Kesadaran Kolektif Selamatkan Populasi Jati Muna

Media Sultra, LIngkungan 2010-07-29 / Halaman 5

Bertahun-tahun silam, orang Muna bangga dengan tanaman jati yang melekat pada jati dirinya. Karena, Muna dikenal sebagai penghasil jati ini terkenal di seantero Indonesia hingga manca negara. Buktinya banyak perusahaan manca negara membangun perusahaan pengelolaan kayu jati di Muna, kebanyakan dari mereka adalah pengusaha asal Taiwan, Singapura dan China.

Balai Penelitian Kehutanan Sulawesi Makassar merilis, Kayu jati Muna memiliki empat keunggulan yakni kerapatan, kekuatan, kekerasan serta fisik kimia. Keunggulan itu yang menjadikan jati Muna memiliki nilai dekoratif lebih tinggi dan indah dibanding dengan kayu jati Jawa.

Keunggulan jati Muna kemudian menggirng melimpahnya permintaan konsumen-konsumen kayu jati dalam bentuk logs maupun yang telah menjadi furniture. Melimpahnya permintaan konsumen kayu jati yang tidak diiringi dengan usaha budidaya akhirnya berdampak pada berkurangnya populasi jati di Muna.

Tak heran jika dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, populasi jati Muna tak bisa lagi dibanggakan sebagai komoditi unggulan Pulau Muna.

Sorotan publik terus menerus bergulir, mengecam pengurangan masif populasi jati Muna. Namun, pemerintah setempat tak mampu berbuat banyak untuk menghindarkan jati Muna dari ancaman kepunahan.

Menyadari kondisi yang tak menguntungkan bagi kelestarian jati Muna, maka muncul inisiatif dari masyarakat untuk membudidayakan jati Muna secara kolektif. Salah satunya yaitu komoditas Petani Hutan Jati Milik (PHJM) di Kecamatan Parigi.

Ketua PHJM Kabupaten Muna, Muhammad Asri, menyatakan PHJM kini beranggota 343 orang dengan persebaran yang hampir mencangkup seluruh Kecamatan di Kabupaten Muna.

“Kami tidak percaya pada pemerintah yang tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat dalam mengembangkan jati, karena itu kami berinisiatif membentuk PHJM”, urai Asri.

Menurut pria paruh baya ini, PHJM telah mempersatukan warga untuk bersama-sama membudidayakan jati, menjual dan dalam hal mendatangkan investor. Ia pun sangat yakin petani jati akan sejahtera. Pernyataan Asri ini tak lepas dari keberhasilan membudidayakan jati secara bersamaan dengan membudidayakan kopi dan merica.

“Masyarakat tidak perlu khawatir dengan usaha budidaya jati, karena di sela tanaman jati bisa ditanami tanaman perkebunan lain, jadi sambil menunggu tanaman jati panen, petani juga bisa memanen tanaman lain”, ungkapnya.

Ketua PHJM ini juga menjelaskan bahwa saat ini telah mendapatkan 86 sertifikat dari 100 hekter tanaman jati yang berumur rata-rata delapan tahun.

“Kami juga sedang memperjuangkan sertifikat ekolabel agar masyarakat menjadi lebih sejahtera dalam membudidayakan jati”, tuturnya.

Sama halnya dengan Ardini, petani Desa Lakapodo, Kecamatan Watuputih. Menurutnya, masyarakat di desanya telah melakukan usaha budidaya tanaman jati dengan anggaran swadaya sejak lima tahun terakhir.

“Masyarakat disini mempunyai tanaman jati minimal setengah hekter yang bibitnya dari swadaya masyarakat sendiri yang sadar untuk mengembalikan jati diri Muna”, kata Ardini.

Kesadaran kolektif kini terbukti menjadi alat paling ampuh untuk menyelamatkan populasi jati Muna dari kehancuran. Inisiatif ini merupakan eujud dari peduli warga terhadap pelestarian jati di Muna. Bagaiamana respon pemerintah daerahnya ? Semua kembali ke anda semua, bagaimana mempertahankan populasi jati, sebagai jati diri orang Muna. (***)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: