Lingkungan 2010-07-31 Perbanyakan Vegetatif Segera Untuk Jati Muna

Perbanyakan Vegetatif Segera Untuk Jati Muna

Kabupaten Muna merupakan salah satu kabupaten di Sultra yang pada 1970-an memiliki lebih dari 70 ribu hektar tanaman jati. Tetapi karena aktivitas perambahan darioknumyang tidak bertanggung jawab, menyebabkan jati Muna saat ini hanya tersisa kurang dari 1.000 hektar. Parahnya Jati Malabar Muna hanya tersisa 13 tanaman dan tujuh tunggul bertunas.

Menyikapi fenomena ini, pihak Jurusan Kehutanan Unhalu berkomitmen untuk segera memulihkan kondisi awal jati Muna, misalnya dengan mengarahkan penelitian dosen dan mahasiswanya untuk jati. Sebagaimana yang diungkapkan Ketua Jurusan Kehutanan Unhalu, La Ode Alimuddin SP MSi.

“Fenomena jati Muna juga merupakan tanggung jawab Jurusan Kehutanan, yang berdasarkan Trip kami dengan wartawan lingkungan Sultra beberapa waktu lalu di Kabupaten Muna, ternyata perlu banyak yang harus dipikirkan dan dilakukan. Sehingga kami berusaha memikirkan solusinya sekaligus strategi pengembangan jati Muna ke depan, sebagaimana road map jurusan yaitu bagaimana mengarahkan praktik lapangan serta penelitian mahasiswa dan dosen sesuai komptensi jurusan, meliputi manajemen hutan, budidaya, dan konservasi,” ungkap Alimuddin.

Alumni S2 IPB ini juga menjelaskan penelitian jati yang pernah dilakukannya, yaitu melalui penggunaan cendawan Mikoriza Arbuskula dalam perbanyakan jati Muna (Tectona grandis Linn.f) melalui stek pucuk. Menurutnya jati Muna sangat potensial sekali, hanya saja kendala utamanya yaitu dormansi. Selain itu jati Muna dapat cepat berkecambah jika diberikan perlakuan khusus. Kalau tidak, maka butuh waktu satu bulan untuk tumbuhnya beberapa kecambah.

“Dengan metode penelitian saya, dalam waktu enam hari jati Muna dapat berkecambah yaitu dengan metode selang-seling antara pemanasan dan perendaman disertai dengan pengeraman. Penjemuran dilakukan selama setengah hari dan malamnya direndam, proses ini dilakukan terus menerus selama empat
hari, serta hari kelima dimasukkan ke dalam karung goni dan diperam, hasilnya dapat terlihat pada hari ketujuh ketika kecambahnya mulai tumbuh,” jelasnya.

“Dengan metode penelitian saya, dalam waktu enam hari jati Muna dapat berkecambah yaitu dengan metode selang-seling antara pemanasan dan perendaman disertai dengan pengeraman. Penjemuran dilakukan selama setengah hari dan malamnya direndam, proses ini dilakukan terus menerus selama empat
hari, serta hari kelima dimasukkan ke dalam karung goni dan diperam, hasilnya dapat terlihat pada hari ketujuh ketika kecambahnya mulai tumbuh,” jelasnya.

Lebih lanjut dibeberkan dari hasil penelitian, diperoleh jika jati Muna dapat tumbuh 93 persen tanpa perangsang akar. Metode ini lebih berhasil dibanding jika dikembang biakkan melalui biji sebanyak satu karung, pasalnya melalui biji belum tentu tumbuh 100 bibit, bahkan tumbuh dengan baik dan berakar dalam jangka waktu satu bulan. Penerapan metode ini tidak mahal, hanya membutuhkan bedeng tanah dan sungkup dari plastik transparan berukuran 2 mm per meternya, dengan harga hanya Rp 10 ribu per meter.

“Penelitian ini sangat penting, mengingat alternatif yang dapat dilakukan yaitu perbanyakan secara vegetatif. Apalagipohon-pohonpenghasil biji telah habis dirambah, sehingga sudah saatnya penerapan kultur vegetatif dilakukan, dan untuk komitmen Jurusan Kehutanan dimulai dari Trip ke Muna, berlanjut pada round table discuss (RTD), hingga ke tingkat Fakultas dan universitas,” tambahnya.

Senada dengan Ketua Jurusan Kehutanan, Anggota Komisi B DPRD Muna (La Ode Koso) juga mengingatkan jika masih terdapat areal jati Muna yang harus tetap dilestarikan, seperti daerah Warangga dan Tongkuno karena jangan sampai jati Muna lenyap dari peredaran. Bahkan parahnya jika bibit jati yang di tanam di Muna justru bibit jati dari daerah lain.

“Ingat jika jati Muna punah, tentunya salah satu cara yang digunakan untuk tetap membudidayakannya yaitu melalui rekayasa genetik, yang pastinya membutuhkan biaya cukup tinggi. Karena itu secepatnya legislatif dan eksekutif harus duduk bersama, yang berawal dengan inventarisasi areal hutan milik dan negara, sehingga tidak menimbulkan konflik seperti tragedi Kontu Berdarah beberapa waktu lalu,” ingat La Ode Koso.

Untuk diketahui pentingnya pembiakan stek pucuk pada tanaman jati Muna adalah untuk menyelamatkan gen unggulnya, mengatasi kesulitan pembiakan melalui biji dan kegagalan menghasilkan biji dalam jumlah banyak. Tidak kalah pentingnya mensuplai bibit berkualitas secara cepat dalam jumlah banyak.

Untuk diketahui pentingnya pembiakan stek pucuk pada tanaman jati Muna adalah untuk menyelamatkan gen unggulnya, mengatasi kesulitan pembiakan melalui biji dan kegagalan menghasilkan biji dalam jumlah banyak. Tidak kalah pentingnya mensuplai bibit berkualitas secara cepat dalam jumlah banyak.

Tekhnologi mikoriza merupakan alternatif yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan bibit jati Muna, karena mampu meningkatkan penyerapan hara dan toleransinya terhadap kondisi lahan yang marginal. Cendawan mikoriza juga mampu menginisiasi pembentukan akar adventif pada sebagian spesies tanaman yang dibiakkan melalui stek, tetapi sebagian lainnya tidak sehingga perlu untuk diteliti pengaruhnya terhadap jati Muna.
>>ULFAHSARISAKTI

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: