Kesehatan Masyarakat Juga Terkena Dampak

Kompas, 2010-07-22 / Halaman 1

Pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim tidak hanya berdampak terhadap bidang pertanian atau kelautan, tetapi juga secara tidak langsung berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

Meningkatnya suhu, kelembaban, dan kecepatan angin dapat meningkatkan populasi, memperpanjang umur, dan memperluas penyebaran vektor sehingga berdampak terhadap peningkatan kasus penyakit menular. Vektor adalah hewan penular penyakit (misalnya nyamuk, tikus, dan babi).

Ketua Departemen Kesehatan Lingkungan Universitas Indonesia Budi Haryanto awal pekan ini di Jakarta mengungkapkan, perubahan iklim akibat pemanasan global dapat berdampak langsung, seperti mengakibatkan gelombang panas, banjir, dan bencana alam lain.

Namun, ada pula dampak pemanasan global yang bersifat tidak langsung, seperti penyakit infeksi, noninfeksi, dan malnutrisi.

Budi mencontohkan, salah satu penyakit infeksi yang berpotensi meningkat ialah demam berdarah dengue (DBD) yang disebabkan virus dengue.

Intensitas curah hujan yang meningkat akibat meningkatnya temperatur udara berakibat pada semakin banyaknya volume genangan air. Padahal, genangan air merupakan tempat ideal berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti yang berfungsi sebagai penyebar virus dengue. Virus dengue adalah penyebab penyakit DBD. Semakin banyak tempat berkembang biak nyamuk, bertambah banyak pula jumlah nyamuk.

Perpendek siklus

Perubahan temperatur juga memperpendek siklus hidup nyamuk dari telur hingga usia dewasa dan bertelur lagi.

Dahulu, siklus dari jentik menjadi nyamuk dewasa berkisar 10-12 hari. Namun, ada temuan, siklus hidup nyamuk kini menjadi sekitar 7 hari sehingga produksi nyamuk lebih cepat.

Frekuensi nyamuk dewasa betina menggigit juga lebih sering sehingga lebih banyak orang yang tergigit. ”Akibatnya, risiko orang tertular menjadi lebih besar dan hal ini akan memengaruhi aktivitas manusia,” ujar Budi.

Sejauh ini belum ada penelitian yang membuktikan keterkaitan langsung antara perubahan pola penyakit dan perubahan iklim. Namun, telah ada peningkatan kasus penyakit tertentu, seperti DBD.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, pada tahun 2008 tercatat 137.469 kasus DBD, dengan korban meninggal 1.187 jiwa. Sepanjang tahun 2009 jumlah kasus DBD naik menjadi 154.855 kasus, dengan 1.384 meninggal.

Tiga level adaptasi

Untuk beradaptasi atas berbagai dampak perubahan iklim terhadap kesehatan, Budi mengatakan, setidaknya ada tiga level adaptasi, yakni pencegahan primer, sekunder, dan tersier.

Langkah tepat untuk mengatasi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan lebih cocok bersifat adaptasi ketimbang mitigasi. Langkah adaptasi bertujuan mengurangi risiko, sementara mitigasi mengurangi emisi karbon untuk memperlambat laju pemanasan global.

Adaptasi di level primer yang bisa dilakukan adalah mengurangi potensi terjadinya dampak sejak dari sumbernya. Pada kasus DBD, misalnya, dengan memberantas jentik dan sarang nyamuk. Di level sekunder, dengan mengendalikan kasus agar tidak meningkat dan menyebar. Di level tersier, dengan mencegah kefatalan penyakit korban atau penderita.

Untuk semua langkah itu dibutuhkan kesiapan, baik dari segi ketersediaan tenaga kesehatan

berkualitas, ketersediaan obat, akses pelayanan kesehatan, maupun prosedur penatalaksanaan yang baik. ”Penyediaan tenaga dan pelayanan kesehatan sangat penting ketika terjadi kejadian luar biasa,” lanjut Budi.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia Prijo Sidipratomo mengatakan, kalangan dokter telah mendengar isu perubahan iklim dan kemungkinan perubahan tren penyakit di masyarakat. Namun, tidak diketahui benar kedalaman pemahaman tersebut.

Dia mengatakan, di negara berkembang seperti Indonesia, dampak perubahan iklim tentu lebih parah karena sumber dayanya serba terbatas. Guna beradaptasi dengan berbagai masalah kesehatan akibat perubahan iklim, pemerataan jumlah tenaga kesehatan, peningkatan kualitas layanan kesehatan, dan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan semakin mendesak.

”Jika itu semua sudah terpenuhi dan ada jaminan terhadap kesehatan masyarakat dari pemerintah, berbagai masalah, termasuk dampak perubahan iklim, dapat diantisipasi dengan baik,” ujarnya.

Hasil analisis perubahan iklim terhadap bidang kesehatan oleh Dewan Nasional Perubahan Iklim dan Kementerian Lingkungan Hidup menyebutkan, cuaca dan iklim berpengaruh pada patogenesis (asal dan perkembangan penyakit) bermacam penyakit dengan cara yang berbeda satu sama lain.

Perubahan iklim juga meningkatkan kemungkinan timbulnya penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, seperti malaria, radang otak akibat west nile virus, filariasis, japaneses encephalitis, dan DBD. (INE)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: