luas tambak intensif dengan sistem blok terbesar di Asia Tenggara ini, baru 30 persen di antaranya yang telah selesai direvitalisasi.

Revitalisasi, dengan kondisi ancaman penyakit udang dan cuaca tidak menentu seperti sekarang ini, memang tidak bisa dilakukan secara gegabah. Jika salah langkah, yang terjadi adalah gagal panen dan tentunya yang paling rugi adalah petani plasma. Utang kredit bisa kian menumpuk.

Namun, seperti yang diungkapkan Bambang Widigdo, anggota staf ahli di Divisi Kontrol Kualitas PT CP Prima, kemunculan kembali penyakit mematikan udang memberikan penyadaran kepada para petambak agar mawas diri. Daya dukung tambak harus ditingkatkan, misalnya dengan memperbanyak mangrove yang dapat berfungsi sebagai penyaring alamiah.

”Dan, yang terpenting, kita tak bisa lagi serakah. Tidak bisa lagi memaksakan satu petak memproduksi 7 ton,” ujarnya. Dibenarkan Yuri Sutanto, peneliti penyakit akuatik dari CP Prima, semakin tinggi kepadatan populasi udang di tambak, semakin mematikan serangan virus.

Virus

Menurut dia, PT CP Prima bekerja sama dengan lembaga riset di Amerika Serikat memang tengah melakukan riset pembuatan antivirus IMNV, termasuk benur yang tahan IMNV. Namun, hasilnya diperkirakan butuh waktu sangat lama, hingga sepuluh tahun, itu pun kalau sukses.

Penyakit ini, ucapnya, belum ada obatnya. Dengan demikian, hal realistis yang bisa dilakukan petambak saat ini adalah membiasakan hidup berdampingan dengan virus dan menekan dampaknya sekecil mungkin. ”Jadi, peningkatan biosecurity, pengurangan kepadatan benur, dan pola polikutur menjadi sangat penting,” ungkapnya.

Di beberapa tambak PT CP Prima, khususnya di PT AWS dan Wachyuni Mandira (WM), budidaya dengan pola polikultur mulai digalakkan. Setiap plasma memiliki dua kolam, satu untuk udang vaname, satu lagi untuk ikan nila yang akan berfungsi sebagai biofilter. Lendir yang ada pada tubuh ikan nila diyakini bisa mengendalikan virus.

Perubahan pola budidaya ini berbarengan pula dengan perubahan produksi di hilir. PT CP Prima saat ini tengah membangun pabrik pengolahan makanan baru yang didesain pula untuk mengolah ikan nila dari tambak.

”Plan II (pengolahan makanan) ini nantinya akan lebih banyak digunakan untuk mengolah ikan, yaitu nila. Kapasitas produksinya hingga 60 ton per hari dengan pasar utama Amerika Serikat. Awal Agustus sudah beroperasi,” tutur Sapto Diartono, Kepala Divisi Pemrosesan Makanan PT Aruna Wijaya Sakti.

Namun, langkah bijaksana adalah dengan menerapkan apa yang sudah dilakukan di Vietnam atau Thailand. Petambak di sana sudah mempraktikkan pola produksi berkelanjutan dengan mengurangi kepadatan benur, mempercepat masa panen, serta membiasakan mengeringkan (mengolah ulang) tambak sebelum berproduksi kembali. (Yulvianus Harjono)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: