Hutan Konservasi Dijarah Pembalak Liar

Kompas, Nusantara 2010-07-29 / Halaman 24

Polisi kehutanan reaksi cepat atau SPORC menangkap dua penjarah kayu di hutan konservasi Taman Wisata Alam Melintang, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Sekitar 30 persen hutan konservasi itu kini dalam kondisi rusak akibat pembalakan liar yang sporadis selama beberapa bulan terakhir.

Kepala Unit Operasi SPORC Brigade Bekantan Kalimantan Barat Hari Novianto, Rabu (28/7), mengatakan, dua pelaku pembalakan, yakni ML (56) dan SR (57), tertangkap tangan sedang menebang dan mengolah kayu di Taman Wisata Alam (TWA) Melintang ketika SPORC melakukan operasi, Selasa lalu.

”Kedua pelaku ditetapkan sebagai tersangka dan masih terus diperiksa penyidik SPORC. Rencananya, mereka akan kami tahan di Lembaga Pemasyarakatan Sungai Raya,” kata Hari.

Selain menahan dua tersangka, penyidik SPORC juga meminta keterangan dua saksi, yakni Anto (26) dan Jefri (20), yang membantu menebang dan mengolah kayu. Anto dan Jefri tidak di   tetapkan sebagai tersangka karena mereka hanya menjadi anak buah kedua pelaku.

Dalam kasus ini SPORC menyita dua mesin penggergaji yang digunakan untuk menebang pohon. Kedua mesin penggergaji itu milik ML dan SR. Ketika operasi dilakukan SPORC, kedua tersangka sudah menebang 16 batang pohon dan mengolahnya.

Para pembalak itu mengaku sudah seminggu berada di hutan tersebut ketika tertangkap. Wilayah penangkapan berada sekitar dua jam perjalanan dari Kampung Baru, Desa Sebubus, Kecamatan Paloh, Sambas.

”Kedua tersangka berasal dari Kampung Baru. Mereka sudah pernah diperingatkan polisi kehutanan beberapa bulan lalu karena menebang kayu di kawasan konservasi TWA Melintang dan diminta tidak mengulangi perbuatannya. Ternyata, penebangan kayu di kawasan konservasi sebagai mata pencarian mereka,” ujar Hari.

Kedua tersangka mengaku melakukan penebangan di kawasan konservasi itu dibiayai seorang pemodal. Dialah yang kemudian menerima kayu olahan curian tersebut. ”Identitas orang yang memberikan modal itu sudah kami kantongi. Kami akan terus mendalami dan mengembangkan penyidikan karena kedua tersangka hanya pelaksana di lapangan dan pasti ada jaringan yang lebih besar,” kata Hari.

ML dan SR akan dijerat dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

30 persen

Kawasan konservasi TWA Melintang luasnya 17.640 hektar. Pembalakan liar sporadis seperti ini, menurut Hari, telah menyebabkan sekitar 30 persen hutan di sana dalam kondisi rusak.

Taman wisata alam biasanya disiapkan untuk menjadi taman nasional. Dalam peta kehutanan, warna ungu (yang sekarang digunakan untuk TWA Melintang) menunjukkan bahwa wilayah tersebut merupakan taman wisata alam atau taman nasional. (aha)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: