Limbah Medis Tidak Terpantau

Kompas, Lingkungan & Kesehatan 2010-08-05 / Halaman 12

Pertambahan jumlah rumah sakit, klinik kesehatan, laboratorium medis, dan puskesmas menambah jumlah limbah medis. Namun, penanganan limbah medis—berupa peralatan medis, sisa jaringan tubuh atau cairan pasien, dan cairan kimia—tidak terpantau. Sebagian limbah itu dibuang tanpa pengolahan.

Asisten Deputi Urusan Pengelolaan Bahan Beracun Berbahaya (B3) dan Limbah B3 Manufaktur-Agroindustri Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Emma Rachmawaty menyatakan, kebanyakan rumah sakit, klinik, atau laboratorium belum memisahkan limbah medis yang dihasilkan. Proses pengolahan limbah medis tidak terpantau sehingga sulit memastikan volume limbah medis yang dibuang tanpa pengolahan.

”Sebagian limbah medis rumah sakit, klinik, atau laboratorium dibuang tanpa pengolahan. Ada yang tercampur sampah domestik dan terbuang ke tempat pembuangan akhir atau TPA. Ada limbah rumah sakit yang dibuang ke sungai. Ada pula limbah medis yang diperjualbelikan tanpa izin. Padahal, limbah medis termasuk B3,” kata Emma dalam seminar limbah medis di Jakarta, Rabu (4/8).

Profil Kesehatan Indonesia 2008 yang diterbitkan Kementerian Kesehatan menyatakan, jumlah rumah sakit di Indonesia pada 2008 mencapai 1.372 unit. Sementara jumlah puskesmas telah mencapai 8.548 unit. Tidak diperoleh jumlah klinik dan laboratorium.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Harnowati menyatakan, sulit memantau jumlah klinik dan laboratorium swasta di DIY. ”Jumlahnya telah berlipat-lipat dibandingkan 10 tahun lalu. Aktivitas mereka tentu saja menghasilkan limbah medis dan itu belum terpantau,” kata Harnowati.

Kepala Bidang Industri Logam, Elektronika, dan Mesin KLH Anton Sardjanto menyatakan, sepanjang Januari hingga Juli 2010, pihaknya memantau 16 rumah sakit kelas A di empat provinsi. ”Semua rumah sakit itu memiliki instalasi pengolahan air limbah. Namun, kandungan amonium, fosfat, dan chemical oxygen demand dalam air limbah sebagian rumah sakit melebihi baku mutu,” kata Anton.

Direktur Bali Fokus Yuyun Ismawati menyatakan, 49 persen dari rumah sakit di Indonesia memiliki insinerator, tetapi sebagian besar insinerator itu suhu pembakaran maksimalnya kurang dari 800 derajat celsius. ”Padahal, pemusnahan limbah medis dengan suhu kurang dari 800 derajat celsius berisiko mencemari udara dengan dioksin. Jika pemusnahan juga membakar limbah medis yang mengandung PVC, pemusnahan dengan insinerator akan mencemari udara dengan dioksin,” kata Yuyun.(ROW)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: