Petani Tambak Kesulitan Benih

Kendari Ekspres, Ekobis Lokal 2010-08-12 / Halaman 2

Petani tambak udang vaname di Sulawesi Tenggara (Sultra) kesulitan mendapatkan benih. Balai Benih Udang (BBU) Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) belum mampu menyediakan karena keterbatasan sarana.

“Selama ini, benih didatangkan dari Jawa Timur dan Takalar, Makassar”, kata Kepala Sub Bidang Program dan Data Statistik Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulawesi Tenggara, Muh Alfian, Rabu (11/8).

BBU baru meyediakan benih udang windu. Jumlahnya juga belum dapat memenuhi permintaan atau kebutuhan petani tambak. Kebutuhan setiap kali musim tanam mencapai 63,8 juta ekor, sementara hasil BBU baru sekitar 16,5 juta ekor setiap kali musim tanam.

Harga udang vaname Rp 45 ribu/kg. Petani lebih menyukai udang vaname karena tahan terhadap perubahan cuaca dan keasaman air. “Kemudian cepat besar. Tidak susah memeliharanya dan harganya tidak jauh berbeda dengan jenis udang lainnya”, kata Muh Alfian.

Pasaran udang vaname di Sultra cukup mudah. Pengumpul lokal maupun dari luar daerah. Seperti pengumpul dari Makassar.

Guna memenuhi jumlah kebutuhan benih udang di Sultra, baik jenis vaname maupun udang windu, DKP Sultra telah mengusulkan anggaran sebesar Rp 11 miliar. Anggaran untuk rehabilitasi sarana dan prasarana BBU yang telah rusak dan sebagian dana akan digunakan pembangunan bak, pengadaan pompa air, dan pemasangan jaringan instalasi listrik.

“Jika usulan dana disetujui, kebutuhan benih udang di Sultra akan dipenuhi. Tidak perlu lagi mengambil dari daerah lain”, kata Muh Alfian.

Budidaya udang vabname di Kota Kendari mulai ada sejak tahun 2004. Produksi meningkat dan banyak petani yang berpindah tepatnya mulai tahun 2006.

Tambak di Kota Kendari

Seiring terjadinya pengalihan fungsi, menyusul adanya petambahan jumlah penduduk dan perubahan arah pembangunan, membuat lahan tambak mulai terkikis.

“Tahun 70-an, area tambak mencapai 200 hekter. Sekarang tinggal 15 persen. Itupun kualitas airnya sudah buruk”, lanjut Muh Alfian.

Saat ini, konteks pembangunan Kota Kendari bukan diarahkan pada aspek budidaya perikanan, tetapi mengarah pada sektor jasa, perdagangan, transportasi, pembangunan pabrik dan bisnis-bisnis lainnya, sesuai dengan arah perkembangan kota.

“Dulunya di Kendari terkenal dengan tambak udang dan ikan bandeng. sampai sekarang masih ada, tetapi tinggal beberapa lokasi, kita bisa lihat”, kata Muh Alfian.

Tambak sisa area 15 persen, lanjut Muh Alfian, mengalami penurunan hasil produksi. Menyusul produksi limbah di Kota Kendari semakin meningkat. Belum lagi, kiriman lumpur melalui sungai Wanggu yang cukup tinggi setiap kali terjadi hujan.

“Kualitas air, sebagai pendukung tambak, sangat menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya”, katanya. *CUK/ARI

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: