Warga Tak Tahu Hewan Dilindungi

Kompas, Lingkungan & Kesehatan 2010-07-22 / Halaman 13

Berdasarkan hasil survei, 6.872 penduduk lokal dari 725 desa, lebih dari 50 persennya tidak tahu orangutan merupakan spesies yang dilindungi. Sementara sekitar

24,8 persen responden melaporkan adanya pembunuhan orangutan di sekitar kampung mereka.

Perhimpunan Pemerhati dan Ahli Primata Indonesia bersama lembaga The Nature Conservancy melibatkan 19 lembaga swadaya masyarakat lokal Kalimantan membuat survei untuk menunjang pelestarian orangutan dan keanekaragaman hayati ekosistemnya.

Hasil survei ini dipaparkan pada simposium konferensi Association for Tropical Biology and Conservation (ATBC) di Bali, Rabu (21/7), yang akan berlangsung hingga Jumat (23/7).

”Mayoritas responden pernah bertemu atau melihat orangutan di hutan di dekat kampung atau tempat tinggal mereka,” kata Direktur Konservasi Program Hutan The Nature Conservancy Damayanti Buchori.

Sebanyak 61,3 persen responden pernah melihat orangutan di hutan, 86 persen bertemu orangutan di hutan dekat tempat tinggalnya, sisanya melihat orangutan di sepanjang sungai, kebun sawit, sekitar danau, atau di pekarangan rumah.

Temuan positif, 92 persen responden menyatakan tak berkonflik dengan orangutan. Namun, 24,8 persen melaporkan pembunuhan orangutan di sekitar kampung mereka. Alasannya beragam, antara lain, diambil dagingnya, diambil anaknya untuk dijual, atau mati terjerat perangkap babi atau rusa.

Temuan baru

Ahli primata Suci Utami Atmoko mengutarakan, ada temuan baru komunitas orangutan di wilayah Dairi dan Phakpak, Sumatera Utara. Dari hutan tersisa sekitar 35.000 hektar (ha) dengan ketinggian 300 meter-1.200 meter di atas permukaan laut diidentifikasi ada komunitas orangutan. ”Populasinya mencapai 267 ekor,” kata Suci. Di wilayah yang lebih tinggi, 1.200 meter-1.300 meter juga ditemukan sarang orangutan. Habitat ini mulai terdesak dengan konsesi untuk pertambangan, kebun sawit, dan hutan produksi.

Menurut Damayanti, metapopulasi, yaitu penyatuan hutan- hutan primer yang terpisah akibat pengalihan fungsi untuk konsesi tambang, sawit, dan hutan produksi, perlu diusulkan untuk penyelamatan habitat orangutan. Untuk itu penerima konsesi lahan perlu dilibatkan. Metapopulasi diharapkan bisa memperluas hutan sebagai ruang jelajah orangutan, sekaligus untuk satwa langka lain, seperti harimau sumatera yang juga hampir punah.

Menyeimbangkan

Sementara itu, kemarin, Wakil Presiden Boediono dalam sambutan pembukaannya menyatakan, ilmu pengetahuan akan mampu menyeimbangkan kegiatan eksploitasi dan konservasi lingkungan.

Selain Boediono, Gubernur Bali I Made Mangku Pastika dan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lukman Hakim juga memberikan sambutan. Lukman Hakim mengatakan, ”Data ilmiah paling mutakhir dari ATBC dapat menjadi dasar ilmiah yang kuat untuk melandasi keputusan-keputusan pada konvensi internasional, seperti konvensi keanekaragaman hayati PBB (UN CBD) dan Kerangka Kerja pada Konvensi Perubahan Iklim PBB (UNFCCC) serta Convention on International Trade in Endangered Species (CITES).”

Menurut dia, ATBC menjadi sarana bagi akses legal terhadap keanekaragaman hayati tropika. Ia menekankan, sekarang sangat diperlukan ada pembagian manfaat dari komersialisasi hasil penelitian dengan negara asal sumber daya hayati atau genetika yang digunakan. ”Hal ini menjadi perhatian dunia,” ujar Lukman.

Menurut Lukman, ATBC dihadiri sekitar 900 peserta dari 60 negara, diisi 40 simposium dengan presentasi 464 naskah ilmiah terkait tema ATBC 2010, ”Surviving the Food, Energy, and Climate Crisis”. (NAW)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: