Ikan Langka, Nelayan Timor dan Rote Enggan Melaut

Kompas, Nusantara 2010-08-04 / Halaman 22

Pencemaran Laut Timor akibat tumpahan minyak dari ladang Montara, Australia, pada 21 Agustus 2009 telah menghancurkan nafkah para nelayan di Nusa Tenggara Timur, terutama nelayan Pulau Timor dan Rote Ndao. Ikan semakin langka di perairan NTT, sekitar 10.000 nelayan di Timor dan Rote Ndao enggan melaut.

”Belakangan, setiap kali melaut, hampir selalu pulang dengan tangan kosong. Kalaupun ada hasil, itu tidak bisa menutup biaya bahan bakar,” kata H Mittu (54), pemilik tiga kapal penangkap ikan air dalam di Oesapa, Kupang, Timor.

Menurut Mittu, sebelum terjadi pencemaran, tiap kapal bisa membawa pulang sedikitnya 500 kg ikan sekali melaut selama 5-6 hari. Penghasilan itu setara Rp 10 juta. Setelah dikurangi biaya pembelian bahan bakar Rp 3 juta, jasa awak kapal, dan biaya lain, pendapatan bersih Mittu sekitar Rp 4-5 juta. Kini, sekali melaut dapat 100 kg ikan saja sulit.

Karena itu, Mittu menjajaki kemungkinan memindahkan usahanya ke Bangka Belitung.

Keengganan melaut juga diungkapkan Is Mole (46) dan Minggus Mole (32), nelayan Kampung Rumah Tujuh di kawasan Pelabuhan Namosain, tepi barat Kota Kupang.

Hal serupa dikemukakan H Mustafa, Ketua Aliansi Nelayan Tradisional Timor Barat. Aliansi itu beranggotakan 5.000 nelayan. Jumlah nelayan di Rote Ndao juga diperkirakan 5.000 nelayan.

Sumur minyak Montara di Celah Timor, Australia, persisnya di Atlas Barat, berjarak sekitar 150 mil laut (278 km) utara Australia. Tumpahan 40 juta liter minyak mentah bercampur gas dan kondensat mencemari sekitar 90.000 kilometer persegi Laut Timor.

Pencemaran itu mematikan berbagai jenis ikan yang tampak terapung hingga Oktober 2009. Kini, dampak pencemaran, seperti ikan terapung dan gumpalan minyak, sudah tidak kelihatan. Namun, ikan kian langka di perairan NTT.

Para nelayan NTT meminta Pemerintah Indonesia segera memperjuangkan ganti rugi akibat pencemaran laut itu.

Ketua Yayasan Peduli Timor Barat Ferdi Tanoni sependapat, pemerintah perlu secepatnya memperjuangkan ganti rugi bagi para nelayan serta kerusakan lingkungan laut di NTT. ”Kini, ribuan nelayan makin terpukul akibat pencemaran itu. Mereka harus cepat ditolong, antara lain dengan ganti rugi akibat pencemaran itu,” katanya. (ANS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: