Riset Larva Tuna untuk Kesiapan Budidaya

Kompas, Lingkungan & Kesehatan 2010-07-23 / Halaman 12

Keberhasilan pembenihan ikan tuna oleh Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut di Gondol, Bali, baru mencapai tahap bisa bertahan hidup pada usia sekitar 45 hari. Saat ini lembaga riset itu memiliki 30 ikan tuna calon induk untuk melanjutkan riset terhadap larva ikan tuna.

”Ikan tuna sangat penting dibudidayakan karena populasinya semakin menurun dengan ukuran tangkapan ikan yang terus menurun,” kata Kepala Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut pada Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Nyoman Adiasmara Giri, Kamis (22/7) di Gondol, Bali.

Sebanyak 30 calon induk tuna kini dipelihara di kolam berdiameter 12 meter dengan kedalaman 8 meter. Ikan tuna sirip kuning itu hasil tangkapan di perairan Pulau Bali. Anggaran berasal dari kerja sama dengan Australia sekitar Rp 600 juta untuk dua tahun. ”Proyeksinya, kita mampu menghasilkan benih tuna pada 2015-2016 jika pemerintah fokus untuk ini,” kata Giri.

Gede Suwarthama Sumiarsa, sebagai pakar sumber pakan alami dan zooplankton pada lembaga riset itu, mengatakan, fokus pemerintah tertumpu pada enam bidang lain, yaitu rumput laut, udang, kerapu, nila, bandeng, serta ikan lele atau patin.

”Padahal, ikan tuna menjadi ikan konsumsi dunia. Saat ini ada tiga tempat pembenihan di dunia, yaitu di Indonesia, Jepang, dan Panama,” kata Gede.

Jepang sudah memulai riset budidaya tuna lebih dari 40 tahun lalu. Menurut dia, kini Jepang berhasil membenihkan tuna. ”Induk yang dipakai sudah memperoleh cucu,” kata Gede.

Dengan 49 periset, 66 teknisi, dan 40 anggota staf administrasi, lembaga riset perikanan itu telah menghasilkan pembenihan ikan kerapu bebek atau kerapu tikus yang termasuk jenis kerapu paling mahal. ”Ikan kerapu bebek hidup harganya 80 dollar AS (Rp 780.000) per kilogram di Hongkong,” ujar Gede.

Pembenihan yang sukses, antara lain, kerang abalone (Haliotis squamata), tiram mutiara (Pinctada maxima), kakap merah (Lutjanus sebae), ikan golden trevally (Gnathanodons specious Forsskall), kepiting bakau (Scyila paramamosain), rajungan (Portunus pelagicus), dan capungan banggai (Pterapogon kauderni). (NAW)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: