Usir Gajah, 1 Warga Tewas

Kompas, Nusantara 2010-08-03 / Halaman 24

Sekelompok gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) mengamuk setelah masyarakat Desa Tanjung Pucuk, Kecamatan Tujuh Koto, Kabupaten Tebo, Jambi, berupaya mengusir mereka dari permukiman. Akibatnya, satu warga tewas terinjak gajah.

Camat Tujuh Koto Amsiridin mengatakan, sejak Sabtu (31/7) sore sekitar 60 warga berupaya mengusir gajah dengan menggunakan mercon dan kentungan. ”Ketika melihat kelompok gajah berjumlah lebih dari 30 ekor melintasi perkebunan karet, para petani langsung beraksi membunyikan kentungan dan menyalakan mercon,” ujarnya kemarin.

Suasana gaduh itu ternyata tidak serta-merta mengusir gajah. Sebaliknya, satwa liar dilindungi tersebut justru marah dan menyerang mereka. ”Akhirnya, warga berhamburan menyelamatkan diri ke permukiman. Setelah berkumpul kembali di desa, kami baru menyadari bahwa ada satu warga yang hilang,” kata Amsiridin.

Keesokan harinya, lanjut Amsiridin, warga kembali masuk ke kebun karet. Saat itulah ditemukan Hairul (38), warga yang hilang. ”Ia tergeletak dan sudah tidak bernyawa. Kondisinya mengenaskan. Wajahnya hancur. Diperkirakan, itu akibat terinjak gajah,” katanya.

Dua pekan

Kehadiran gajah di perkebunan karet Desa Tanjung Pucuk sudah berlangsung dua pekan. ”Tahun ini jumlah gajah yang melintasi perkebunan karet warga sangat besar. Tahun-tahun lalu kami hanya mendapati lima atau enam gajah. Kali ini yang melintas banyak sekali,” ujarnya.

Kehadiran gajah-gajah tersebut menyebabkan sejumlah batang karet petani patah. Diperkirakan kerusakan kebun karet akibat serangan satwa tersebut mencapai 300 hektar di dua desa, yaitu di Desa Kuamang dan Tanjung Pucuk.

Terkait kematian Hairul, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi Tri Siswo mengatakan, pihaknya telah mengirim empat petugas untuk menemui keluarga korban dan memberi bantuan.

”Kami juga akan memberi penjagaan di sekitar kawasan itu agar konflik antara petani dan gajah tidak meningkat. Caranya, dengan menahan gajah untuk tidak masuk perkebunan warga,” ujar Tri.

Konflik antara manusia dan gajah, lanjutnya, perlu segera ditangani. Untuk jangka menengah, sejumlah alternatif yang akan diambil berupa penggiringan gajah menuju kawasan Bukit Tigapuluh yang berada di wilayah utara. Alternatif kedua, bedol desa. Salah satu harus dilakukan mengingat pihaknya menilai gajah dan manusia tidak bisa hidup berdampingan. (ITA)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: