Jati Wakumoro Dirambah Beramai-ramai

Kendari Pos, Bumi Anoa 2010-07-26 / Halaman 5

Hutan jati di Warangga, Kontu dan kawasan lain di Muna, telah punah. Dan kini, satu-satunya potensi hasil alam yang tersisa itu ada di Wakuru, Kecamatan Tongkuno. Namun penyelamat ikon daerah itu sebagai penghasil jati sedikit lagi tinggal sejarah. Pohon kayu berkelas tersebut pun kini telah habis dijarah. Warga sekitar dan luar Wakuru berlomba memiliki kayu tersebut dengan alasan untuk keperluan material pembangunan rumah, meski belakangan diketahui jika sebagian besar justru menjual jati tersebut ke pabrik pengolahan.

Instansi berwenang seperti Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) pun sepertinya tak dapat berperan banyak. Jati tegak yang masih berdiri kokoh di tepi jalan bahkan hilang dari amatan mereka. ” Empat hari lalu, saya lihat tiga batang jati besar rebah ditebang pakai chainsaw. Kalau didapati, bisa jadi itu dianggap barang temuan lagi. Padahal saat menebang, pelakunya diketahui orang banyak karena suara mesin pemotong yang besar,” komentar Madhing, seorang warga. Pantauan koran ini di kawasan itu,  warga terlihat keluar masuk hutan.

”Sudah beginilah faktanya. Saya juga tidak mau tinggal diam. Apalagi jatinya sudah mau habis. Kita manfaatkan masa transisi kepemimpinan saat ini,” kata seorang warga Wakuru yang lengkap dengan sejumlah alat penebang, saat ditemui akhir pekan lalu. Kepala Bidang Perlindungan dan Pengawasan Hutan di Dishut Muna, Arsyat Hariki yang dikonfirmasi hanya bisa memberi jawaban tanpa ketegasan. Menurutnya, di kawasan hutan Tongkuno itu memang tak ada penanganan secara terpadu. Ia pun mengakui bila UPTD di zona itu memang tak bekerja maksimal. ” Soal pengamanan, itu bukan hanya tanggung jawab kehutanan, tapi semua unsur. Kami sadari kalau jumlah 18 orang Polhut yang ditugasi sebagai tenaga pengamanan di sana itu juga belum maksimal. Karena UPTD ini mengawasi bukan hanya wilayah Wakuru namun juga hutan Parigi, Tongkuno dan Tongkuno Selatan. Karena itu peran masyarakat juga sangat membantu,” argumennya.

Sementara itu Aktivis LSM Swami, Sukur dengan tegas menunjuk pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggungjawab atas kerusakan dan kepunahan jati di Muna.  ” Jangan saling lempar tanggungjawab. Karena sangat jelas terlihat kalau jati Muna habis karena lemahnya pengawasan. Saya khawatir perambahan hutan jati di Wakuru saat ini karena memanfaatkan sisa-sisa hari (pemerintahan Bupati Muna, Ridwan),” sentil Sukur. (yaf).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: