Beras Berkualitas Langka di Pasaran

Kendari Pos, Ekonomi & Bisnis 2010-08-05 / Halaman 3

Iklim yang sudah lebih dari sebulan ini tidak bersahabat dengan lahan pertanian sudah mulai terasa dampaknya. Gagal panennya ratusan hektar sawah di Konawe yang selama ini jadi lumbung beras lokal, berdampak pada susahnya mencari beras berkualitas di pasaran. Masyarakat mulai mengeluh karena rata-rata beras di pasaran warnanya bercampur seperti hitam, coklat, biru dan kemerah-merahan.

Kondisi itu diduga terjadi karena bermasalah saat penjemuran akibat kurangnya sinar matahari. Meskipun kualitas buruk, tapi harganya sudah beranjak naik. Ada beras didatangkan dari Makassar, tapi harganya tinggi sekali, per kilo gram mencapai Rp 8500. Kalaupun ada yang harganya dibawah angka tersebut, siap-siap saja menikmati nasi beraroma apek.

Beberapa pedagang beras di Pasar Basah Mandonga mengeluhkan kualitas beras yang mereka pasarkan. Harganya memang masih tetap yaitu Rp 5500 per liter, tapi kualitasnya sangat buruk, karena hampir tidak ada beras produksi saat ini yang bagus. Rahmat, salah seorang pemilik kios mengeluh dengan keadaan beras saat ini.

Padahal, kata dia, pembeli cukup banyak, hanya saja stok terbatas meskipun berasnya jelek. “Saya bingung mau membeli takut tidak laku karena jelek sekali warnanya bercampur seperti busuk. Sementara kalau tidak dibeli banyak yang cari. Tidak tega saya mau menjual beras seperti ini,” kata Rahmat sambil menunjukkan beras yang dijualnya, itu pun hanya menyediakan tiga karung dan hampir habis.

Yati, salah seorang pemilik kios pengecer beras di Lawata mengatakan, saat ini sudah tidak ada lagi beras bagus. Kalau orang mau membeli beras bagus, tidak jadi makan. Menurutnya meskipun beras jelek, distribusinya sudah jarang. Sebulan yang lalu, kios nya masih dipenuhi stok, tapi saat ini sangat kurang bahkan yang ada saja cepat sekali habisnya.

Harga pun sudah mulai naik, kalau sebelumnya satu karung masih Rp 255 ribu dengan kualitas yang lebih baik, tapi saat ini kualitas dibawah standar satu karung sebanyak 50 kilo gram sudah Rp 280 ribu. “Itu pun kalau ada beras kita harus cepat, kalau tidak, ya tidak kebagian,” ujarnya.

Pengusaha beras bernama H Sattar mengakui kalau mencari beras sudah susah. Dia menunjukkan di gudangnya yang sekarang hanya ada 10 karung beras lokal. Selebihnya sekitar seratus karung merupakan beras dari Makassar. Beras lokal satu kilo gram di jualnya Rp 5.600, itu pun banyak yang mencari. Tapi H.Satar sudah banyak langganan dan mereka menanyaan beras yang standar.

Untuk itu dia mendatangkan beras dari Makassar. Walaupun harganya selangit, yaitu Rp 8.500 per kilo gram yang sebelumnya hanya Rp 6 ribu. “Menjelang puasa banyak yang cari beras bagus, kasihan kalau berbuka puasa nasinya hitam. Walaupun harganya mahal, mereka pun rela membelinya hanya untuk mendapatkan beras yang berwarna putih,” tutur H.Satar.

Menurutnya beras langka dan harganya mahal karena faktor cuaca dan jeleknya jalanan. Kualitas buruk disebabkan cuaca dan haraganya mahal, karena untuk mengantarkan beras dari lokasi produksi hingga kota biayanya tinggi, lantaran jalanan yang jelak, bahkan di Kolaka beberapa waktu lalu sempat terputus, itulah yang membuat harga mahal.

Sementara itu, menurut salah seorang distributor beras di Kendari, Hendra Sumusgia, saat ini beras dalam kota memang bermasalah yakni kualitas jelak dan harganya mulai mahal. Tapi di lokasi produksi lebih parah lagi. Yakni kualitas beras jelek dan harganya sangat murah, yakni Rp 3500 per kilo gram beras dibawah standar.

Pasalnya Bulog tidak mau membeli beras berkualitas buruk, untuk itu petani menjualnya dengan harga yang sangat murah ke para pedagang. “Hal inilah yang sering dimainkan para pengusaha beras, termasuk tengkulak. Mereka sengaja mengatakan tidak ada beras, padahal ada pengambilan dalam jumlah banyak. Itu kan hanya trik supaya harga beras bisa mahal. Banyak beras di lokasi, tapi memang kualitas jelek, tidak bagus seperti dulu,” terang Hendra yang juga mensuplai sejumlah pedagang beras di pasar Kendari ini.

Hendra yang setiap harinya membeli beras dari daerah sentra beras seperti di Konawe dan Konsel serta Bombana ini, merasa miris melihat harga beras di lokasi yang semakin anjlok. Tapi dia juga heran bila melihat harga beras di pasaran yang tetap mahal. “Kalau saya sendiri untuk beras yang masih umum, dibawah standar namun masih layak konsumsi, Rp 255 per karung ke pedagang. Tapi kalau yang warnanya hitam Rp 210 ribu per karung, karena belinya memang sudah murah,” paparnya.

Menurut Hendra, kondisi ini akan terus berlanjut, bila hujan tidak ada hentinya. Dan hal tersebut justru menjadi permainan sejumlah tengkulak beras. Bila tidak cepat dimediasi oleh pemerintah, tentunya akan lebih kacau. Terutama untuk wilayah Konsel dan Konawe, tapi untuk Bombana tidak terlalu miris, karena mereka juga menjual berasnya ke wilayah kepulauan seperti Wakatobi dan Baubau.(lis)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: