Menjadikan Jati Sebagai Komoditi Unggulan Pulau Muna

Media Sultra, Lingkungan 2010-07-28 / Halaman 5

Oleh : Asep Firmansyah

Tak bisa dipungkiri, keinginan kuat yang lahir dari sekolompok warga Muna ini belum mendapat perhatian serius dari pemerintah daerahnya.

Lihat saja bagaimana upaya kelompok PHJM (Petani Hutan Jati Milik) yang secara sadar mengembangkan dan melestarikan jati secara berkelompok. Kesadaran ini tentunya tak akan berarti, bila tak ada dukungan kebijakan dari pemerintah daerah Muna.

Dosen fakultas pertanian Faisal Danu Tuheteru mengatakan, jati masih menjadi komoditi unggulan mereka. Untuk itu, masyarakat sadar bahwa jati memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

“Yang banyak mengembangkan jati itu dari masyarakat, salah satunya dangan adanya PHJM di Muna artinya jati masih punya potensi untuk dikembangkan, memiliki prospek ekonomi yang tinggi, masyarakat Muna menyadari hal ini, jadi, walaupun tanpa bantuan pemerintah upaya untuk mengembangkan jati tetap ada”, katanya.

Pria asal Ambon ini juga mengatakan, fakta bahwa makin berkurangnya jati di Muna diakui olah banyak elemen pemerintah. Bila kondisi ini terus terjadi akan berdampak pada musnahnya populasi jati varietas Muna. Gejala ini disebut erosi genetik.

Menurutnya, jati Muna sangat pantas dijadikan sebagai komoditi unggulan. “Jenis jati ini memiliki kualitas yang tinggi dibanding tanaman jati yang ada di daerah lain, karena kondisi tanahnya mengandung bahan kapur yang cukup tinggi, jadi pohon jati Muna memiliki tekstur kayu yang cukup bagus”, jelas Danu.

Satu-satunya kawasan hutan di Muna dengan populasi jati yang cukup baik hanya cagar alam Napabalano, letaknya di Kecamatan Napabalano. Dalam kawasan seluas 9,2 hekter ini terdapat jati raksasa berusia ratusan tahun dengan diameter sekitar enam meter dan masih terjaga kelestariannya.

Kepala resor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Muna, La Ode Mengko mengatakan, hingga saat ini Cagar Alam itu masih terjaga dengan baik, tak ada praktek illegal logging di dalamnya karena adanya kesadaran masyarakat di sekitar kawasan. “Warga pesisir kawasan menyadari bahwa hutan ini merupakan sumber air bagi mereka, selain fungsinya sebagai media belajar di bidang pendidikan”, jelasnya.

Sementara itu Ketua Komisi B, DPRD Muna, Paraminsi Rahman, mengatakan, dalam pengembangan jati, masyarakat punya inisiatif sendiri tapi tak ada pembinaan dari pemerintah daerah, utamanya Dinas Kehutanan Kabupaten Muna. “mestinya pemerintah ikut andil dalam pelestarian jati yang dilakukan oleh masyarakat”, katanya.

Community Organizer (Co) Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia (Swami), LM Hendro mengatakan, jati merupakan komoditi unggulan masyarakat, hal ini sudah terbukti dengan adanya asosiasi Petani Hutan Jati Milik (PHJM) yang sudah berkembang di masyarakat.

“Untuk meningkatkan pendapatan warganya, maka pemerintah daerah mesti melahirkan produk kebijakan yang mendukung usaha pengembangan jati oleh masyarakat”, katanya. ***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: