Rakyat Sudah Berupaya, tetapi Tak Berdaya

Kompas, Nusantara 2010-07-22 / Halaman 23

Bulan purnama segera datang. Air laut akan semakin pasang. Terlebih lagi, belakangan ini angin terus bertiup kencang. Hati warga jadi tidak tenang menghadapi gelombang.

Perasaan itu berkecamuk di hati 143 warga Dusun Tirtakusuma di pesisir pantai Candikusuma, Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali.

Menurut penanggalan Bali, purnama bulan Juli ini jatuh tanggal 26. Sehari atau dua hari setelahnya, air pasang biasanya sangat tinggi. Terlebih lagi pada pasang tahunan yang jatuh pada purnama 24 Agustus. ”Inginnya bulan 8 tidak ada, langsung bulan 9 saja,” ucap seorang warga, Hindun (65).

Pantai Candikusuma termasuk yang paling parah terabrasi. Pada Minggu (18/7) sore, ombak dengan keras menerjang pesisir pantai. Dua minggu lalu ombak menghancurkan markas polisi air udara dan memorakporandakan jalan aspal di pinggir pantai itu. Kini, jalan itu sudah tidak bisa dilewati motor, apalagi mobil.

Mengantisipasi ancaman itu, Minggu pagi, ratusan warga bergotong royong membuat tanggul dari tumpukan karung diisi pasir. Mereka mengumpulkan 1.000 karung dan menumpuknya di muara sungai yang terletak di perbatasan Desa Tuwed dan Desa Banyubiru, sekitar 500 meter dari Dusun Tirtakesuma.

Warga menduga, abrasi di Candikusuma makin parah akibat pergeseran muara. Penyebabnya, ulah manusia, yaitu pengurukan pantai untuk pembangunan Pelabuhan Pengambengan, sekitar 7 kilometer arah timur dari Candikusuma.

”Dulu, muara berjarak sekitar 3 kilometer, sekarang terus bergeser jadi sekitar 500 meter. Ombak makin besar ke sini,” kata warga, Agus Sulaemi (30).

Dengan tanggul pasir, warga dusun mencoba menghadang aliran sungai agar tidak terus menggeser muara ke barat. Mereka juga mengeruk tanah di muara agar terbentuk aliran yang mengarahkan air ke timur. Namun, usaha mereka gagal.

”Ini sudah gotong royong ketiga. Sebelumnya, kami tutup dengan 500 karung dan 700 karung, tetapi gagal. Mungkin perlu bantuan alat berat untuk mengeruk,” kata Sutikno (37), Kepala Dusun Tirtakusuma.

Sutikno sudah meminta bantuan pemerintah kabupaten dan provinsi. Namun, menurut anggota staf dua tingkat pemerintah itu, masalah ini merupakan kewenangan pemerintah pusat.

Hari Jumat lalu tanda-tanda pasang sudah menunjukkan gejala. ”Hari Jumat malam air laut sudah sampai depan masjid,” kata Agus. Padahal, Masjid Baitul Ma’mun terletak sekitar 10 meter dari bibir pantai.

Kegelisahan tak hanya terjadi di Candikusuma. Masyarakat yang tinggal di pesisir pantai kabupaten lain mengalami kegalauan sama. Gede Alit Arnyana (54), pendiri dan pemangku Pura Campuan Windu Segara di pesisir Pantai Padanggalak, Denpasar, sangat resah. Tahun 2003, abrasi merobohkan pura itu.

Siang itu Gede Alit memperbaiki tanggul pemecah pantai di depan pura yang ujungnya sudah hancur berantakan terkena ombak.

Dana untuk memperbaiki pemecah ombak merupakan dana swadaya yang dikumpulkan dari pengunjung pura. Namun, dana itu belum cukup untuk memperbaiki semua kerusakan akibat abrasi, seperti dinding sisi timur pura yang roboh.

Sekadar proyek

Abrasi makin dahsyat menggerus Bali. Berdasarkan citra satelit 2009, panjang pantai di Bali yang tergerus abrasi adalah 181,7 kilometer dari total panjang pantai di Bali 437,7 km. Berdasarkan data Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali, setidaknya 48 pantai di Bali terabrasi.

Untuk mengatasinya tidak bisa diserahkan kepada masyarakat. Pemerintah perlu membuat perencanaan komprehensif dan melibatkan para pemangku kepentingan.

Menurut Ngurah Karyadi, Direktur Eksekutif Walhi Bali Institute, pengelolaan abrasi terpadu penting karena banyak masyarakat, termasuk pengusaha, berinisiatif menangani abrasi. Namun, karena tidak terintegrasi, masyarakat hanya bisa mengamankan pantai di daerahnya, tetapi memindahkan arus dan gelombang laut ke daerah lain.

Pemerintah perlu membuat solusi tuntas, seperti dikatakan Guru Besar Tata Ruang Universitas Udayana Prof Nyoman Gelebet, sehingga project multiyears pemerintah tidak menjadi proyek yang tak pernah selesai dan menghabiskan uang rakyat.

Gelebet yang puluhan tahun mengamati abrasi di Bali punya tawaran solusi, antara lain membongkar urukan yang menyambung pulau Nusa Dua Selatan dan Nusa Dua Utara agar tanah timbul di Pantai Nusa Dua Selatan dapat bermigrasi alamiah ke Pantai Nusa Dua Utara yang terancam abrasi.

Solusi untuk abrasi ganas di pantai Kuta adalah mengembalikan Semenanjung Bandara. Kalau tidak sanggup dilakukan karena biaya besar, perlu dibuat terowongan di pangkal semenanjung untuk sirkulasi migrasi pasir selatan ke utara. Sejumlah reklamasi yang menimbulkan abrasi pun harus ditata ulang.

Manakala masyarakat sudah berupaya dan tidak berdaya, sudah semestinya pemerintah mengerahkan segala upaya.

(Sutta Dharmasaputra)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: