Nelayan Persoalkan Infrastruktur di Banda

Kompas, Nusantara 2010-07-28 / Halaman 23

Tidak adanya infrastruktur perikanan di Kepulauan Banda, Maluku Tengah, Provinsi Maluku, membuat nelayan tak mampu meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Padahal, Banda memiliki potensi perikanan tangkap dan budidaya yang luar biasa.

Permasalahan itu terungkap dalam pertemuan antara Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad dengan nelayan Kepulauan Banda di Gedung Oka Makatita, Banda, Selasa (27/7). Acara ini dihadiri Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu dan Bupati Maluku Tengah Abdullah Tuasikal.

Infrastruktur perikanan yang tidak ada, antara lain, adalah pabrik es, ruang pendingin penyimpan ikan, dan pelabuhan perikanan.

Menurut Abdullah Tuasikal, minimnya infrastruktur membuat nelayan kerap membuang hasil tangkapan pada musim panen ikan. ”Kapal-kapal timbang ikan tidak mampu membeli semua ikan nelayan,” katanya.

Salah seorang nelayan, Lake Huhanisa, menambahkan, kalaupun ikan diolah jadi ikan asin atau abon ikan, nelayan kesulitan menjualnya. ”Olahan ikan hanya dibeli orang dari luar Banda saat kapal Pelni singgah,” ujarnya.

Ketiadaan tempat pengisian bahan bakar di Banda bagi kapal nelayan juga dikeluhkan.

Tokoh masyarakat Banda, Des Alwi, mengatakan, nelayan harus membeli bahan bakar dari Ambon dengan harga dua kali lipat dari harga normal. Di sisi lain, harga ikan murah.

Harga ikan tuna yang ditangkap nelayan Rp 13.000-Rp 15.000 per kg. ”Padahal, di Jepang, saya pergi ke pasar lelang ikan, harganya bisa 28 US dollar (sekitar Rp 280.000),” katanya.

Awad Wongsopati (50), nelayan Kampung Ratu Naira, mengatakan, pendapatan dari hasil melaut tidak lebih dari Rp 200.000 per hari. Bahkan, bisa nihil saat musim timur seperti sekarang.

Potensi perikanan Banda besar. Menurut Abdullah Tuasikal, hasil tangkapan nelayan bisa mencapai 30-40 ton per hari. Budidaya rumput laut dan ikan kerapu belum dikembangkan meski sangat potensial.

”Saya akan lebih memerhatikan hal ini. Kami telah membuat roadmap pengembangan ikan di Maluku. Sangat ironis Banda yang potensi ikannya besar tidak memiliki cold storage maupun pompa bensin,” kata Fadel Muhammad.

Kawasan ekonomi khusus

Minimnya perhatian pemerintah pada sektor perikanan menjadi salah satu alasan Kongres Masyarakat Banda Se-Indonesia, Minggu-Senin di Banda, meminta agar Banda dijadikan kawasan ekonomi khusus.

”Potensi perikanan, perkebunan pala, dan wisata di Banda akan lebih bisa dimanfaatkan jika ada badan otorita khusus. Selama ini potensi tidak berkembang karena Banda hanya kecamatan di Kabupaten Maluku Tengah,” kata Ketua Umum Kongres Masyarakat Banda Se-Indonesia Prof Dr Burhan Bungin.

Ibu Kota Kabupaten Maluku Tengah berada di Masohi di Pulau Seram, berjarak sekitar 100 mil dari Banda, dipisahkan oleh Laut Banda. (APA)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: